yogyakarta, yogya, jogja, diy, sultan, hamengku buwono, prambanan, budaya, borobudur, mataram, desa budaya, seni, fky,
c
Sunday, 9 January 2011
Bambang Paningrom
Wednesday, 15 April 2009
Kanjeng Raden Tumenggung Jayadipura
Sudharso Pringgobroto
Sebagai seorang yang berdarah seni Sudharso mulai belajar menari pada tahun 1937 pada organisasi tari Jawa Kridha Beksa Wirama di bawah asuhan GBH Tedjokusumo. Disamping itu, juga belajar menari dan menabuh gamelan di Dalem Purwonegaran di bawah asuhan K.R.T. Purwonegara. Selain itu, ia belajar tari pada guru-guru antara lain : BPH. Suryodiningrat, K.R.T Soeryomurtjito dan Bapak Suyadi Hadisuwanto.
Sudharso duduk sebagai Formatur Dewan Ahli dalam perencanaan berdirinya organisasi Irama Tjitra dan sebagai pengajar ketika organisasi telah berdiri. Disamping itu, juga mengajar tari diperguruan Taman Siswa dan karya-karya tari yang telah diciptakan antara lain : Tari Sari Mawur ( putri), tari serimpi, tari sayungan, dan beksan Enjeran. Karya yang berbentuk bedayan antara lain: Bedaya Dewa Ruci ( 1951), Bedaya Revolusi dan Bedaya berdirinya Taman Siswa. Sedangkan yang berbentuk drama tari antara lain : Cerita Panji Djayalengkara (1952). Sendratari Gandakusuma, sendratari Guru gantangan, Sendra tari Gading Pawukir dan sebagainya. Kesemuanya itu diciptkan semasa berdirinya organisasi tari Irama Tjitra.
Raden Wedono Larassumbogo
Pada tahun 1904 oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VII, RW. Larassumbogo diangkat menjadi Abdi Dalem Jajar Wiyogo . Tahun 1910 diangkat menjadi Bekel Enem. Tahun 1918 naik pangkat menjadi Bekel Sepuh oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VII pada tahun 1923 R.B Larassumbaga diangkat menjadi lurah dengan nama gelar Raden Lurah Larassumbogo dan akhirnya oleh Sri Sultan Hamengku Buwana IX diangkat menjadi wedono dengan nama dan gelar Raden Wedono Larassumbogo hingga meninggal dunia pada tanggal 10 Oktober 1958.
Ketika tahun 1917 di Yogyakarta berdiri perkumpulan ” Dwi Sawara”, R.W. Larassumbogo menjadi pemimpinnya. Selain Itu, ia pernah berkecimpung dalam perkumpulan karawitan seperti Doyo Pradonggo, Mudhoraras, Hadibudoyo, dan lain-lain. Keistimewaan R.W Larassumbogo selain menguasai setiap instrumen Jawa juga mahir memainkan gambang, bonang dan gender. Gendhing gendhing ciptaanya kurang lebih 35 macam diantaranya gending Ngeksi Gondo, Windu Haji, Teguh Jiwo, atau Tek Dhug. Disamping RW. Larassumbogo pernah membuat buku gendhing dan dikeluarkan oleh percetakan Kolf Jakarta.
Wednesday, 11 March 2009
G.B.P.H. Suryobrongto
G.B.P.H. Suryobrongto. Putra Sri Sultan Hamengku Buwana VIII, lahir tanggal 11 Nopember 1914 dan menamatkan pendidikan AMS jurusan Sastra Timur tahun 1936. Beliau belajar menari sejak kecil dan terus mendalami tari hingga dewasa. Dalam pagelaran-pagelaran wayang wong di Kraton beliau pernah berperan sebagai Pathut Guritno, Bathara Bromo, dan R. Gathotkoco, dalam Beksan Lawung bertindak sebagai lurah.
