yogyakarta, yogya, jogja, diy, sultan, hamengku buwono, prambanan, budaya, borobudur, mataram, desa budaya, seni, fky,
c
Showing posts with label wayang wong tresnobudoyo. Show all posts
Showing posts with label wayang wong tresnobudoyo. Show all posts
Monday, 23 April 2012
SABTU MALAM DI CONCERT HALL TBY ; 'Togog Mantu' Tampilkan Petruk 'Pesek'
SABTU MALAM DI CONCERT HALL TBY ; 'Togog Mantu' Tampilkan Petruk 'Pesek'
18/04/2012 02:00:13 BUKAN sedang bercanda kalau Yati Sumaryo alias Yati Pesek berperan sebagai Petruk yang seharusnya berhidung mancung pada Pergelaran Wayang Wong Putri lakon Togog Mantu di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu (21/4) malam. Saat ditemui menjelang latihan di pendapa Dinas Kebudayaan DIY, Senin (16/4) sore, Yati Pesek malah bercanda,"Apa tumon ana Petruk pesek?"
Tapi saat ditanya apakah perannya sebagai Petruk pada pergelaran untuk memeriahkan dalam rangka Hari Kartini ini sebagai asal ndhagel atau ada maksud tertentu, Yati Pesek menjawab serius, "Tidak, kebetulan saya saja yang pesek jadi Petruk."
Peranan Petruk pun serius, diutus oleh ayahnya, Rama Semar untuk jadi dhuta pamungkas yang harus bisa mrantasi. Petruk sempat bersitegang dengan Togog karena lamaran ayahnya sebenarnya sudah rembug dadi tiba-tiba ditolak. Togog memilih memberikan anaknya kepada Lesmana Mandrakumara yang anak raja.
Selain Petruk yang pesek, beberapa tokoh lain diperankan pemain yang tidak lazim. Misalnya, Duryudana yang seharusnya agak kurus, tapi dalam lakon ini diperankan pemain gemuk, karena makmur. "Nggone wong korupsi," ujar Yati yang juga menjadi pelopor dan pimpinan pergelaran.
Meskipun Petruk diperankan pemain pesek disebut sebagai serius, menurut Yati, lakon Togog Mantu ini sebagai penuh humor yang tentu saja disesuaikan zaman. Yang disuguhkan hanya hiburan, meski juga ada upaya idealisme untuk memelihara dan mengembangkan kesenian wayang orang. Bukan untuk mengkritik, apalagi berkait dengan politik.
Pergelaran wayang wong dengan sutradara M Pardiman dan iringan musik Joko Suseno yang bukan untuk pertama kali ini, merupakan kerja pengabdian Komunitas Pecinta Seni Wayang Orang Tresna Budaya Yogyakarta serta Padepokan Yati Pesek. Sekitar 30 pemain dari berbagai profesi ikut mendukung, seperti pengacara, guru, istri pejabat, dosen, hingga seniman tulen.
Selain Yati Pesek, antara lain ada KRAj Tmg Niken Sadjarwo SH MH, Dhani Harsono, Yuningsih, Dra Sri Dadi Siharti MSi Apt, Ratih SSn, Sekar Rini, Eni Soemadi, Supatmi, Trikirana Haryadi Suyuti, Dra Sri Handjati MSn, Dra Yuli Miroto, Dra Daruni MHum, Dra Endang Sutiyati, Bekti Budi Astuti SST MSn, Dra Trisno Susilowati MSn, hingga Suparjilah.
Tiket pergelaran bisa dipesan di beberapa tempat, antara lain di Dinas Kebudayaan DIY, Jalan Cendana 11 Yogya. (Ewp/Cil)-c
‘Togog Mantu’, Kemenangan Berpihak kepada Kebenaran
23/04/2012 02:00:01 TOGOG membatalkan sepihak besan-an dengan Semar. Rencana pernikahan Kecublak, anak Togog, dengan Glenter, anak Semar, terganggu dengan keinginan Lesmana, Prabu Duryudana, anak Raja Astina. Togog tergiur dengan bujukan Durna yang membawa amplop berisi uang, sehingga berniat membatalkan pernikahan anaknya dengan Glenter. Setelah melewati berbagai konflik, ternyata Glenter (diperankan Supatmi SPd) dan Kecublak (Ratih SSn) tak bisa dipisahkan. Akhirnya Togog (Yuningsih) membatalkan pinangan Lesmana (Nunung Ristiawati) dengan mengembalikan uang kepada Togog. Pernikahan pun berlangsung antara Glenter yang ternyata Abimanyu dan Kecublak yang sebenarnya Siti Sendari hingga membuat murka Duryudana (KRAj Tmg Niken Sadjarwo SH MH). Kisah yang ditampilkan pada Pergelaran Wayang Wong Putri dengan lakon carangan Togog Mantu dengan sutradara Ki Pardiman di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu (21/4) malam, itu mengingatkan, kemenangan selalu berpihak kepada yang benar. Pimpinan pergelaran, Yati Pesek yang malam itu berperan sebagai Petruk mengatakan, cerita wayang orang memang diwarnai tuntunan-tuntunan yang bisa menjadi teladan bagi penonton atau bahkan para pemainnya. Misalnya, watak Kurawa itu kebanyakan serakah, suka bikin ulah yang tidak baik, suka menyengsarakan orang lain. “Berbeda dengan Pandawa yang serba manut, diapak-apakke meneng. Wong sing salah bakal seleh,” kata Yati Pesek, usai pentas yang melibatkan Komunitas Pecinta Seni Wayang Orang Tresna Budaya Yogyakarta serta Padepokan Yati Pesek dan didukung Dinas Kebudayaan DIY ini. Terlepas dari kekurangan karena tidak semua pemain murni seniman, pergelaran untuk memperingati Hari Kartini ini menjadi sarana melestarikan wayang orang sekaligus sebagai hiburan. Banyak diwarnai humor, tanpa harus berpikir rumit. Para pendukung pun seperti ketagihan untuk bermain kembali. “Main wayang ini asyik kok, ya? Le dandan seka pucuk sikil tekan pucuk rambut. Dengan omongan ditata, tindakan ditata,” tambah Yati Pesek. Hj Tri Kirana Muslidatun, istri Walikota Yogya, Haryadi Suyuti, yang sudah tiga kali mendukung pentas wayang orang seperti ini menyatakan senang karena wayang orang termasuk kesenian lengkap. Ada unsur tari, bahasa, tata busana, seni rupa, musik dan tembang. “Saya ikut pentas wayang wong ini, rasanya jadi tuman. Sebab, selain dapat belajar seninya, juga bisa berinteraksi berbagi pengalaman dengan seniman dan pendukung beragam profesi,” tandas Tri Kirana yang berperan sebagai Nyai Petruk. Keinginan mementaskan lagi wayang orang cukup tinggi. Bahkan Yati Pesek sudah merencanakan dua pentas tahun ini, Agustus untuk laki-laki dan perempuan, serta Desember khusus perempuan. Para pendukung yang dari beragam profesi pun siap berkiprah lagi, tidak hanya ingin tampil di panggung, melainkan juga membantu pendanaan. (Ewp/Cil)-s
Ngayogyakarta, www.jogjatv.tv – Prasasat saben wewengkon ing Indonesia samangke nedheng mengeti Hari Kartini. Makaten ugi Paguyuban Ringgit Tiyang Tresno Budaya Ngayogyakarta, ingkang mengeti Hari Kartini, kanthi ngadani pagelaran ringgit tiyang, malem minggu (22/4) kala wingi, ing Taman Budaya Yogyakarta.
