c

Showing posts with label museum. Show all posts
Showing posts with label museum. Show all posts

Saturday, 27 February 2010

MUSEUM GUMUK PASIR

Museum ini diberi nama Museum Gumuk Pasir dengan dasar bahwa kawasan Parangtritis memiliki gumuk pasir tipe Barchan berbentuk bulan sabit yang langka di Asia Tenggara dan merupakan bentukan alam yang unik di daerah iklim tropis. Museum yang terletak di sebelah barat Pantai Parangtritis dan Parangkusumo ini berdiri secara resmi pada tabggal 1 September 2000 dan diresmikan oleh Ir. Sarwono Kusumaatmaja bertepatan dengan Ulang Tahun ke 37 Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Walaupun demikian, hingga akhir Oktober 2004, museum yang terletak di pantai selatan Yogyakarta ini belum selesai dibangun sehingga mayoritas koleksi masih berada di Fakultas Geografi UGM. Sementara cikal bakal museum sudah dimulai tahun 1992 atas prakarsa Dr. Suratman Worosuprojo, M.Sc, dosen pengajar di fakultas tersebut.

Museum yang berada di tengeh-tengah Gumuk Pasir ini termasuk sesuai dengan namanya banyak mengkoleksi banyak jenis batuan-batuan, mineral, herbarium, Pantai Parangtritis, (Laquer Feel), foto, maket, jenis pasir, karang, binatang laut, dan CD tipologi pantai indonesia. Museum yang termasuk paling muda menjadi anggota Barahmus ini belum banyak memiliki fasilitas yang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung kecuali : tempat parkir, toilet, dan tempat rekreasi berupa gumuk dan pantai. Telepon yang dapat diakses adalah (0274) 902332, 902336, dan HP. 08122966075.

MUSEUM RUMAH SAKIT DR. YAP

Museum yang terletak di Jalan Cik Ditiro 5 ini diresmikan tahun 1997 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Saat ini koleksi masih berada di ruang gudang dan belum tertata rapi sehingga belum siap melayani pengunjung umum. koleksi museum sebagian besar berupa peninggalan almarhum Dr. Yap Hong Tjoen dan Dr. Yap Kie Tiong, pendiri Rumah Sakit Mata “Dr. Yap” Yogyakarta.

Sebagian besar koleksi berubungan dengan peralatan kedokteran bagian mata, peralatan rumah tangga, foto, lukisan, buku, benda elektronik yang berjumlah lebih dari 900 buah. Lukisan Dr. Yap Hong Tjoen merupakan koleksi unggulan. Museum ini juga mempunyai koleksi berupa piring sebagai penghargaan dari Kedaulatan Rakyat saat merayakan HUT-nya ke 10 yang diberikan kepada Dr. Yap atas jasanya memberikan nama surat kabar harian berjudul “ Kedaulatan Rakyat”.

Fasilitas yang ada di museum ini antara lain : Rs Mata “Dr. Yap”, mushola, tempat parkir, perpustakaan, kantin, wartel dan toilet. Telepon yang dapat diakses adalah : (0274) 547448, 550380, 562054.

MUSEUM GEMBIROLOKO

Ide pertama kali mendirikan Gembiro Loko (tempat bersenang-senang) muncul pada tahun 1993. Namun karena banyak kendala, baru tahun 1953 Yayasan Kebun Raya dan Gembro Loko yang bertugas merealisasikan Gembiroloko dapat didirikan Pada tahun 1955. Dilakukan peletakan batu pertama oleh Sri Paku Alam VIII. Pembangunan terus berlangsung hingga tahun 1959 sampai dengan 1975, dan Gembiro Loko dinyatakan mandiri.

Museum Gembiro Loko termasuk salah satu museum di Yogyakarta yang koleksinya paling lengkap terdiri dari jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan hidup dan mati. Koleksi tumbuhan tidak kurang dari 60 spesies tanaman langka, seperti miri hutan, kepel, randu alas, keben, siperes dan lain-lain. Sementara spesies hewan yang dimiliki Gembiroloko berjumlah tidak kurang dari 311 jenis, seperti : harimau, kuda nil, jerapah, anoa, gajah, buaya, dll.

Gembiro Loko memiliki banyak fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung dan masyarakat umum, seperti unta tunggang, gajah tunggang, perahu mesin, kantin, becak air, kereta mini, mushola, tempat parkir, toilet, informasi, tempat istirahat, wartel, kantin, pusat oleh-oleh, dll. Telepon yang dapat diakses adalah (0274) 373861,374792 dan fax. 384666.

MUSEUM KAYU WANAGAMA

Museum ini berdiri atas ide staf dosen Fakultas Universitas Gajah Mada Prof. Dr. Ir. Hj. Oemi Hani’in Soeseno dan Ir. Etty Suliantoro Sulaiman bersama Perum Perhutani setelah mengikuti Pameran Museum Antropologis di Perancis dan pendirian Jati Centre di Cepu dalam rangka lebih mengekspresikan kayu. Selanjutnya ditindaklanjuti dengan pendirian bangunan museum tahun 1995 di kawasan hutan pendidikan Wanagama. Bahan baku bangunan museum berupa dua buah rumah kayu buatan tahun 1880 sumbangan dari Perum Perhutani yang dirombak menjadi satu bangunan dalam bentuk rumah panggung.

Museum ini diresmikan pada tanggal 8 Agustus 1998 oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Menteri Kehutanan RI. Ir. Muslimin Nasution.

Bangunan Museum Kayu Wanagama berbentuk rumah panggung. Bahan material bangunan dari tanah hingga lantai merupakan konstruksi beton, lantai dan dinding dari bahan kayu, sedang atap dari genteng tanah.

Koleksi museum antara lain : meja lurah dari Jepara, Arca Gupolo dari kayu sengon, meja dan kursi mantan Menteri Kehutanan RI Ir. Sudjarwo, gebyok kayu jati berukir khas Jepara, fosil kayu jati yang berumur ratusan tahun, serta aneka macam barang kerajinan kayu dari berbagai daerah di Indonesia.

Fasilitas yang mendukung museum : warung makan khas Wanagama, Pasar Seni, Agroforestry, berbagai jenis pertamanan percobaan (jati monfori, nangka, perupuk, acacia, dan lain-lain), Camping Ground ( areal perkemahan), kelas 4 ruang, asrama, dan gedung serba guna. Telepon yang bisa diakses adalah (0274) 545639.

MUSEUM RUMAH BUDAYA JAWA TEMBI

Museum diresmikan pada bulan Nopember 1999 bersamaan dengan peluncuran buku Ensiklopedi Kebudayaan Jawa. Museum ini berada di bawah Yayasan Rumah Budaya Tembi yang cikal bakalnya diresmikan pada tahun 1995 dengan nama Lembaga Studi Jawa. Inisiatif munculnya museum ini berasal dari ketua yayasan yang merasa prihatin terhadap generasi muda yang sudah mulai lupa dan tidak peduli terhadap kebudayaan Jawa.