Secara khusus beliau berguru tari kepada G.P.H Tedjokusumo, K.R.T Condrodiningrat, RM. Dutodiprojo, K.R.T. Padmodiningrat, R.W. Hatmodijoyo dan KPH Brongtodiningrat. Beliau pernah menjabat sebagai sekretaris pribadi Sri Sultan Hamengku Buwana IX, aktif ikut serta mengembangkan tari klasik
Suryobrongto secara khusus juga menekuni filsafat Joged Mataram. Karya-karya tulis di bidang tari antara lain : Tari Klasik Gaya
K.P.H Brongtodiningrat
KPH Brongtodiningrat. Lahir tanggal 20 Oktober 1989. Dan menamatkan Sekolah Dasar tahun 1908. Masuk menjadi abdi dalem jajar punokawan kadipaten tahun 1910, sambil kursus privat Bahasa Belanda di Dalem Ngadikusuman. Pada tahun 1915 menjadi bekel, tahun 1917 menjadi Bupati Anom Mantu Dalem. Kemudian diperuntukkan kantor Kepatihan hingga tahun 1922 beliau menjadi sekretaris Sri Sultan Hamengku Buwana VIII. Karier sebagai guru tari di mulai sejak 1934 di Kraton Yogyakarta. Beberapa pagelaran tari yang pernah diikuti antara lain : Turut serta dalam Pagelaran Lagendria Golek di Mangkubumen, pergelaran Langen Mandra Wanara di Dalem Sosrodipuran, juga Bedoyo, Serimpi dan Tari Golek, di Kraton Yogyakarta. Menjadi beksan Eteng yang dipagelarkan di Surakarta pada tahun 1914, dan pada tahun 1916 menjadi penari golek di Puro Mangkunegaran.
Sebagai guru tari beliau menyusun tari yang diberi nama : Dwi Tunggal di samping ikut membuat ragam tari Bedhoyo Sangas Koro dan ragam tari golek menak. Menyusun naskah cerita Golek Menak dan fragmen senggono duta serta menyusun cara-cara memberikan pelajaran dan cara membetulkan patrap-patrap tari klasik gaya Yogyakarta.
Bebarapa karya tulis yang pernah dibukukan antara lain : Wulang Beksa Budaya, Filsafat Budoyo lan Srimpi, Joged Mataram, Joged Bedoyo Kraton, Tata rakit adalah suwaosipun Kraton Ngayogyakarta, Boso Kedhaton ( Bagong-an), Riwayatipun Ki Ageng Giring, Waosan Kojar Sakolo. Beberapa peranan tari yang pernah diperankan di Kraton Yogyakarta antara lain : R.Janoko, R. Sri Suwela, Mintorogo.R. Ongkowijiyo, dan lain-lain.
Kanjeng Raden Tumenggung Purbaningrat
Pada waktu Sri Sultan Hamengku Buwana VII menyelenggarakan wayang orang di Kraton dengan cerita Joyo Semedi, K.R.T Purbaningrat berperan sebagai sebagai Prabu Sri Suwelo. Dalam Cerita Pregiwo-Pregiwati memerankan Prabu Bethoro Kresno.
Beliau menciptakan Tari Bedhoyo Putri dengan tembang dan gendhingnya : 1) Bedhoyo Kuwung-kuwung, 2) Bedhoyo Sapto 3) Bedhoyo Sangaskoro( Bedhoyo Penganten).
Selain itu diciptakan : Bekso Golek Putri dengan gendhing Lambang sari, Bekso Kethek, Cantrik, Klono, Raja Rasekso, dan lain-lain.
Gendhing-gendhing ciptaannya antara lain : Prabu Utomo, Prabu Dewo, Prabu Manukmo, Prabu Wibowo, Madumurti, dan lain lain. Jabatan terakhir beliau adalah abdi dalem Bupati Nayoko Bekel Wedono Bumijo Pembesar II K.H.P Yogyakarta. K.R.T Wiroguno meninggal pada tanggal 13 Juli 1949 dan dimakamkan di Pesantren Hastorenggo Kota Gede Yogyakarta.
B.P.H. Tedjokusumo
Kanjeng Raden Tumenggung Wiroguno
Kanjeng Raden Tumenggung Wiroguno. Putra dari KGPA Mangkubumi dan RAY. Tejomurti ini dilahirkan pada tanggal 3 Nopember 1876 di Yogyakarta. Beliau ,mempunyai kegemaran melukis dengan cat air dan cat minyak. Beberapa lukisannya terpancang di Kraton Yogyakarta.