Mapan ing Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, paguyuban ringgit tiyang ingkang dipun pandegani dening Yati Pesek, ngadani pagelaran ringgit tiyang sesirah "Togog Mantu". Ancasing pagelaran kangge mengeti Hari Kartini, sarta kangge nglestantunaken seni ringgit tiyang. Lampahan Togog Mantu, dipun paragani dening 32 paraga ingkang sedayanipun wanita, kanthi bintang tamu garwa Walikota Yogyakarta Tri Kirana Muslidatun sarta Ciblek, seniman saking Banyumas.
Togog mantu nyariyosaken Togog, ingkang badhe ndhaupaken putrinipun Kecublak kaliyan Glenter putranipun Semar. Ananging Raja Astina, Prabu Duryudana dumadakan dhawuh supados Kecublak dipun dhaupaken kaliyan Lesmana.
Pagelaran ringgit tiyang kasebat, pranyata ndamel keprananipun pamirsa. (Chandra Saputra)
Wayang Wong Tresno Budaya “togog Mantu”
Kamis 19 April 2012
Menjelang peringatan Hari Kartini tanggal 21 April mendatang, Program Langen Swara edisi Kamis 19 April 2012 menghadirkan dua narasumber seniman wanita, yakni Yati Pesek dan Dra. Daruni,M.Hum.
Sebagai wujud pelestarian seni budaya, Paguyuban Wayang Wong Tresna Budaya akan menggelar pertunjukan wayang wong dengan lakon Togog Mantu pada tanggal 21 April 2012 bertempat di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Pagelaran wayang wong tersebut digelar untuk memperingati Hari Kartini, oleh karenanya 32 pemain yang mendukung pertunjukan adalah wanita. Ada yang istimewa dalam pagelaran wayang wong tersebut, yakni akan diramaikan oleh bintang tamu istri walikota Yogyakarta, Tri Kirana Muslidatun serta Ciblek, salah satu seniman banyumasan.
Wayang Togog Mantu Dimainkan Para Perempuan
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pelawak perempuan Yati Pesek asal Yogyakarta, memprakarsai pentas wayang orang khusus perempuan pecinta kesenian wayang dari Yogyakarta dan Jakarta dengan lakon Togog Mantu, di Conser Hall Taman Budaya Yogyakarta. Sabtu (21/4/2012).
Pentas ini di samping untuk memperingati Hari Kartini 21 April, juga berkeinginan kuat untuk melestarikan seni wayang orang yang kini mulai memudar .
Menurut Yati Pesek, Perkembangan wayang wong sekarang sangat memprihatinkan, senimannya beralih ke jenis seni lain, ataupun berganti profesi selain seni.Begitu juga dengan kostum dan perlengkapan pentas lainnya pun menganggur. .
"Hal itu terjadi karena pernah adanya gelar wayang orang. Pergelaran wayang wong yang di adakan dalam setahun Cuma 1-2 kali dengan penonton yang sedikit. Karena itu penjualan tiket tidak mampu menutup biaya produksi," katanya.
Di tengah kondisi yang memprihatinkan tersebut, muncul kesadaran penuh akan kelestarian budaya wayang orang tersebut. Dengan dipelopori Yati Pesek dan para pemerhati wayang orang di Yogyakarta seperti Ir. Yuwono Sri Suwito, M,Hum, Dra. Sri Dadi Wiharti, Msi., Apt., grup wayang orang bernama Paguyuban Tresno Budaya Yogyakarta berkomitmen untuk melestarikan wayang orang.
Selama ini grup wayang yang semuanya perempuan itu, melakukan pergelaran rutin wayang orang setiap tahun. Pada tahun 2009 menyelenggarakan pentas berjudul "Srikandi Mustokoweni" di Concert Hall TBY dan tahun 2010 menyelenggarakan Pergelaran Wayang Wong Lakon Petruk Dadi Ratu sebagai bagian dalam Festival Kesenian Yogyakarta 2010 di Societet TBY.
Selanjutnya, 2 April 2011 dalam rangka memperingati hari Kartini mempergelarkan Lakon Burisrawa Stres, dan bulan juli 2011 dengan lakon Larasyati Edan. Dan Sabtu (21/4 ) mendatang lakon Togog Mantu.
Togog Mantu adalah sebuah lakon carangan yang mengisahkan Togog akan menikahkan anaknya bernama Kecublak dengan Glenter anak Semar. Namun Raja Astina Prabu Duryudana tiba-tiba didatangi oleh anaknya Lesmana yang minta dikawinkan dengan Kecublak anak Togog.
Prabu Duryudana, mengutus Adipati Karno dan Begawan Durna untuk menemui Togog. Semula Togog menolak, karena Kecublak akan dinikahkan dengan Glenter anak Semar. Namun tekanan Adipati Karno dan Begawan Durna begitu kuat, sehingga Togog bersedia membatalkan perkawinan dengan anak Semar dan menerima lamaran Lesmana.
Melihat kenyataan itu Petruk yang menjadi utusan Semar marah dan terjadilah perselisihan yang seru antara Petruk dan Adipati Karno.
Wednesday, 11 May 2011
"BURISRAWA STRES" TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA
pada tanggal 2 april 2011 saya beserta temen-temen mendapat tugas untuk menyaksikan pertunjukan wayang wong dengan lakon Burisrawa stres di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY).Acara tersebut untuk memperingati Hari Kartini yang jatuh tanggal 21 April mendatang..
Tugas ini sekaligus untuk memenuhi mata kuliah q.
sebenernya q mendapat tugas lakon Kertomarmo tapi kurang tahu saya ada tidaknya lakon Kertomarmo dalam pertunjukkan tersebut . Berdasarkan dari beberapa sumber (alias saya memulung .hehehhehhe) judul "Burisrawa Stres" yang didalamnya terdapat pemain perempuan semua gabungan penari, pelawak, seniman ketoprak, dosen, istri pejabat dan beberapa pengusaha Yogya tersebut.