Museum ini memiliki koleksi sebanyak 1.200 buah yang terdiri dari siklus hidup dan peralatan tradisional masyarakat Jawa seperti : pertanian, perikanan, dolanan anak, rumah tangga, senjata, foto, peralatan sirkus hidup, gamelan, wayang, vcd pertunjukan tradisional, buku, majalah, dan naskah.

Museum yang terletak di tengah sawah di Dusun Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul ini dilengkjapi dengan pendopo, seperangkat gamelan slendro pelog, tempat parkir, galeri, mushola, dan perpustakaan. Museum ini juga menerbitkan majalah “Tembi” dua bulan sekali dan setiap minggu diakses di internet dengan web: www.tembi.org. Telepon yang dapat diakses (0274) 368001 368000.

MUSEUM SENI LUKIS KONTEMPORER INDONESIA (SLKI) NYOMAN GUNARSA

Museum Seni Lukis Kontemporer Indonesia (SLKI) Nyoman Gunarsa dibangun atas prakarsa Nyoman Gunarsa. Pembangunan gedung museum dimulai pada tahun 1987 dan diresmikan pada tanggal 31 Maret oleh KGPAA Paku Alam VIII dan Clare Wolfowitz isteri duta besar Amerika untuk Indonesia.

Bangunan yang semula merupakan tempat tinggal Nyoman Gunarsa ini berdiri di atas tanah seluas 1000 m2 dan terdiri dari dua bangunan bercorak tradisional dengan kombinasi modern.

Koleksi museum berupa lukisan pribadi Nyoman Gunarsa yang dikumpulkan dari berbagai pelukis yang mampu untuk mewakili waktu dari karya lukis itu dibuat koleksi yang terkupul kurang lebih 500 karya lukis.

Perlu diketahui bahwa saat ini Nyoman Gunarsa sedang mengembangkan museumnya di Klungkung Bali. Telpon yang bisa di Akses adalah (0274) 564330.

MUSEUM SONOBUDOYO UNIT II DALEM CONDROKIRANAN

Museum Sonobudoyo Unit II Dalem Condrokiranan Yogyakarta diresmikan pada tanggal 28 Oktober 1998 oleh Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Museum ini merupakan perluasan ruang pameran Museum Sonobudoyo yang terletak di jalan Trikora Nomor 6 Yogyakarta.

Perluasan ruang pameran ini menempati lokasi di Kompleks Dalem Condrokiranan yang terletak di Jalan Wijilan Yogyakarta. Semula Dalem Condrokiranan merupakan tempat tinggal Adipati Anom Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mataram yang kemudian bergelar Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III. Selanjutnya “dalem“ atau rumah itu menjadi milik Gusti Pangeran Wijil yang mempunyai putra bernama Kanjeng Raden Tumenggung Wijil yang mewarisi rumah tersebut. KRT Wijil merupakan menantu dari Ng.D.S.D.I.S. Kanjeng Sultan Hamengku Buwono VII dari putri yang bernama Kanjeng Ratu Dewi.

Putri itu menjadi terkenal karena beliau adalah pendiri Gerakan Wanita Utama. Dalem Wijilan kemudian diambil alih oleh Ng.D.DS.D.I.S Kanjeng Sultan Hamengku Buwono VII diganti dengan Dalem Yudonegaran (bekas rumah Bendoro Pangeran Haryo Yudonegoro) selanjutnya Dalem Wijilan diberikan kepada putranya yang bernama Bendoro Pangeran Haryo Joyowinoto. Selanjutnya oleh Bendoro Pangeran Haryo Joyowinoto rumah itu dijual kepada Gusti Kanjeng Condrokirono istri K.P.H Danurejo VIII Patih Yogyakarta yang terakhir, sehingga dikenal dengan sebutan Dalem Condrokiranan.

Penduduk sering juga menyebutnya Dalem Harjokusuman, sesuai dengan nama pemiliknya KRT. Harjokusumo atau Patih Danurejo VIII. Kemudian oleh GKR. Condro Kirono rumah itu dijual kepada bapak Suwondo dan diwariskan kepada putra-putrinya.

Akhirnya rumah itu dibeli oleh pemerintah dan dijadikan museum yang diberi nama Museum Sonobudoyo Unit II Dalem Condrokiranan yang pengelolanya berada di bawah naungan Museum Sonobudoyo Unit I.

Wujud koleksi Museum Sonobudoyo Unit II Dalem Condrokiranan merupakan visualisasi etnografi Daerah Istimewa Yogyakarta. Fasilitas lain yang mendukung Museum diantaranya : gedung pertemuan, musola, tempat parkir. Telepon yang dapat diakses adalah (0274) 373617

MUSEUM LUKIS AFANDI

Museum yang terletak di Jalan Laksda Adisucipto 167 ini memiliki 3 gedung ruang pameran. Pada tahun 1962 Affandi membangun gedung ruang pameran pertama untuk memamerkan karya-karyanya. Pada tahun 1974 diresmikan oleh Dirjen Kebudayaan Prof. Ida Bagus Mantra. Ruang pameran kedua dibangun atas bantuan pemerintah tahun 1987 dan diresmikan tanggal 9 juni 1988 oleh Mendikbud Prof Fuad Hasan. Sementara pameran yang ke tiga dibangun oleh Yayasan Affandi tahun 1997 dan diresmikan tanggal 18 Mei 2000 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Konsep dan Desain bangunan yang menyerupai lembaran daun pisang dibuat sendiri oleh Affandi yang terinspirasi dari pengalaman masa kecilnya.

Affandi yang mendapat julukan “Pelukis Maestro” tingkat dunia mempunyai koleksi sebagian besar berupa lukisan kertas, cat air, pastel, dan cat minyak sejumlah sekitar 300 (tiga ratus) buah. Affandi juga mengkoleksi lukisan karya teman-teman seprofesinya seperti: lukisan Sudjoyono, Hendra Gunawan, Barli, Muchtar Apin, Popo Iskandar, dan lain-lain. Koleksi lain museum Affandi adalah mobil sedan Mitsubisi Gallant tahun 1975, sepeda Reliegh tahun 1975, lukisan keluarga milik Maryati, Kartika, Rukmini, Juki Affandi, dan sebagainya.

Museum Affandi memiliki beberapa fasilitas antara lain : galeri, sanggar, kolam renang, kafe, perpustakaan, toko souvenir, tempat parkir, dan toilet. Telepon yang dapat diakses (0274) 562593.

MUSEUM PURO PAKU ALAMAN

Atas persetujuan Sri Paku Alam ke VIII, museum yang ada di bawah naungan Bebadan Museum Puro Paku Alaman ini, pada tahun 1981 mulai berbenah diri setelah pemerintah melalui Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Daerah istimewa Yogyakarta memberikan bantuan tenaga konsultan dengan maksud agar museum dapat melaksanakan Inventarisasi dan Katalogisasi benda-benda budaya milik istana Puro Paku Alam yang telah terkumpul di museum.

Museum Puro Paku Alam merupakan museum bercorak khusus yang hanya menggambarkan budaya dan sistem pemerintahan Praja Paku Alaman .