K.R.T Wiroguno menjabat Bupati Patih Kadipaten Yogyakarta termasuk empu gendhing yang unggul. Disamping itu beliau masih melanjutkan membina corak pagelaran tari ciptaan ayahnya , Pangeran Mangkubumi, yaitu Langendriya. Beliau juga menciptakan dan mengembangkan tari golek putri, ikut serta membina Perkumpulan Tari Krida Beksa Wirama dan aktif membina penyiaran gendhing-gendhing atau seni suara melalui siaran radio pada masa itu.
Hasil Karya K.R.T Wiroguno antara lain : 1) menyusun teori dan pedoman seni gendhing dan suara gaya Mataraman, 2) menciptakan notasi gendhing gaya Mataraman dengan not balok, 3) menyusun suatu lokasi gendhing-gendhing Mataram dalam suatu buku tulisan tangan mulai tahun 1919, 4) mencipta dan menggubah tidak kurang dari 100 buah gendhing, baik gendhing Ageng maupun gendhing alit.
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi dalem Kraton sebagai Jajar Prajurit Wirabraja hingga menjadi Bupati Anom yang berkantor di KHP. Kridomardowo Kraton Yogyakarta. Dalam membantu usaha pemerintah,beliau menjadi guru di IKIP Jurusan Bahasa Jawa Bagian Kesenian, Guru karawitan di SGA, guru Konservatori Tari Indonesia dan Guru ASTI. Karirnya dimulai tahun 1922 sebagai pesindhen budaya atas perintah Sultan Hamengku Buwana VIII.
Hasil karyanya antara lain : 1) membuat cakepan (syair) Lagon-kakawin, ada-ada untuk wayang orang di Kraton, 2) Cakepan (syair) Pasindhen Bedhayan, Srimpi, Golek dan lain-lain, 3) mencipta tembang antara lain : Pujaretna, Garjita Sapada, Conrobasengkara, Candrawisalasita, danlain-lain : 4) mencipta gendhing antara lain : Tunggal Jiwa, Sri Hasta, Srinawa, Pandayarasa, Sari Mulat, Ngestitama, Sidomurti, dan lain-lain.
K.R.T. Madukusumo seorang ahli karawitan dan pedhalangan gaya Yogyakarta. Sebagai seniman dan pengarang, beliau pernah menjadi direktur dhalang Habirandha dan menjadi yuri dalam perlombaan tembang dan gendhing ( Karawitan )
B.P.H. Suryodiningrat
B.P.H. Suryodiningrat. Putra Sri Sultan Hamengku Buwana VII ini dilahirkan dari ibunda BRA Retno Juwito, seorang penari bedoyo, Pangeran Suryodiningrat seorang otodidak, tekun belajar bahasa asing, psikologi, pendidikan politik, karena didorong oleh kesadaran kemajuan zaman agar tidak tertinggal oleh putera-putera yang bersekolah. Atas penguasaan bahasa Belandanya, ia diangkat menjadi ambtenar controleur van agrorische zaken. dengan gaji 500 gulden/bulan, disamping gaji pangeran Kraton sebesar 1000 gulden dan honor karya tulisnya dipelbagai majalah dan surat kabar. Banyak menyekolahkan kemenakan dan kerabat serta anak-anak desa. Ia pernah memimpin organisasi perjuangan rakyat desa Pakempulan Kawula Ngayogyakarta(PKN) sejah tahun 1930 hingga tahun 1960.
Memperoleh didikan menari di Kraton sejak kanak-kanak dalam tari Bedoyo, lalu alusan dengan peran irawan, Bekso Luwung, kemudian peran Kambeng Dewo Pertolo. Bersama G.B.H Tedjokusumo mendirikan Kridha Beksa Wirama pada tanggal 17 Agustus 1918. Pada seputar tahun 1926 Pangeran Suryodiningrat mendirikan Pamulangan Pedhalangan Habirandha, dan membuat patokan pewayangan gaya Yogyakarta.