Pendukung pentas ini di antaranya Yati Pesek, Susilowati, Daruni, Sekarini, Jilah, Fransiska, Supatmi, Watik Wibowo, Kinting Handoko, Hamzah HS, Sari Nainggolan, Rara Ireng, Dani, Wigung Wratsongko dan seniwati Yogya lainnya.
dibawah ini q sampaikan sedikit sinopsis tentang Burisrawa stres MENURUT SEPENGERTIAN SAYA. karena setelah q interview temen-temen mereka mempunyai penangkapan yang berbeda-beda .hehehhehe ^_^
cerita dari "Burisrawa Stress" sebenarnya merupakan modifikasi dari cerita sembodro Larung namun agar lebih menarik diganti menjadi "Burisrawa Stress"
Berikut sinopsis ceritanya ...
Pada awal cerita ditampilkan Burisrawa bersama Semboro .Burisrawa mengungkapkan keinginan'na untuk memiliki Semboro .tapi karena Sembodro sudah mempunyai suami yaitu Janaka maka Sembodro menolak. Hingga Burisrawa marah dan menakut-nakuti Sembodro dengan keris .Demi menjaga kesuciannya sebagai istri maka sembodro memilih menubrukkan dirinya kearah keris tersebut hingga meninggal.
Mengetahui Dewi Sembadra telah mati, Burisrawa menjadi ketakutan, ia segera bersembunyi di hutan dengan ketakutan dan perasaan bersalahnya.
Prabu Kresna (Yati Pesek) meminta agar dapat mengetahui siapa pembunuhnya, maka Sembadra harus dilarung. Gatutkaca ditugaskan Prabu Kresna untuk mengawasi keberadaan larungan Sembadra.
Sementara itu Antasena bermaksud akan menghidupkan kembali orang tersebut. Ia segera mendekati jasad, Gatutkaca melihat ada seseorang yang menghampiri jasad Sembadra, maka Gatutkaca segera menyerangnya dan terjadilah perkelahian.
Hingga terbuka kalau keduanya masih bersaudara.Keduanya putera Werkudara. Dan Sembodro dihidupkan oleh Antaseno , lalu Sembodro menceriterakan apa sebenarnya yang telah terjadi, hingga ia tewas. Antaseno ingin membalas kejahatan Buriswara. hingga Antasena berubah menjadi Sembadra.
Maka terjadilah perkelahian antara Buriswara dan Antaseno. Buriswara melarikan diri ketakutan.
makna yang bisa dipetik dari pergelaran wayang wong ini adalah pengorbanan dan kesetiaan Sembodro sebagai seorang istri untuk menjaga kesuciannya .
Tugas ini sekaligus untuk memenuhi mata kuliah q.
sebenernya q mendapat tugas lakon Kertomarmo tapi kurang tahu saya ada tidaknya lakon Kertomarmo dalam pertunjukkan tersebut . Berdasarkan dari beberapa sumber (alias saya memulung .hehehhehhe) judul "Burisrawa Stres" yang didalamnya terdapat pemain perempuan semua gabungan penari, pelawak, seniman ketoprak, dosen, istri pejabat dan beberapa pengusaha Yogya tersebut.
Pendukung pentas ini di antaranya Yati Pesek, Susilowati, Daruni, Sekarini, Jilah, Fransiska, Supatmi, Watik Wibowo, Kinting Handoko, Hamzah HS, Sari Nainggolan, Rara Ireng, Dani, Wigung Wratsongko dan seniwati Yogya lainnya.
dibawah ini q sampaikan sedikit sinopsis tentang Burisrawa stres MENURUT SEPENGERTIAN SAYA. karena setelah q interview temen-temen mereka mempunyai penangkapan yang berbeda-beda .hehehhehe ^_^
cerita dari "Burisrawa Stress" sebenarnya merupakan modifikasi dari cerita sembodro Larung namun agar lebih menarik diganti menjadi "Burisrawa Stress"
Berikut sinopsis ceritanya ...
Pada awal cerita ditampilkan Burisrawa bersama Semboro .Burisrawa mengungkapkan keinginan'na untuk memiliki Semboro .tapi karena Sembodro sudah mempunyai suami yaitu Janaka maka Sembodro menolak. Hingga Burisrawa marah dan menakut-nakuti Sembodro dengan keris .Demi menjaga kesuciannya sebagai istri maka sembodro memilih menubrukkan dirinya kearah keris tersebut hingga meninggal.
Mengetahui Dewi Sembadra telah mati, Burisrawa menjadi ketakutan, ia segera bersembunyi di hutan dengan ketakutan dan perasaan bersalahnya.
Prabu Kresna (Yati Pesek) meminta agar dapat mengetahui siapa pembunuhnya, maka Sembadra harus dilarung. Gatutkaca ditugaskan Prabu Kresna untuk mengawasi keberadaan larungan Sembadra.
Sementara itu Antasena bermaksud akan menghidupkan kembali orang tersebut. Ia segera mendekati jasad, Gatutkaca melihat ada seseorang yang menghampiri jasad Sembadra, maka Gatutkaca segera menyerangnya dan terjadilah perkelahian.
Hingga terbuka kalau keduanya masih bersaudara.Keduanya putera Werkudara. Dan Sembodro dihidupkan oleh Antaseno , lalu Sembodro menceriterakan apa sebenarnya yang telah terjadi, hingga ia tewas. Antaseno ingin membalas kejahatan Buriswara. hingga Antasena berubah menjadi Sembadra.
Maka terjadilah perkelahian antara Buriswara dan Antaseno. Buriswara melarikan diri ketakutan.
makna yang bisa dipetik dari pergelaran wayang wong ini adalah pengorbanan dan kesetiaan Sembodro sebagai seorang istri untuk menjaga kesuciannya .
Kesetaraan Gender dalam Pentas Wayang Orang Burisrawa Stres
Kelompok Wayang Wong Tresno Budoyo pimpinan Yati Pesek menggelar pementasan wayang orang berjudul “Burisrawa Stres” di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Sabtu (2/4).
Pentas wayang orang “Burisrawa Stres” hadir sangat unik karena menampilkan semua pemain wayang orang perempuan.
Sebanyak 35 perempuan terlibat dalam pementasan wayang orang Burisrawa Stres untuk memperingati Hari Kartini 21 April 2011.
Yati Pesek menerangkan pentas Burisrawa Stres sengaja ditampilkan oleh perempuan semua. Selain Yati Pesek, juga tampil Yulianingsih, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta serta Yuningsih (Yu Beruk)
Perempuan-perempuan tersebut harus bermain dalam banyak karakter seperti karakter raksasa, Punokawan, ksatria dll yang biasanya sering dimainkan pemain wayang orang pria. Namun pementasan wayang orang “Burisrawa Stres” ini dalam rangka memperingati Hari Kartini maka kesetaraan gender menjadi hal utama untuk ditampilkan.