Museum Puro Paku Alaman menempati tiga ruangan di dalam kompleks Puro Paku Alaman di bagian sayap muka sebelah timur. Untuk menuju museum melewati pintu gerbang yang disebut Regol Wiwara Kusuma. Pada bagian atasnya berhiaskan lambang mahkota Praja Paku Alaman, lunglungan tanaman dan angka tahun pembuatannya tanggal 7 Agustus 1884 pada pemerintahan Sri Paku Alam ke V. Di bawah tanggal terdapat tulisan huruf jawa : Wiwara Kusuma Winayang Reka, sebuah semboyan yang berarti Pengayom Keadilan dan Kebijaksanaan.

Koleksi museum Puro Paku Alaman terdiri dari benda-benda bersejarah berupa peralatan perang, peralatan upacara, peralatan masak, kereta-kereta yang pernah digunakan oleh penguasa Puro Paku Alaman, dan naskah-naskah kuno yang ditata di dalam 3 (tiga) ruang pameran tetap. Telepon yang dapat diakses adalah (0274) 562161.

MUSEUM MONUMEN P. DIPONEGORO SASANA WIRATAMA

Museum yang mempunyai nama lengkap Museum Monumen Pangeran Diponegoro Sasana Wiratama dan bergabung di BARAHMUS sejak tahun 1971, ini terletak di JL. HOS. Cokroaminoto TR. III/430 Tegalrejo. Ide pembangunan museum diprakarsai oleh Mayjen TNI Surono. Pada tanggal 9 Agustus 1969 museum diresmikan oleh presiden Soeharto, sekaligus sebagai monumen untuk memperinati kepahlawanan Pangeran Diponegoro atas jasanya melawan penjajahan Belanda di tanah Jawa. Lahan tempat museum ini dibangun asli peninggalan Pangeran Diponegoro di abad XIX.

Museum ini memiliki koleksi sejumlah 195 buah termasuk beberapa peninggalan artefak yang berada diluar gedung seperti tempat wudlu, comboran (tempat minum kuda), dinding berlubang (tembok jebol), dan yoni. Sebagian besar koleksi berupa peralatan perang di masa pra kemerdekaan, seperti : keris, tombak, pedang, cincin, subang, timang bedhil, tameng, bandhil, perlengkapan kuda, dan panah.

Koleksi unggulan dari museum ini adalah tembok jebol yang diyakini sebagai jalan meloloskan diri Pangeran Diponegoro dari kepungan Belanda.

Beberapa fasilitas yang dapat dipakai oleh pengunjung dan masyarakat umum, seperti : penginapan, pendopo, tempat parkir, gamelan laras Slendro & Pelog, serta toilet. Telpon yang bisa diakses adalah (0274) 622668.

MUSEUM DEWANTARA KIRTIGRIYA

Museum Dewantara Kirti Griya yang terletak di Jalan Taman Siswa 31 Yogyakarta ini diresmikan tanggal 2 Mei 1970. Pendirian museum ini atas permintaan Ki Hajar Dewantara yang dilontarkan dalam rapat pamong Tamansiswa tahun 1938 yang menginginkan tempat tinggalnya dijadikan museum untuk dikenang oleh generasi muda secara berkesinambungan.

Museum ini banyak mengkoleksi benda peninggalan Ki Hajar Dewantara. Koleksi keseluruhan sekitar 3.000. buah yang meliputi : Perabot rumah tangga, naskah, foto, koran, buku, majalah, dan surat-surat. Koleksi termuda berupa naskah syair tahun 2003 karya Koh Hwat seorang keturunan Tionghoa.

Museum ini dilengkapi dengan fasilitas antara lain pendopo, auditorium, perpustakaan, tempat parkir, toilet, dan musolla. Telepon yang bisa diakses adalah (0274) 377459 dan 377120.

MUSEUM NEGERI SONOBUDOYO

Museum Negeri Sonobudoyo terletak di Jalan Trikora No. 6 Yogyakarta berseberangan dengan Alun-alun Utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Cikal-bakal berdirinya museum ini adalah Java Institut, yaitu sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok yang didirikan di Surakarta pada tahun 1919 dengan tugas pokok kegiatannya membantu kegiatan pelestarian dan pengembangan kebudayaan pribumi (de insheemsche cultuur ) yang mencakup wilayah Jawa, Madura, Bali dan Lombok.

Tanah untuk bangunan museum merupakan hadiah dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan dimulai dengan pembangunan pendapa kecil dengan candra sengkala “Buta Ngrasa Esthining Lata” yang bermakna tahun 1865 Jawa atau tahun 1934 Masahi. Peresmian museum ini dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tanggal 6 Nopember 1935 dengan candra sengkala “ Kayu Winayang ing Brahmana Budha ” yaitu angka tahun 1866 Jawa atau tahun 1935 Masehi.

Bangunan gedung museum direncanakan oleh Ir. Th. Karsten serta pengawas dan penasehat Ir.L.J. Moens di atas tanah seluas 7.867 m2.

Koleksi museum berjumlah kurang lebih 43.263 buah, dan diklasifikasikan dam 10 jenis koleksi, yaitu : Koleksi Geologika, Koleksi Biologika, Koleksi Etnografika, Koleksi Arkeologika, Koleksi Historika, Koleksi Numesmatika / Heraldika, Koleksi Filologika, Koleksi Keramikologika, Koleksi Seni Rupa, dan Koleksi Teknologika.
Fasilitas yang mendukung antara lain : perpustakaan, gedung pertemuan, mushola, pagelaran wayang kulit durasi singkat setiap malam, tempat parkir kendaran, dan toilet. Telpon yang dapat diakses adalah (0274) 3885664 dan Fax : (0274) 385664.

Friday, 20 March 2009

museumdewantarakirtigriyasebagaiodtwbudaya1








MUSEUM
DEWANTARA KIRTI GRIYA SEBAGAI OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA BUDAYA




  1. PENDAHULUAN








Pengembangan Pariwisata di DIY dilaksanakan dengan
pembagian Propinsi DIY menjadi lima Kawasan Pengembangan Pariwisata
(KPP). Untuk KPP Kota Yogyakarta arahan pengembangannya adalah Wisata
Budaya dan Wisata Minat Khusus. Hal ini sesuai dengan potensi Kota
Yogyakarta, yaitu:




  1. 5 dari 13 Kawasan Cagar Budaya di DIY berada di Kota
    Yogyakarta



  2. 7 dari 8 tempat pertunjukan kesenian berada di Kota
    Yogyakarta



  3. 16 dari 22 museum di DIY berada di Kota Yogyakarta



Museum
merupakan sebuah lembaga yang bersifat permanen, melayani kepentingan
masyarakat dan kemajuannya, terbuka untuk umum, tidak bertujuan
mencari keuntungan yang mengumpulkan, memelihara, meneliti,
memamerkan, dan mengkomunikasikan benda-benda pembuktian material
manusia dan lingkungannya, untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan, dan
rekreasi (FFJ Schouten, PengantarDidaktik Museum,Jakarta,Proyek
Pembinaan Permuseuman, Ditjen Kebudayaaan, 1992: 3).