Pada tahun 1925-an mulai mensubsidi dan mengembangkan tari-tari topeng karena menghawatirkan kepunahan tari topeng rakyat di zaman malaise perang dunia pertama. Tari Topeng kemudian banyak dipagelarkan dengan lakon-lakon panji dan sejarah Jenggala dan Kediri, bahkan penampilan topeng tar-tar, sebagai suatu adengan dizaman Kertanegara. Beliau juga merintis memecahkan larangan putri-putri kalangan atas belajar menari. Yang pada zamannya dianggap merendahkan martabat wanita karena pencemaran tledek, dengan jalan mendidik putri-putrinya sendiri menari dan mementaskannya.
Dalam perjuangan politik peranannya cukup besar antara lain : memimpin rakyat pedesaan, berhasil mengayomi rakyat kecil pedesaan, mendidik pemberantasan buta huruf. Berhasil mengangkat rakyat yang dipimpinnya menduduki kursi pemerintahan, serta perwakilan di MPRS, Parlemen, Konstituante, Badan Pemerintah Harian, DPRD. Karena Ketokohannya dalam seni budaya, ia menerima piagam penghargaan seni Wijaya Kusuma dari Pemerintah Republik Indonesia.
Kanjeng Raden Tumenggung Wironegoro
Kanjeng Raden Tumenggung Wironegoro. Seorang seniman tari dan pencipta gendhing. Lahir pada tanggal 29 Juni 1884, ia masuk menjadi abdi Kraton tahun 1889 dan memulai karier dalam bidang kesenian khususnya Karawitan dan tari. Mulai tahun 1918 mencipta gending antara lain : Gending Patra Manggala( Sekar Ageng Pewlog Bem Kendhangan Ketawang), Gendhing Jiwa Retna, Candra Mengeng, Sastra Menggala dan puluhan gendhing lainnya. Pada waktu menjadi guru tari dan ikut mengajar di Kridho Beksa Wirama, ia telah menciptakan cara latihan tari dengan mempergunakan hitungan satu, dua, tiga, empat yang sekarang menjadi pedoman pelajaran tari, Pada waktu itu masih berpangkat wedana dengan pangkat RW. Suryomurtjito. Tidak kurang dari 30 buah gendhing yang telah diciptakan selama menjadi abdi kraton.
K.R.T. Wironegoro meninggal pada bulan Januari 1964. Jabatan pernah dipegangnya adalah abdi dalem Bupati Anom Yogyakarta, wakil pembesar kelurahan Pangeran Hangabean, dan ketua Bebadan Among Beksa Kraton. Karena sumbangannya yang begitu besar pada kesenian, pada tahun 1978 ia menerima anugerah seni di Bidang Karawitan dari Pemerintah Republik Indonesia
KPAA Danurejo VII atau KPH Tjokrodiningrat
KPAA Danurejo VII atau KPH Tjokordiningrat, seniman yang pertama kali mengadakan pertunjukan wayang wong di luar Kraton Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwana VII penyelenggaraan pergelaran wayang wong di luar kraton tidak mudah seperti sekarang ini. Itulah sebabnya KPH Tjokrodiningrat mencari akal supaya dapat mementaskan wayang wong di luar Kraton, tetapi tidak menyamai wayang wong di dalam Kraton. Karena itu diciptakan Langen Mandra Wanara dimana semua tarian-tarian dilakukan dengan jongkok dan dialognya dengan tembang. Ternyata dengan terciptanya ” Langen Mandra Wanara ” dapat mengobati rakyat yang telah lama menunggu dan haus akan wayang wong asli di luar benteng kraton . Maka tiap-tiap latihan, rakyat dari segala penjuru kasultanan berduyun-duyun membanjiri halaman halaman Yudonegaran untuk menyaksikannya. Lebih-lebih jika ada ” Langen Mandara Wanara ” untuk setiap keperluan dimana para pemain berpakaian wayang lengkap dengan segala alat-alatnya, rakyat antusias menyaksikannya.
Tetapi sayang sekali bahwa pagelaran Langen Mandra Wanara ini membutuhkan biaya yang besar sehingga setelah beliau wafat tahun 1933, pergelaran Langen Mandra Wanara hampir tidak ada lagi. Hasil karya seni yang telah beliau ciptakan yaitu: a) Langen Mandra Wanara lengkap dengan gending-gendingnya, dialog atau tembang dan cakepannya ( syairnya), b) pencipta gamelan dimana bagian dibagian saron dibuat dari pecahan atau potongan gelas, yang terkenal dimana ” Gamelan Beling.”