“ Kesetaraan gender saat ini masih dianggap remeh,” terang Yati Pesek yang berperan sebagai Kresna.
Yati Pesek menerangkan, Burisrawa Stres menghadirkan adegan perempuan yang sudah mempunyai suami rela bunuh diri untuk mempertahankan kesucian dari pada selingkuh atau khianat dengan laki-laki yang bukan suaminya.
“Dalam pementasan Burisrawa Stres ini benar-benar ditampilkan wujud kesetiaan seorang istri terhadap suami untuk bertekad dengan cara apapun menjaga kesucian dirinya dari lelaki lain,” ujar Yati Pesek.
Sutradara pementasan wayang orang Burisrawa Stres, Pardiman Cakil menerangkan cerita Burisrawa Stres merupakan cerita modifikasi cerita Sembodro Larung. Hal ini dilakukan agar masyarakat tertarik untuk menyaksikan pementasan.
Burisrawa Stres menampilkan inti cerita mengenai pengorbanan Dewi Woro Sembodro yang bunuh diri agar tidak diperkosa Burisrawa. Hal itu dilakukan Dewi Woro Sembodro mengingat dirinya sudah mempunyai suami sehingga sebagai istri dia berusaha menjaga kesucian dirinya.
“Akibat Dewi Woro Sembodro bunuh diri, Burisrawa tidak berani pulang karena kecamuk batin yang merasa bersalah, benci dan rasa cinta kepada Dewi Woro Sembodro yang bercampur menjadi satu,” ujar Pardiman Cakil.
Burisrawa kemudian memilih bersembunyi di hutan hingga akhirnya Burisrawa tersiksa dengan perasaannya sendiri sampai stres batin.
Pardiman Cakil melanjutkan, sebenarnya Kresna bisa menghidupkan Sembodro dengan kesaktian yang ia punya. Namun untuk mencari sebab Dewi Woro Sembodro meninggal, Krisna menggunakan cara me-larung jasad Dewi Woro Sembodro ke laut apabila ada yang mendekat jasad Dewi Sembodro maka dialah pembunuh Dewi Sembodro.
Pada akhirnya Burisrowo yang sudah tidak tahan dengan perasaan campur aduk tidak karuan, berusaha mendekati jasad Dewi Sembodro lalu ia pun mengaku telah menyebabkan Dewi Sembodro bunuh diri.
“Kemudian Dewi Sembodro dihidupkan kembali oleh Ontoseni, anak Werkudoro untuk memberi kesaksian atas perbuatan Burisrawa,” ujar Pardiman Cakil.
Pesan dari pentas wayang orang Burisrawa Stres ini adalah tentang wanita yang memegang teguh kesucian sebagai istri. Meski harus bunuh diri namun justru hal tersebut mampu mengatasi masalah yang ia hadapi.
“ Penampilan para wanita yang bermain dalam wayang orang Burisrawa Stres bisa muncul maksimal. Mereka juga bisa menari tarian gagah yang biasa dipakai laki-laki,” terang Pardiman Cakil. (Jogjanews.com/joe)
Sunday, 3 April 2011
Wayang Orang 'Burisrowo Stres', Bentuk Perjuangan Kesetaraan Gender
YOGYA (KRjogja.com) - Sebanyak 35 perempuan yang berprofesi sebagai seniman dan pengusaha yang tergabung dalam kelompok Wayang Orang Tresno Budoyo menggelar pertunjukan wayang orang dengan lakon 'Burisrowo Stres' di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu Malam (2/4). Uniknya wayang orang ini seluruh pemainnya perempuan, guna memperingati Hari Kartini yang akan jatuh pada 21 April 2011 mendatang.
Pimpinan kelompok Wayang Wong Tresno Budoyo, Yati Pesek mengatakan, pertunjukan wayang wong kali ini sengaja dihadirkan dalam rangka memperingati Hari Kartini, dimana seluruh pemainnya kurang lebih 36 orang adalah perempuan.
"Para pemain yang semuanya perempuan ada yang harus menjadi buto, punokawan, ksatria dan lain-lain yang diperankan laki-laki, namun dalam rangka Hari Kartni kami mengangkat keseteraan gender yang hingga kini masih disepelekan dengan lakon Burisrawa Stres," ungkap Yati Pesek yang berperan sebagai Kresna dalam pertunjukan kali ini.
Yati menjelaskan dengan mengangakat cerita tentang kesetaraan gender yang hingga saat ini masih dianggap remeh, dalam cerita ini ditegaskan bahwa perempuan yang sudah mempunyai suami rela bunuh diri untuk mempertahankan kesuciannya daripada berselingkuh atau berkhianat dengan lelaki lain yang bukan suaminya.
"Disini benar-benar ditampilkan wujud kesetiaan seorang istri terhadap suami untuk bersikukuh dengan cara apapaun menjaga kesucian dirinya dari lelaki lain," katanya.
Ditambahkan Sutradara Wayang Wong ini, Pardiman Cakil, sebenarnya cerita ini tentang Sembodro Larung namun agar menarik masyarakat judul ceritanya dimodifikasi menjadi Burisowo Stres.
Mengenai inti ceritanya, Pardiman menjelaskan tentang pengorbanan Dewi Sembodro yang bunuh diri agar tidak diperkosa Burisrowo mengingat Sembodro sudah mempunyai suami maka sebagai istri dia berusaha menjaga kesuciannya tersebut. Akibat Sembodro bunuh diri, Burisrowo yang tidak berani pulang ke kerajaannya karena merasa bersalah, benci, ingin memiliki yang bercampur aduk memilih bersembunyi di hutan hingga akhirnya dia tersiksa dengan perasaanya sendiri sampai stres atau tertekan.
"Sebenarnya Kresna bisa menghidupkan Sembodro dengan kesaktiannya, namun untuk mencari pelaku penyebab Sembodro meninggal, maka dia mempunyai taktik untuk melarung jasad Sembrodro di lautan dan barang siapa nanti yang berusaha mendekatinya dialah pelakuknya," tuturnya.
Pada akhirnya Burisrowo yang sudah tidak tahan dengan perasaanya yang bercampur aduk berusaha medekati jasad Sembodro dan mengaku telah menyebabkan Semodro bunuh diri. Kemudian Sembodro dihidupkan kembali oleh anak Werkudoro yaitu Ontoseno untuk memberi kesaksian atas perbuatan Burisrawa.
Pardiman mengatakan meskipun hanya berlatih sekitar satu minggu, namun para pemain yang semua perempuan ini telah berlatih memainkan karakter wayang wong pria semaksimal mungkin dalam durasi dua jam tersebut. "Mereka juga bisa menarikan tarian gagah yang ditarikan lelaki dan memakai kostum lelaki sesuai perannya," katanya.