Kebijaksanaan
permuseuman sejak tahun 1997 dipegang oleh Dinas Kebudayaan Propinsi
DIY. Namun sebelumnya pada tahun 1971 telah berdiri Badan Musyawarah
Musea (Barahmus) DIY dan pada 28 Oktober 1998 berdiri Badan
Musyawarah Museum-Museum Indonesia (BMMI) yang telah menjadi anggota
Internasional Council of Museum (ICOM).


Museum sebagai
salah satu potensi budaya di DIY ternyata sering terabaikan oleh para
pelaku wisata dan pendapatan sektor museum menempati urutan kelima
dari tujuh sub sektor pariwisata.


PENDAPATAN
SUB SEKTOR PARIWISATA DI DIY


PADA
TAHUN 1994-1996

































































NO.



SEKTOR



1994



1995



1996



1



Pajak
pembangunan I



17%



31,9%



58,4%



2



Obyek
wisata



17,1%



17,2%



17,6%



3



Bioskop



41,7%



32,6%



14,1%



4



Pajak
tontonan



17,5%



12,6%



4,1%



5



Museum



3,6%



3,1%



3,4%



6



Atraksi



2,8%



2,5%



2,3%



7



Ijin
usaha, restribusi losmen, dan RHU



0,3%



0,3%



0,1%




Sumber: Bappeda Prop. DIY



Dengan mengetahui keadaan tersebut kami mengkaji keberadaan museum di
DIY dengan memilih Museum Dewantara Kirti Griya karena:




  1. Museum Dewantara Kirti Griya setelah mengalami
    rehabilitasi namun masih terlihat sepi.



  2. Museum yang bernilai sejarah tinggi yang bisa dikatakan
    mempunyai potensi menjadi Museum Nasional namun keberadaanya
    terabaikan.












II
KEADAAN MUSEUM SAAT INI



Museum Dewantara
Kirty Griya terletak dalam kesatuan komplek Pendopo Agung Taman Siswa
di jalan Tamansiswa, Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Kota
Yogyakarta. Pendopo tersebut oleh Majelis Luhur Tamansiswa dinyatakan
sebagai Monumen Persatuan Tamansiswa, menyatu dengan Museum Dewantara
Kirty Griya.



Bangunan museum adalah bekas kediaman Orang Belanda yang
ditempati Ki Hadjar Dewantara sekeluarga dari tahun 1938 sampai
dengan tahun 1958. Letak rumah memang menghadap ke barat namun
praktis sejak dihuni Ki Hadjar Dewantara, jalan masuk dari arah
selatan (samping) melalui halaman pendopo letak ruang tamu pun ada di
sisi bagian selatan, sehingga benar-benar terlihat dan terasa satunya
kediaman Ki Hadjar Dewantara dengan pendopo agung beserta komplek
kegiatan edukatif kultural yang dulu disebut Perguruan Tamansiswa
Mataram, kemudian beralih nama Ibu Pawiyatan Tamansiswa, yang
berarti induk atau Pusat Perguruan Taman Siswa yang dipimpin langsung
oleh Ki Hadjar Dewantara.



Pada dasarnya koleksi museum Dewantara Kirty Griya
terdiri atas :



  1. Bangunan/rumah
    dalam kompleks perguruan Tamansiswa Yogyakarta.




mempunyai luas bangunan 300 m², berdiri di atas tanah 2.720 m².
Bangunan dan tanah dicatat dalam buku Register Angka 1383/IH tahun
1926. Bangunan didirikan pada tahun 1915 dengan material kualitas
prima.





  1. Kumpulan
    surat menyurat Ki Hadjar Dewantara.




Hingga hari ini surat yang menjadi koleksi museum berjumlah 879 pucuk
surat. Berkat bantuan Arsip Nasional Republik Indonesia di Jakarta,
kumpulan surat-surat telah dikonservasi dengan tehnik tinggi. Selain
itu telah dibuat mikro film dan disimpan di Arsip Nasional Jakarta;
sedangkan aslinya tetap menjadi koleksi museum Dewantara Kirty Griya.



  1. Perlengkapan
    rumah tangga.




Sebagian besar hasil dari pembelian sebidang tanah dan bangunan yang
berada dalam kompleks Tamansiswa jalan Tamansiswa 31 Yogyakarta,
antara lain : tempat tidur, meja tulis, meja-kursi tamu, pesawat
telepon buatan Kellog 1927 Swedia, lemari buku, radio dan lemari.



  1. Dokumentasi
    foto.




Foto-foto diawali pada tahun 1904. Koleksi ini telah direproduksi
serta sebagian besar direkam dalam slide. Selain itu museum memiliki
satu unit film dengan judul Ki Hadjar Dewantara, Pahlawan Nasional.
Film ini di buat oleh PFN tahun 1960 dengan ukuran 33 mm dan lama
putar 80 menit. Berkat kemajuan teknologi film dipindah ke kaset
video, dan di hidangkan pada para pengunjung dalam ruangan khusus,
walaupun kondisinya tidak sempurna, namun masih dapat di dengar logat
dan warna nada pembicaraan beliau.



  1. Pustaka
    dalam berbagai tulisan dan bahasa.




Penempatan pustaka :



  1. Di
    museum Dewantara Krity Griya meliputi ketamansiswaan, politik,
    kebudayaan dan pendidikan, yang berjumlah 2341 judul buku.


  2. Di
    perpustakaan museum meliputi Sastra Daerah Jawa (3560 judul), Melayu
    (423 judul), Bahasa Belanda (3789 judul).




Museum Dewantara Krity Griya dilengkapi dengan perpustakaan museum.
Jam buka museum pada hari kerja mulai pukul 08.00-13.00 WIB. Hari
Jumat buka pukul 08.00-11.00 WIB dan hari sabtu pukul 08.00-12.00
WIB. Pada hari Minggu dan hari besar tutup. Tapi apabila ada
permintaan berkunjung secara tertulis beberapa hari sebelumnya diluar
jadwal tersebut dapat di layani.



Biaya untuk masuk museum bersifat sukarela, bantuan sukarela
digunakan untuk biaya pemeliharaan. Museum Dewantara Kirty Griya
dikelola oleh Yayasan Persatuan Perguruan Tamansiswa, bidang
pendidikan dan kebudayaan Majelis Lulur Tamansiswa.



Adapun susunan pengurus Museum Dewantara Kirty Griya:



Pembina : 1. Ki Dr. Supriyoko, M.Pd (Ketua Bidang
Pendidikan dan Kebudayaan Majelis Luhur Taman Siswa)



2. Ki Nayono (Almarhum)



Ketua : Ki Nayono (Almarhum)



Panitera : Nyi Sri Muryani





























III.
KEKUATAN, KELEMAHAN, PELUANG dan TANTANGAN








  1. KEKUATAN





  1. Museum
    Dewantara Kirty Griya mempunyai nilai sejarah yang tinggi dan
    merupakan museum sejarah lahirnya pendidikan yang bersifat nasional
    di Indonesia.