Pesan morilnya disini memang tentang pahlawan wanita yang memegang teguh kesuciannya sebagai istri, meskipun dia bunuh diri namun itu justru untuk mengatasi masalahnya sendiri. (Fir)
Pimpinan kelompok Wayang Wong Tresno Budoyo, Yati Pesek mengatakan, pertunjukan wayang wong kali ini sengaja dihadirkan dalam rangka memperingati Hari Kartini, dimana seluruh pemainnya kurang lebih 36 orang adalah perempuan.
"Para pemain yang semuanya perempuan ada yang harus menjadi buto, punokawan, ksatria dan lain-lain yang diperankan laki-laki, namun dalam rangka Hari Kartni kami mengangkat keseteraan gender yang hingga kini masih disepelekan dengan lakon Burisrawa Stres," ungkap Yati Pesek yang berperan sebagai Kresna dalam pertunjukan kali ini.
Yati menjelaskan dengan mengangakat cerita tentang kesetaraan gender yang hingga saat ini masih dianggap remeh, dalam cerita ini ditegaskan bahwa perempuan yang sudah mempunyai suami rela bunuh diri untuk mempertahankan kesuciannya daripada berselingkuh atau berkhianat dengan lelaki lain yang bukan suaminya.
"Disini benar-benar ditampilkan wujud kesetiaan seorang istri terhadap suami untuk bersikukuh dengan cara apapaun menjaga kesucian dirinya dari lelaki lain," katanya.
Ditambahkan Sutradara Wayang Wong ini, Pardiman Cakil, sebenarnya cerita ini tentang Sembodro Larung namun agar menarik masyarakat judul ceritanya dimodifikasi menjadi Burisowo Stres.
Mengenai inti ceritanya, Pardiman menjelaskan tentang pengorbanan Dewi Sembodro yang bunuh diri agar tidak diperkosa Burisrowo mengingat Sembodro sudah mempunyai suami maka sebagai istri dia berusaha menjaga kesuciannya tersebut. Akibat Sembodro bunuh diri, Burisrowo yang tidak berani pulang ke kerajaannya karena merasa bersalah, benci, ingin memiliki yang bercampur aduk memilih bersembunyi di hutan hingga akhirnya dia tersiksa dengan perasaanya sendiri sampai stres atau tertekan.
"Sebenarnya Kresna bisa menghidupkan Sembodro dengan kesaktiannya, namun untuk mencari pelaku penyebab Sembodro meninggal, maka dia mempunyai taktik untuk melarung jasad Sembrodro di lautan dan barang siapa nanti yang berusaha mendekatinya dialah pelakuknya," tuturnya.
Pada akhirnya Burisrowo yang sudah tidak tahan dengan perasaanya yang bercampur aduk berusaha medekati jasad Sembodro dan mengaku telah menyebabkan Semodro bunuh diri. Kemudian Sembodro dihidupkan kembali oleh anak Werkudoro yaitu Ontoseno untuk memberi kesaksian atas perbuatan Burisrawa.
Pardiman mengatakan meskipun hanya berlatih sekitar satu minggu, namun para pemain yang semua perempuan ini telah berlatih memainkan karakter wayang wong pria semaksimal mungkin dalam durasi dua jam tersebut. "Mereka juga bisa menarikan tarian gagah yang ditarikan lelaki dan memakai kostum lelaki sesuai perannya," katanya.
Pesan morilnya disini memang tentang pahlawan wanita yang memegang teguh kesuciannya sebagai istri, meskipun dia bunuh diri namun itu justru untuk mengatasi masalahnya sendiri. (Fir)
Monday, 21 June 2010
FKY Berupaya Bangkit
Yogyakarta, Kompas - Festival Kesenian Yogyakarta ke-22 yang akan digelar di dalam Benteng Vredeburg, 7 Juni-7 Juli 2010, diharapkan menjadi saat kembalinya FKY sebagai festival dari semua warga DIY. Kegagalan penyelenggaraan FKY beberapa tahun terakhir berupaya diperbaiki meski tidak mudah.
"Kami ingin mengembalikan masa kejayaan FKY meskipun kami sadar itu tidak mudah," ujar Ketua Panitia FKY Ke-22 Kasidi Hadiprayitno, saat berkunjung ke Kompas, Jumat (7/5). Kasidi hadir didampingi Ketua III Timbul Raharjo dan Ryan Budi Nuryanto.
Kasidi yang kerap ikut dalam kepanitiaan FKY masih ingat saat- saat FKY jaya dan menjadi rujukan para pembeli dan pemilik galeri dari luar kota dan luar negeri. Apresiasi warga saat itu juga luar biasa dengan membeludaknya pengunjung.
"Tahun 1998, misalnya, FKY membuka sekitar 300 stan pasar seni. Untuk mendaftar sebagai peserta, harus antre," ujar Timbul.
Terpuruknya FKY yang rutin digelar di Benteng Vredeburg setiap 7 Juni-7 Juli terasa sejak 2004. Karena itu, dua tahun terakhir adalah masa yang dimaknai sebagai transisi untuk mengembalikan kejayaan. Untuk pelaksanaan FKY berikutnya, dialog seni akan digelar di akhir penyelenggaraan.
Selain pasar seni, FKY setiap tahun mengusung tiga kegiatan lain, yaitu pawai seni, pameran seni, dan pertunjukan seni. Pawai seni untuk pembukaan FKY akan dilakukan di Alun-alun Utara. Pawai yang berakhir di Pura Pakualaman dibuka Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X.
Memang istimewa
FKY ke-22 bertema "Jogja Memang Istimewa" akan melibatkan Pemerintah Kabupaten Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul, dan Kota Yogyakarta. Dengan anggaran tidak lebih dari Rp 500 juta dari Pemprov DIY, panitia akan menghadirkan sekitar 100 pertunjukan seni.
Salah satu pertunjukan itu adalah wayang orang "Petruk Dadi Ratu" yang dijadwalkan tampil di Gedung Societeit Taman Budaya Yogyakarta pada 19 Juni. "Yati Pesek dan Marwoto akan tampil tanpa dibayar," ujar Timbul.
Dengan jumlah stan 150 dan telah terisi 75 persennya, panitia FKY ke-22 berharap pengunjung mencapai 5.000 orang pada hari libur dan 3.000 orang pada hari lainnya. "Masa libur sekolah dan akan digelarnya Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta akan membuat FKY ramai dikunjungi," ujar Ryan.
Untuk upaya mengembalikan kejayaan FKY, panitia minta masukan sejumlah seniman. Setiap kritik akan diterima. "Menjadi panitia FKY itu harus siap dengan cemooh para seniman," ujar Kasidi. (INU)
"Kami ingin mengembalikan masa kejayaan FKY meskipun kami sadar itu tidak mudah," ujar Ketua Panitia FKY Ke-22 Kasidi Hadiprayitno, saat berkunjung ke Kompas, Jumat (7/5). Kasidi hadir didampingi Ketua III Timbul Raharjo dan Ryan Budi Nuryanto.
Kasidi yang kerap ikut dalam kepanitiaan FKY masih ingat saat- saat FKY jaya dan menjadi rujukan para pembeli dan pemilik galeri dari luar kota dan luar negeri. Apresiasi warga saat itu juga luar biasa dengan membeludaknya pengunjung.
"Tahun 1998, misalnya, FKY membuka sekitar 300 stan pasar seni. Untuk mendaftar sebagai peserta, harus antre," ujar Timbul.
Terpuruknya FKY yang rutin digelar di Benteng Vredeburg setiap 7 Juni-7 Juli terasa sejak 2004. Karena itu, dua tahun terakhir adalah masa yang dimaknai sebagai transisi untuk mengembalikan kejayaan. Untuk pelaksanaan FKY berikutnya, dialog seni akan digelar di akhir penyelenggaraan.
Selain pasar seni, FKY setiap tahun mengusung tiga kegiatan lain, yaitu pawai seni, pameran seni, dan pertunjukan seni. Pawai seni untuk pembukaan FKY akan dilakukan di Alun-alun Utara. Pawai yang berakhir di Pura Pakualaman dibuka Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X.
Memang istimewa
FKY ke-22 bertema "Jogja Memang Istimewa" akan melibatkan Pemerintah Kabupaten Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul, dan Kota Yogyakarta. Dengan anggaran tidak lebih dari Rp 500 juta dari Pemprov DIY, panitia akan menghadirkan sekitar 100 pertunjukan seni.
Salah satu pertunjukan itu adalah wayang orang "Petruk Dadi Ratu" yang dijadwalkan tampil di Gedung Societeit Taman Budaya Yogyakarta pada 19 Juni. "Yati Pesek dan Marwoto akan tampil tanpa dibayar," ujar Timbul.
Dengan jumlah stan 150 dan telah terisi 75 persennya, panitia FKY ke-22 berharap pengunjung mencapai 5.000 orang pada hari libur dan 3.000 orang pada hari lainnya. "Masa libur sekolah dan akan digelarnya Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta akan membuat FKY ramai dikunjungi," ujar Ryan.
Untuk upaya mengembalikan kejayaan FKY, panitia minta masukan sejumlah seniman. Setiap kritik akan diterima. "Menjadi panitia FKY itu harus siap dengan cemooh para seniman," ujar Kasidi. (INU)
Wali Kota Ikut Wayang Orang Berusaha Bangkit Setelah Hampir Punah Ditinggal Penonton
YOGYAKARTA, KOMPAS - Komunitas Pencinta Wayang Orang Trisno Budaya Yogyakarta pimpinan Yati Pesek akan meramaikan Festival Kesenian Yogyakarta dengan mementaskan lakon "Petruk Dadi Ratu". Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto akan ikut terlibat dalam pentas yang dimaksudkan untuk membangkitkan kembali kesenian wayang orang.
Ketua Tresno Budaya Yati Pesek menTerbitkan Entriuturkan, pentas wayang orang tersebut digelar untuk mengangkat budaya tradisional di DIY. Pentas yang memakan biaya sekitar Rp 50 juta ini digelar dengan menggaet pengusaha dan donatur yang peduli wayang orang. Pemasukan dari tiket yang dijual kepada penonton tidak akan mampu menutup biaya pementasan. Selain tidak mungkin menjual mahal tiket, penonton juga kerap hanya segelintir orang.
Selain Herry Zudianto, Guru Besar Arkeologi UGM Timbul Haryono dan pemilik Mirota Batik Hamzah Ismail akan terlibat. Pentas berlangsung 19 Juni di Gedung Societeit Taman Budaya Yogyakarta. Sutradaranya Bekti Budihastuti dan penulis naskah Seno BK.
"Pak Wali Kota tampil sekilas saja. Dia akan menjadi tokoh masyarakat yang berbicara soal ketertiban kota," kata Yati Pesek di sela-sela latihan, Kamis.
Hampir punah
Seno BK mengatakan, pementasan ini diharapkan membangkitkan kembali kesenian wayang orang yang hampir punah. "Kami ingin menghidupkan lagi wayang orang. Kalau ketoprak, kan, sudah mulai bangkit," ujarnya.
Menurut Seno, era wayang orang terus surut sejak kejayaannya tahun 1965. Saat ini, wayang orang makin ditinggalkan penonton. Pertunjukannya yang kerap monoton tanpa sentuhan modernitas kerap menjadi alasan. Padahal pentas wayang orang memiliki kaidah tertentu dan sarat nilai-nilai etika sehingga sulit diubah mengikuti selera masyarakat.
Meskipun begitu, pementasan wayang orang saat ini telah berupaya menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Jika dulu pementasan wayang orang memakan waktu hingga lima jam, kini durasi diperpendek menjadi dua jam. "Jadi lebih praktis dan sederhana, selingan tari- tarian dibatasi seperlunya saja," katanya.
Bagi Tresno Budaya, pementasan wayang orang ini pentas kedua sekaligus sekuel dari pentas pertama yang mengangkat lakon "Mustakaweni Maling". Mayoritas pemain wayang orang dalam kelompok ini adalah seniman wayang orang senior yang rata-rata berusia lebih dari 40 tahun. (ARA)
Ketua Tresno Budaya Yati Pesek menTerbitkan Entriuturkan, pentas wayang orang tersebut digelar untuk mengangkat budaya tradisional di DIY. Pentas yang memakan biaya sekitar Rp 50 juta ini digelar dengan menggaet pengusaha dan donatur yang peduli wayang orang. Pemasukan dari tiket yang dijual kepada penonton tidak akan mampu menutup biaya pementasan. Selain tidak mungkin menjual mahal tiket, penonton juga kerap hanya segelintir orang.
Selain Herry Zudianto, Guru Besar Arkeologi UGM Timbul Haryono dan pemilik Mirota Batik Hamzah Ismail akan terlibat. Pentas berlangsung 19 Juni di Gedung Societeit Taman Budaya Yogyakarta. Sutradaranya Bekti Budihastuti dan penulis naskah Seno BK.
"Pak Wali Kota tampil sekilas saja. Dia akan menjadi tokoh masyarakat yang berbicara soal ketertiban kota," kata Yati Pesek di sela-sela latihan, Kamis.
Hampir punah
Seno BK mengatakan, pementasan ini diharapkan membangkitkan kembali kesenian wayang orang yang hampir punah. "Kami ingin menghidupkan lagi wayang orang. Kalau ketoprak, kan, sudah mulai bangkit," ujarnya.