  2. Mempunyai cukup banyak potensi untuk dikembangkan dan
    diusulkan menjadi salah satu dari museum nasional.



  3. Museum terletak pada lokasi yang strategis dan mudah
    dijangkau



  4. Mempunyai peralatan multimedia (VCD, Slide Proyektor,
    Video) untuk menampilkan film tentang Ki Hadjar Dewantara



  5. Keberadaan perpustakaan yang mendukung keberadaan
    museum



  6. Koleksi museum yang begitu lengkap



  7. Kebijaksanan
    pemerintah di bidang pariwisata dan pendidikan –Wajib
    kunjung museum bagi pelajar dan mahasiswa-.



  8. Potensi atraksi pendukung berupa latihan tari dan
    pameran di Pendopo Agung Taman Siswa yang sudah teratur



B.
KELEMAHAN




  1. Luas area yang sangat sempit bagi pengembangan museum



  2. Keterbatasan ruang untuk menampilpajangkan seluruh
    koleksi museum



  3. Kerusakan koleksi museum yang tersimpan di gudang
    akibat keterbatasan ruang









  1. Standart operating procedure pemanduan belum ada



  2. Sarana museum sebagai obyek dan daya tarik wisata
    budaya masih kurang; antara lain: tiket box, wahana interpretasi
    bagi wisatawan



  3. Perlindungan benda koleksi terhadap manusia dan alam
    masih kurang



  4. Keterbatasan
    dana pengembangan dan
    pengelolaan museum



  5. Perawatan koleksi masih manual dan sederhana



  6. Kualitas SDM yakni petugas museum masih kurang



  7. Jumlah/kuantitas petugas masih kurang saat musim
    liburan




C. PELUANG



  1. Pasar
    sasaran potensial yaitu siswa Perguruan Taman Siswa yang berkunjung
    setiap hari libur




b. Pendopo Agung Tamansiswa yang layak dijadikan gedung pertemuan
umum sekaligus mengajak mereka mengunjungi museum.



D. ANCAMAN




  1. Obyek wisata lain yang sejenis dan lebih berkembang
    serta menarik



  2. Apresiasi
    pengunjung terhadap museum dan
    koleksinya yang masih kurang, misal memegang-megang benda koleksi,
    membolak-balik buku koleksi.







IV.
PROGRAM PENGEMBANGAN




  1. Mencari sumber dana dengan
    mengadakan tiket box bagi pengunjung ataupun bekerjasama dengan
    berbagai LSM dan memanfaatkan Pendopo Agung Tamansiswa
    sebagai Gedung Pertemuan umum.



  2. Menjadi anggota/bekerjasama dengan museum lain dalam organisasi
    daerah, nasional maupun internasional.



  3. Pengiriman petugas pada berbagai pembinaan permuseuman.



  4. Penambahan tenaga saat libur sekolah dengan menerima siswa PKL.



  5. Pembuatan Wahana Interpretasi bagi pengunjung



  6. Penambahan ruang audio visual dengan dilengkapi semacam café
    (museum café) dan didukung keberadaan perpustakaan



  7. Pembuatan perangkat perlindungan koleksi.



  8. Aktif dalam berbagai pameran.



  9. Pengadaan cindera mata khas sebagai pelestari kesan.




10. Mengadakan kegiatan yang aspek
demonstratifnya tinggi dengan melibatkan pasar sasaran yang
dituju-lomba lukis dengan tema-tema tertentu-.





















halaman 1
dari 14




definisi museum


Untuk lebih menegaskan definisi
museum, maka para ahli permuseuman tingkat internasional yang
tergabung dalam International Council of Museum (ICOM) di
Copenhagen pada tahun 1974 membuat rumusan tentang museum yaitu:


Museum merupakan sebuah lembaga yang
bersifat permanen, melayani kepentingan masyarakat dan kemajuannya,
terbuka untuk umum, tidak bertujuan mencari keuntungan yang
mengumpulkan, memelihara, meneliti, memamerkan, dan mengkomunikasikan
benda-benda pembuktian material manusia dan lingkungannya, untuk
tujuan-tujuan studi, pendidikan, dan rekreasi (FFJ Schouten,
PengantarDidaktik Museum,Jakarta,Proyek Pembinaan Permuseuman,
Ditjen Kebudayaaan, 1992: 3).



Museum sebagai obyek wisata, untuk
lebih dikenal luas oleh masyarakat maka perlu dilakukan promosi
sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan suatu program
pemasaran. Promosi pada hakikatnya adalah suatu kegiatan yang
dimaksudkan untuk menyampaikan atau mengkomunikasikan suatu produk
kepada pasar sasaran, untuk memberikan informasi tentang
keistimewaan, kegunaan, dan yang paling penting adalah tentang
keberadaannya untuk mengubah sikap ataupun untuk mendorong orang
untuk bertindak dalam hal ini membeli1.


Untuk meningkatkan kinerja para petugas di museum, maka
perlu adanya efisiensi kerja. “Efisiensi merupakan konsep kerja
yang mampu memberi makna positif bagi siapa saja yang ingin mencapai
tujuan sesuai dengan yang direncanakan, sehingga tindak pemborosan
dapat dihindari ( Djihad Hisyam, PDU-FPIPS IKIP Yogyakarta, 1987:
7)”. “Perkataan efisien itu sendiri berasal







1 Fandy Tjiptono,
StrategiPemasaran,(Yogyakarta: Andi Offset, 1995), hlm. 200.






Dari Bahasa Latin effisierre yang
artinya to effect yang berarti menghasilkan, mengadakan,
menjadikan ( Djihad Hisyam, Tanpa Tahun: 7)”.


Selain di bidang kerja, efisiensi
juga dapat diterapkan pada paket-paket wisata yang ditawarkan kepada
wisatawan. Paket wisata adalah suatu tur yang direncanakan dan
diselenggarakan oleh suatu Travel atau Tour Operator
atas risiko sendiri dan tanggung jawab sendiri, yang acara, lamanya
waktu, tempat-tempat yang dikunjungi, akomodasi, transportasi, serta
makanan dan minuman yang telah ditentukan dalam suatu harga yang
sudah ditentukan juga jumlahnya. Atmin D Lehmand yang dikutip oleh
Oka A Yoeti memberi batasan paket wisata adalah:


any advertised tour or a single
destination tour, in closing transportation, accomodation, and other
tour elements or a offering (line a cruise) providing a holiday
(Oka
A Yoeti, Tour and Travel Management, Pradnya Paramita,
Jakarta,1991:105).



Salah satu paket wisata yang
sebaiknya ditawarkan oleh sebuah Travel Agent adalah kunjungan
ke museum. “Dari penelitian yang pernah dilakukan ternyata
Travel Agent menguasai 70% dari usaha perjalanan ( Oka A.
Yoeti, 1991: 31)”.