Menurut Seno, era wayang orang terus surut sejak kejayaannya tahun 1965. Saat ini, wayang orang makin ditinggalkan penonton. Pertunjukannya yang kerap monoton tanpa sentuhan modernitas kerap menjadi alasan. Padahal pentas wayang orang memiliki kaidah tertentu dan sarat nilai-nilai etika sehingga sulit diubah mengikuti selera masyarakat.
Meskipun begitu, pementasan wayang orang saat ini telah berupaya menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Jika dulu pementasan wayang orang memakan waktu hingga lima jam, kini durasi diperpendek menjadi dua jam. "Jadi lebih praktis dan sederhana, selingan tari- tarian dibatasi seperlunya saja," katanya.
Bagi Tresno Budaya, pementasan wayang orang ini pentas kedua sekaligus sekuel dari pentas pertama yang mengangkat lakon "Mustakaweni Maling". Mayoritas pemain wayang orang dalam kelompok ini adalah seniman wayang orang senior yang rata-rata berusia lebih dari 40 tahun. (ARA)
Pentas Wayang Orang “Petruk Jadi Ratu”, Tetap Pertunjukan Layak Tonton
Arthur Schopenhauer, filosof Jerman pernah mengatakan, seni menjadi penting karena berpotensi membebaskan hasrat kemanusiaan sekaligus menumbuhkan kembali nilai-nilai kearifan yang tenggelam.
Maka adegan ribut-ribut Satpol PP dengan tukang pijat payung yang bisa dilerai Walikota Yogyakarta Herry Zudianto dengan menasehati kedua belah pihak untuk saling menghormati dan menghargai, yang muncul dalam pementasan wayang orang “Petruk Jadi Ratu” di gedung societiet Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (19/6) adalah upaya menghadirkan ungkapan Arthur Schopenhauer itu.
“Wis…wis ojo dak sio karo sing lemah.Petugas kudu menghargai wong cilik. Dadi wong cilik kudu menghormati petugas,” begitu kata Herry Zudianto yang menyebut dirinya hanya pelengkap pertunjukan karena ia memang tak memainkan tokoh siapa-siapa.
Jalan cerita “Petruk Jadi Ratu” pada akhirnya bisa disepakati begitu dekat dengan ungkapan filosofis seorang Arthur Schopenhauer ini, hasrat kemanusiaan dalam bentuknya pencarian kekuasaan dengan jalan yang menyalahi aturan dan kodrat sesungguhnya tidak akan berakhir dengan kebahagiaan.
“Petruk Jadi Ratu” menceritakan Petruk yang membawa lari pusaka Jamus Kalimasada milik Puntodewo karena ingin nempil kamukten (ingin merasakan menjadi raja sebentar saja). Dengan menggunakan Jamus Kalimasada itu, Petruk kemudian mengalahkan Prabu Joyo Sentiko untuk menguasai kerajaan Trangkencono.
Petruk yang telah menjadi raja mengubah namanya menjadi Prabu Bel Geduwel Beh. Petruk menjadi arogan dengan meminta istri-istri dari Prabu Joyosentiko. Belum cukup, Petruk menantang raja-raja tiga negara yaitu Ngamarto, Manduro dan Dwarawati (yang notabene dipimpin para Pendowo, tuan dari Petruk sendiri)
Dalam perang tanding dengan para Pandowo, Petruk berhasil menang karena menggunakan Jamus Kalimasada. Kedigdayaan seorang Janaka, Puntadewa dan Werkudara hilang ketika dikenai Jamus Kalimasada. Namun petualangan Petruk harus berakhir ketika kalah perang dengan Gareng yang sudah diberi senjata rahasia oleh Kresna. Petruk menjadi punakawan kembali untuk mengabdi pada keluarga Pandawa.
Pesan-pesan moral tentang kekuasaan, penghargaan terhadap wong cilik, penegakan aturan tersampaikan secara gamblang dan kuat dalam pementasan “Petruk Jadi Ratu” yang dimainkan Paguyuban Wayang Orang Trisno Budoyo bekerjasama dengan Paguyuban Yati Pesek ini (lihat Sabtu, Wayang Orang “Petruk Jadi Ratu” di Societied TBY, 17 Juni 2010)
Hal itu diakui oleh mantan Menteri Dalam Negeri Mardiyanto yang turut menyaksikan pementasan “Petruk Jadi Ratu” yang berdurasi lebih dari dua jam ini. Pesan-pesan moral pesan-pesan pembangunan melalui pementasan ini bisa tersampaikan lebih humanis. Budaya menjadi media untuk menyentuh rakyat secara lebih humanis.
“Pesan-pesan bisa diberikan lewat budaya sehingga masyarakat juga tahu. Jadi dengan budaya itu sentuhan kepada masyarakat lebih humanis. Menyampaikan pesan dengan budaya itu lebih humanis daripada dengan aturan-aturan,” jelas mantan Gubernur Jawa Tengah ini seusai pementasan.
Menurut Mardiyanto, budaya Jawa adalah budaya luar biasa karena ditengah kondisi bangsa yang sedang banyak persoalan saat ini, budaya tampil menjadi media penyampai pesan yang ideal. Maka sudah seharusnya semua pihak memperhatikan budaya.
“Saya mengapresiasi pertunjukan ini. Budaya jawa luar biasa. Ditengah kondisi bangsa seperti ini. Budaya memang harus diperhatikan semua pihak,” kata Mardiyanto seraya memuji Walikota Yogyakarta Herry Zudianto yang terlibat dalam pertunjukan ini dengan menyampaikan pesan-pesan pembangunan.
“Saya sangat bangga dengan Pak Herry. Saya kita contoh nyata bagaimana beliau mengemban tugas pemerintah namun tetap ikut memperhatikan budaya,” ujar Mantan Pangdam IV Diponegoro yang sekarang tinggal di Sleman Yogyakarta ini.
Hal senada juga diungkapkan Walikota Yogyakarta Herry Zudianto yang dalam pementasan tadi malam, hadir di panggung sebagai tokoh masyarakat. Walikota mengatakan penghargaan sebesar-besarnya kepada seniman-seniman yang mempunyai perhatian luar biasa untuk melestarikan tradisi wayang orang.
“Tanpa harus meninggalkan pakem tradisinya, tapi tetep juga ada penyesuaian waktu, humor, sehingga wayang orang ini masih menjadi satu alternatif tontonan yang saya kira layak ditonton,” kata Herry Zudianto usai pementasan.
Political will Herry Zudianto tak berhenti di retorika. Keberpihakan orang nomor satu di Kota Yogyakarta ini segera dilanjutkan dengan dibuatnya peraturan daerah tentang pajak hiburan nol persen untuk pertunjukan seni budaya.