.


















rgt sambodo 98/125086/DSA/01163





















1





Thursday, 15 January 2009

27 Museum di Propinsi DIY

1. Museum di Kota Yogyakarta

Nama

Alamat

Pengelolaan

Kepemilikan

Sifat

Jenis Koleksi

Data koleksi

Museum Negeri DIY Sonobudoyo

Alun-Alun Utara,

Jl. Trikora No.6 Yogyakarta 55122

Telp. dan

Fax. 385664

  • Jam Buka

Selasa-Kamis : 08.00 - 13.00

Jumat : 08.00 - 11.00

Sabtu&Minggu: 08.00 - 12.00

  • Tiket masuk:

Dewasa : Rp

Anak-anak : Rp


Pemerintah Pimpinan: Drs. Martono

Umum

Koleksi museum ini terdiri dari:

  • Keramik atau gerabah dari jaman neolitikum, senjata tradisional, topeng, wayang, gamelan, batik, perhiasan kuno,dan kitab kuno.

  • Benda arca batu dari abad 8 dan 9, kepala kala, dan relief batu candi.

  • Gamelan Kyai Mega Mendung dan Kyai Ruming Tawan serta tempat tidur Raja Mataram

  • Selain itu museum ini menyimpan koleksi benda-benda geologi, biologi, etnografi, arkeologi, numismatik, seni rupa, heraldika, historika, filologi dan teknologika

Total jumlah koleksi mencapai 43.263 buah

Museum Sonobudoyo Unit II Dalem Condrokiranan

Jl. Wijilan Yogyakarta

Telp 373617

  • Jam Buka

Senin-Kamis :

07.30 – 14.00

Jumat :

07.30 – 11.00

Sabtu :

07.30 – 12.00 Minggu ; tutup

  • Tiket masuk:

Dewasa : Rp

Anak-anak : Rp

Pemerintah Pimpinan: Drs. Martono

Umum

Museum ini mempunyai koleksi dokumentasi, publikasi, dan informasi Daerah Istimewa Yogyakarta yang meliputi alam dan budaya lokal (histori, arkeologi dan etnografi)


Museum Sasmitaloka Pangsar Jendral Soedirman

Bintaran Wetan No.3 Yogyakarta

Telp 376663

  • Jam buka

Selasa–Kamis : 08.00 –14.00

Sabtu&Minggu: 08.00 -12.00

Jum’at & hari besar: tutup

  • Tiket masuk: sukarela

TNI AD Pimpinan :

Khusus

Koleksi museum ini terdiri dari

  • Benda-benda peninggalan Jenderal Sudirman beserta keluarga.

  • Koleksi benda semasa pengabdian Jenderal Sudirman dari masa kemerdekaan 17 Agustus 1945 hingga masa Ibukota RI di Yogyakarta

Jumlah koleksi mencapai 1.042 buah

Museum Dewantara Kirti Griya

Jl. Tamansiswa no. 31

Yogyakarta 55151

Telp. 377459

  • Jam buka

Senin–Kamis : 08.00 –13.0

Jumat : 08.00 –11.0

Sabtu : 08.00 –13.00

Minggu : tutup

  • Tiket masuk: sukarela

Yayasan Persatuan Perguruan Taman Siswa

Pimpinan :

Khusus

Menyimpan segala peralatan dan furniture yang pernah digunakan Ki Hajar Dewantara.

Jumlah koleksi mencapai 3.256 buah

Museum Monumen Pangeran Diponegoro Sasana Wiratama

Jl. HOS Cokroaminoto Tegalrejo TR. III No. 430 Yogyakarta

Telp. 622668

  • Jam buka
Senin– Sabtu : 08.00 –12.00

Minggu : tutup

  • Tiket masuk: sukarela

Yayasan Rumpun Dipenogoro Pimpinan :

Khusus

Koleksi museum ini terdiri dari berbagai senjata tradisional yang pernah digunakan oleh pengikut Pangeran Diponegoro untuk melawan Belanda, mata uang kuno, lukisan, dan foto-foto.

Jumlah koleksi mencapai 195 buah

Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama

Jl. Jenderal Sudirman 75 Yogyakarta

Telp. 561417

  • Jam buka
Senin –Jumat : 08.00 –14.00
Minggu : 08.00 –12.00
Sabtu & hari besar: tutup
  • Tiket masuk: sukarela

TNI AD

Pimpinan

Khusus

Koleksi museum ini terbagi dalam beberapa ruang, antara lain Ruang Jenderal Sudirman, Ruang Letjen Urip Sumoharjo, Ruang Palagan, Ruang Senjata Modal Perjuangan Kemerdekaan, Ruang Dapur Umum, Ruang Alat Perhubungan dan Kesehatan, Ruang Panji-Panji, Ruang Gamad yang berisi berbagai tanda kehormatan bintang dan satya lencana, Ruang Peristiwa-Peristiwa Pemberontakan, Ruang Pahlawan Revolusi, Ruang Penumpasan G 30 S/PKI dan Ruang Orde Baru.

Jumlah koleksi mencapai 5.174 buah

Museum Biologi UGM

Jl. Sultan Agung No.22 Yogyakarta

Telp. 376571

  • Jam buka

Senin–Kamis : 07.30 -13.30

Jum’at : 07.30 -11.30

Minggu : 07.30 –12.00

Sabtu : 07.30 -13.30

Hari besar: Tutup

  • Tiket masuk : sukarela


Fakultas Biologi UGM Pimpinan :

Khusus

Koleksi museum ini terdiri dari:

  • Koleksi binatang Avertebrata (tidak betulang belakang) dan Vertebrata (bertulang belakang) seperti siput, kerang, moluska, ikan, binatang amphibi, melata, dan menyusui.

  • Koleksi tumbuhan terdiri dari tumbuhan rendah dan tumbuhan tinggi.

  • Beberapa jenis ikan dan tumbuhan yang ditemukan di Indonesia dan luar negeri dalam bentuk awetan kering, awetan basah, kerangka, dan fosil.

Jumlah koleksi kurang lebih 3.752 buah

Museum Benteng Yogyakarta

Benteng Vredeburg

Jl. Jenderal A. Yani No. 6 Yogyakarta 55121

Telp. 586934, 510996

Fax 586934

  • Jam buka

Selasa-Kamis: 08.30– 13.30

Jumat : 08.30– 11.00

Sabtu : 08.30– 12.00

Minggu : 08.30– 13.00

  • Tiket masuk:

Dewasa/asing: Rp

Anak-anak : Rp

Pemerintah Pimpinan : Drs. Wahyu Indrasana

Khusus

Koleksi museum ini terdiri dari

  • Koleksi unggulan antara lain: diorama peristiwa-peristiwa sejarah, peralatan minum Panglima Besar Soedirman, Meriam, dll.

  • Realia (benda-benda bersejarah yang mempunyai kaitan langsung dengan peristiwa sejarah), replika/tiruan, lukisan, foto, peta, dan maket.


Jumlah koleksi 6.124 buah

Museum Perjuangan Yogyakarta (Museum Benteng Yogyakarta

Unit II)

Jl. Kolonel Sugiyono no.24

Yogyakarta 55153

Telp. 387576

  • Jam buka

Selasa-Kamis : 08.00 -13.00

Jumat : 08.00 -11.00

Senin dan hari besar tutup

  • Tiket masuk:

Dewasa : Rp

Anak-anak: Rp

Asing : Rp


Pemerintah Koordinator : Drs. Suharja

Khusus

Koleksi museum ini terdiri dari patung kepala pahlawan nasional, panil relief perjuangan dan benda-benda lain yang erat kaitannya dengan perjuangan fisik melawan Belanda.


Jumlah koleksi kurang lebih 200 buah

Bebadan Museum Puro Paku Alaman

Puro Pakualaman, Jl. Sultan Agung, Yogyakarta 55112

Telp. 562161

  • Jam buka

Senin, Kamis, Minggu : 9.30 - 13.30

  • Tiket masuk : Rp

Puro Paku Alaman Pimpinan : K.P.H. Angling Kusumo

Khusus

Koleksi unggulannya adalah benda bersejarah yang bernilai tinggi, yang merupakan atribut Keprabon Raja Keluarga Pakualaman.

Jumlah koleksi kurang lebih 85 buah

Bebadan Museum Keraton Yogyakarta

Pagelaran Siti Hinggil, Kompleks Kraton Yogyakarta

  • Jam buka

Senin-Kamis : 08.30 – 14.00

Jumat : 08.30 – 12.30 Sabtu & Minggu: 8.30-14.30

  • Tiket masuk:

Domestik : Rp 2.500

Asing : Rp 7.500

Kraton Yogyakarta

Pimpinan : Gusti Prabu

Umum

Koleksi museum ini terdiri dari

  • Koleksi benda bersejarah seperti kitab sastra kuno, perabot rumah tangga kuno, patung dari Eropa dan benda keramik kuno.

  • Ruang dengan koleksi pusaka kerajaan seperti tombak, keris, pedang dan berbagai koleksi kereta pusaka keraton, serta seperangkat gamelan pusaka.

Jumlah koleksi lebih dari 1.500 buah

Museum Batik Yogyakarta

Jl. Dr. Sutomo No. 13 A

Yogyakarta 55211

Telp. 562338

  • Jam buka

Senin-Minggu: 09.00 – 15.00

Hari Besar: libur

  • Tiket masuk:

Umum Rp 10.000 Pelajar Rp 2.500

Yayasan Museum Batik Yogyakarta

Pimpinan : Hadi Nugroho

Khusus

Koleksi museum ini adalah

  • Koleksi kain panjang, koleksi sarung, koleksi motif, peralatan membatik seperti canting tulis, canting cap, bahan warna tradisional, malam batik (lilin), dan parafin.

  • Koleksi sulam karya Ibu Dewi Nugroho yang salah satu diantaranya mendapat penghargaan MURI sebagai sulaman terbesar dengan ukuran 390cm x 90cm.

  • Koleksi unggulan antara lain sarung isen-isen (antik), sarung, kain isen-isen (antik), sarung isen-isen kelengan (antik).

Jumlah koleksi 1.336 buah

Museum Kebun Binatang Gembira Loka

Jl. Kebun Raya No. 2 Yogyakarta 55171

Telp. 373861, 374792

  • Jam buka

Setiap hari : 07.00 –17.00

  • Tiket masuk : Rp 3.000

Yayasan Gembira Loka

Pimpinan : K.M.T.A. Tirtodiningrat

Umum

Koleksi museum ini terdiri dari bebagai jenis binatang dari dalam dan luar negeri yang melengkapi koleksi kebun binatang, seperti komodo (Varanus Komodoensis), dan orang utan (Pongo Pignaeus).

Jumlah koleksi 15.000 buah flora dan 1.799 ekor fauna.

Museum RS. Mata Dr. YAP

Jl. Teuku Cik Ditiro no. 5 Terban, Yogyakarta

  • Jam Buka

Senin-Sabtu: 9.00-14.00

  • Tiket masuk : Rp 3.000 (belum dibuka untuk umum)

Yayasan RSM Dr. Yap Prawiro Husodo

Pimpinan : Magdalena Indrawati

Khusus

Koleksi museum ini meliputi:

  • Buku koleksi Dr. Yap 939 buah

  • Alat-alat kedokteran

  • Benda perkantoran dan furniture keluarga Dr. Yap

Jumlah koleksi 1.400 buah



2. Museum di Kabupaten Sleman

No.

Nama

Alamat

Pengelolaan

Kepemilikan

Sifat

Jenis Koleksi

Data koleksi


Museum Lukis Affandi

Jl. Laksda Adisucipto No. 167 Papringan, Caturtunggal, Depok Sleman Yogyakarta 55281

Telp 562593

Fax 562593

Email: Musaff@yogya.wasantara.net.id

  • Jam buka

Minggu-Jumat : 09.00– 16.00

Sabtu : 09.00– 13.00

  • Tiket masuk:

Domestik : Rp

Asing : Rp

Yayasan Affandi Pimpinan : Juki Affandi

Khusus

Koleksi museum ini terdiri dari

  • Karya Affandi

  • Lukisan karya-karya Maryati Affandi, Kartika Affandi, Rukmini dan anak-cucu Affandi.

Koleksi lukisan lebih dari 300 buah.


Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Yogyakarta

Pangkalan TNI AU Adisucipto Yogyakarta

Telp. 564466 ext. 5217

  • Jam buka
Minggu-Sabtu : 08.00 –15.00

Jum’at & hari besar: tutup

  • Tiket masuk : Rp 500

TNI AU

Pimpinan : Letkol. Sus. Djoko Purnomo, BA

Khusus

Koleksi museum ini terdiri dari Heraldika (bendera, panji-panji, pataka, badge, tanda pangkat), Alutsita Udara (pesawat terbang tempur, pesawat pembom, pesawat penyergap, pesawat pengangkut, pesawat peluncur dan olahraga), juga bermacam jenis senjata.

Jumlah Koleksi 950 buah


Museum Monumen Yogya Kembali

Jl. Lingkar Utara, Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Sleman Yogyakarta

Telp. 868225, 868239

Fax 868239

  • Jam buka

Selasa-Minggu: 08.00– 16.00

  • Tiket masuk:

Domestik : Rp 2.000

Asing : Rp 5.000

Yayasan Monumen Yogya Kembali Pimpinan : Letkol. Purn. R.H. Soerjono

Khusus

Koleksi museum ini terdiri dari: tandu dan dokar Panglima Besar Sudirman, realia, replika, foto, dokumen, heraldika, berbagai jenis senjata, evokatif dapur umum, Palang Merah Indonesia, dan daftar nama 423 pahlawan clash II di DIY.

Jumlah koleksi 3.737 buah


Museum Geoteknologi Mineral UPN “Veteran”

Jl. Babarsari 2 Tambak Bayan Yogyakarta 55281

Telp. 485268, 486991 ext.17

  • Jam buka

Senin- Jumat: 08.00 – 14.30

  • Tiket masuk: gratis

UPT UPN “Veteran” Yogyakarta Pimpinan :

Khusus

Koleksi museum ini terdiri dari

  • Koleksi unggulan tengkorak dan gading gajah purba (Mastodon sp.)

  • Berbagai jenis batuan, fosil, artefak, maket, foto, dan peta

  • Benda-benda yang berkaitan dengan sejarah bumi beserta kehidupannya yang divisualisasikan melalui maket-maket.

Jumlah koleksi 1.252 buah


Museum Seni Lukis Kontemporer Indonesia “Nyoman Gunarsa”

Jl. Wulung No. 43 Papringan Catur Tunggal, Depok, Sleman

Telp. 564330

  • Jam buka

Senin - Sabtu : 09.00 – 16.00

  • Tiket masuk:: sukarela

Drs. Nyoman Gunarsa

Khusus

Koleksi museum ini terdiri dari lukisan yang mencapai 500 buah, terdiri dari karya Nyoman Gunarsa sendiri, serta koleksi karya seniman lainnya berupa seni kriya dan patung.

Jumlah koleksi 700 buah


Museum Budaya Jawa Ullen Sentalu

Dalem Kasuargan Jl. Boyong, Kaliurang, Sleman Yogyakarta

Telp. 880156

Fax 881743

Email: Ullen@indosat.net.id

http://www.ullensentalu.com






  • Jam buka

Selasa-Minggu: 09.00– 15.00

  • Tiket masuk:

Dewasa/wisman: Rp 35.000

Pelajar & anak : Rp 25.000

Yayasan Ulating Blencong Pimpinan : K.M.T. Projoharyono

Khusus

Koleksi museum ini terdiri dari koleksi Batik kuno dari empat jaman kerajaan Jawa kuno, lukisan, benda aksesoris dan foto.

Jumlah koleksi 1.266 buah


Museum Purbakala Tamanwisata Prambanan

Jl. Raya Yogya–Solo km 16, Prambanan, Sleman Yogyakarta 57454

Telp. 496402

Fax 496406

  • Jam buka

Senin-Minggu: 06.00– 17.00

  • Tiket masuk:

Dewasa : Rp 1.000

Pelajar & anak : Rp 500


PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko

Khusus

Koleksi museum ini terdiri dari temuan Situs Wanabaya dan Prambanan serta candi disekitarnya. Koleksi museum ini berupa benda perhiasan emas dari berbagai bentuk, fragmen gerabah dan foto-foto tentang pemugaran Candi Prambanan.



Museum Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia Mandala Bhakti Wanitatama Yogyakarta (Museum Hari Ibu KOWANI)

Jl. Adisucipto 86-88 Sleman Yogyakarta

Telp. 587818, 513282

Fax 520360

  • Jam buka

Senin-Kamis : 09.00– 16.00

Jumat-Sabtu : 09.00– 13.00

  • Tiket masuk:

Rp 500


Yayasan hari Ibu KOWANI Pimpinan: Ny. Hj. Tuti I. Loekman Soetrisno

Khusus

Menyimpan koleksi seragam ABRI dan Dharma Pertiwi, dan diorama perjuangan wanita Indonesia dari masa ke masa.

Jumlah koleksi 401 buah


Museum Monumen Pahlawan Pancasila Kentungan

Kentungan, Condongcatur, Depok

Telp 562319

  • Jam buka

Senin-Kamis : 08.00– 12.00

Jumat : 8.00-11.00 Sabtu : 09.00– 12.00

  • Tiket masuk:

Sukarela


Dinas Sosial Pimpinan : Dra. Herawati

Khusus

Museum ini menyimpan koleksi relief yang menggambarkan peristiwa pembunuhan terhadap pahlawan revolusi, yaitu Brigjen Katamso dan Kol Sugiyono.

Koleksi relief 8 buah.


3. Museum di Kabupaten Bantul

No.

Nama

Alamat

Pengelolaan

Kepemilikan

Sifat

Jenis Koleksi

Data koleksi

1.


Museum Wayang Kekayon Yogyakarta

Jl. Yogya – Wonosari km 7 No. 277 Baturetno, Banguntapan Bantul Yogyakarta

Telp. 513218, 379058

Fax 513218

Email: museumkakayon@usa.net

Web: www.museumkekayon.or.id

  • Jam buka

Setiap hari: 08.00– 15.00

  • Tiket masuk

Domestik : Rp 3.000

Asing : Rp 5.000

Pelajar : Rp 2.000

Yayasan Sosial Wayang Kekayon Yogyakarta Pimpinan : R.M. Donny Surya Megananda, S.Si.

Khusus

  • Koleksi wayang yang terbagi menjadi 10 unit:

  1. wayang purwa Yogyakarta

  2. wayang purwa Surakarta

  3. wayang madya Gedhog

  4. wayang klithik, krucil, beber

  5. wayang madura, dupara, kartasuran, kidang kencana

  6. wayang Bali, suluh, golek menak, golek thegul

  7. wayang Jawa, tutur, dipanegaran, golek cepak, sejati

  8. aneka topeng Yogya, Bali dan aneka kesenian tradisional

  9. wayang kontemporer, Thailand, Amerika, India

  10. wayang satu abad, khusus keraton

Koleksi wayang berjumlah sekitar 6000 buah

2


Museum Tembi (Budaya Jawa)

Jl. Parangtritis Km 8,4, Dusun Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta

Telp. 368001, 368004

Fax 368001

Web: www.tembi.org


  • Jam buka

Senin-Jumat : 08.30 – 16.30

Sabtu-Minggu : 09.00 – 13.00

  • Tiket masuk: sukarela

Pimpinan: N. Nuranto

Khusus

Merupakan sebuah rumah Jawa Tradisional lengkap dengan peralatan yang digunakan keseharian oleh masyarakat Jawa tradisional. Peralatan-peralatan yang ditampilkan mulai dari alat kesenian, senjata tradisional masyarakat Jawa, alat permainan anak, alat membatik sampai dengan peralatan pertanian dan dapur yang semuanya bernuansa etnis Jawa.




3. Museum Gumuk Pasir : Museum pendidikan dan Ilmu Pengtahuan, lokasinya di Kabupaten Bantul




4. Museum di Kabupaten Gunung Kidul

No.

Nama

Alamat

Pengelolaan

Kepemilikan

Sifat

Jenis Koleksi

Data koleksi


Museum Kayu Wanagama

Desa Gading, Playen (Jl. Jogja-Wonosari Km 30)

  • Jam Buka

Setiap hari : 8.00-17.00 (rencana)

  • Tiket masuk:

Rp 1500 (rencana)


Fakultas Kehutanan UGM Pimpinan : Prof. Dr. Ir. Hj. Oemi Hani’in Suseno

Khusus

Museum ini menyimpan koleksi kerajinan kayu dari berbagai daerah di Indonesia, topeng batik Gunungkidul, patung manusia dan fosil kayu.