“Kemarin saya usulkan pajak hiburan diPperda 0 persen agar hidup.selama ini kita hanya prihatin, seni tradisi ditinggalkan. Sponsor juga susah lha kok masih dikasih pajek hahaha. Kalau bisa diberi subsidi,” demikian Herry Zudianto. (The Real Jogja/joe)
Maka adegan ribut-ribut Satpol PP dengan tukang pijat payung yang bisa dilerai Walikota Yogyakarta Herry Zudianto dengan menasehati kedua belah pihak untuk saling menghormati dan menghargai, yang muncul dalam pementasan wayang orang “Petruk Jadi Ratu” di gedung societiet Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (19/6) adalah upaya menghadirkan ungkapan Arthur Schopenhauer itu.
“Wis…wis ojo dak sio karo sing lemah.Petugas kudu menghargai wong cilik. Dadi wong cilik kudu menghormati petugas,” begitu kata Herry Zudianto yang menyebut dirinya hanya pelengkap pertunjukan karena ia memang tak memainkan tokoh siapa-siapa.
Jalan cerita “Petruk Jadi Ratu” pada akhirnya bisa disepakati begitu dekat dengan ungkapan filosofis seorang Arthur Schopenhauer ini, hasrat kemanusiaan dalam bentuknya pencarian kekuasaan dengan jalan yang menyalahi aturan dan kodrat sesungguhnya tidak akan berakhir dengan kebahagiaan.
“Petruk Jadi Ratu” menceritakan Petruk yang membawa lari pusaka Jamus Kalimasada milik Puntodewo karena ingin nempil kamukten (ingin merasakan menjadi raja sebentar saja). Dengan menggunakan Jamus Kalimasada itu, Petruk kemudian mengalahkan Prabu Joyo Sentiko untuk menguasai kerajaan Trangkencono.
Petruk yang telah menjadi raja mengubah namanya menjadi Prabu Bel Geduwel Beh. Petruk menjadi arogan dengan meminta istri-istri dari Prabu Joyosentiko. Belum cukup, Petruk menantang raja-raja tiga negara yaitu Ngamarto, Manduro dan Dwarawati (yang notabene dipimpin para Pendowo, tuan dari Petruk sendiri)
Dalam perang tanding dengan para Pandowo, Petruk berhasil menang karena menggunakan Jamus Kalimasada. Kedigdayaan seorang Janaka, Puntadewa dan Werkudara hilang ketika dikenai Jamus Kalimasada. Namun petualangan Petruk harus berakhir ketika kalah perang dengan Gareng yang sudah diberi senjata rahasia oleh Kresna. Petruk menjadi punakawan kembali untuk mengabdi pada keluarga Pandawa.
Pesan-pesan moral tentang kekuasaan, penghargaan terhadap wong cilik, penegakan aturan tersampaikan secara gamblang dan kuat dalam pementasan “Petruk Jadi Ratu” yang dimainkan Paguyuban Wayang Orang Trisno Budoyo bekerjasama dengan Paguyuban Yati Pesek ini (lihat Sabtu, Wayang Orang “Petruk Jadi Ratu” di Societied TBY, 17 Juni 2010)
Hal itu diakui oleh mantan Menteri Dalam Negeri Mardiyanto yang turut menyaksikan pementasan “Petruk Jadi Ratu” yang berdurasi lebih dari dua jam ini. Pesan-pesan moral pesan-pesan pembangunan melalui pementasan ini bisa tersampaikan lebih humanis. Budaya menjadi media untuk menyentuh rakyat secara lebih humanis.
“Pesan-pesan bisa diberikan lewat budaya sehingga masyarakat juga tahu. Jadi dengan budaya itu sentuhan kepada masyarakat lebih humanis. Menyampaikan pesan dengan budaya itu lebih humanis daripada dengan aturan-aturan,” jelas mantan Gubernur Jawa Tengah ini seusai pementasan.
Menurut Mardiyanto, budaya Jawa adalah budaya luar biasa karena ditengah kondisi bangsa yang sedang banyak persoalan saat ini, budaya tampil menjadi media penyampai pesan yang ideal. Maka sudah seharusnya semua pihak memperhatikan budaya.
“Saya mengapresiasi pertunjukan ini. Budaya jawa luar biasa. Ditengah kondisi bangsa seperti ini. Budaya memang harus diperhatikan semua pihak,” kata Mardiyanto seraya memuji Walikota Yogyakarta Herry Zudianto yang terlibat dalam pertunjukan ini dengan menyampaikan pesan-pesan pembangunan.
“Saya sangat bangga dengan Pak Herry. Saya kita contoh nyata bagaimana beliau mengemban tugas pemerintah namun tetap ikut memperhatikan budaya,” ujar Mantan Pangdam IV Diponegoro yang sekarang tinggal di Sleman Yogyakarta ini.
Hal senada juga diungkapkan Walikota Yogyakarta Herry Zudianto yang dalam pementasan tadi malam, hadir di panggung sebagai tokoh masyarakat. Walikota mengatakan penghargaan sebesar-besarnya kepada seniman-seniman yang mempunyai perhatian luar biasa untuk melestarikan tradisi wayang orang.
“Tanpa harus meninggalkan pakem tradisinya, tapi tetep juga ada penyesuaian waktu, humor, sehingga wayang orang ini masih menjadi satu alternatif tontonan yang saya kira layak ditonton,” kata Herry Zudianto usai pementasan.
Political will Herry Zudianto tak berhenti di retorika. Keberpihakan orang nomor satu di Kota Yogyakarta ini segera dilanjutkan dengan dibuatnya peraturan daerah tentang pajak hiburan nol persen untuk pertunjukan seni budaya.
“Kemarin saya usulkan pajak hiburan diPperda 0 persen agar hidup.selama ini kita hanya prihatin, seni tradisi ditinggalkan. Sponsor juga susah lha kok masih dikasih pajek hahaha. Kalau bisa diberi subsidi,” demikian Herry Zudianto. (The Real Jogja/joe)
Sabtu, Wayang Orang “Petruk Jadi Ratu” di Societed TBY
“Ora ketung seumur jagong kratonmu meh tak silih,” kata Petruk kepada Raja Trangkencono, Joyo Sentiko.
“Kowe kepengin dadi ratu rumangsamu gampang dadi ratu,” jawab Joyo Sentiko.
Itu adalah penggal adegan dari pentas wayang orang “Petruk Jadi Raja” yang akan dipentaskan oleh Paguyuban Wayang Orang Trisno Budoyo bekerjasama dengan Paguyuban Yati Pesek di Societed Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (19/6). Pementasan wayang orang ini menjadi rangkaian dari kegiatan Festival Kesenian Yogyakarta 2010.
Yati Pesek, selaku ketua Paguyuban Yati Pesek menerangkan sebanyak 35 pemain akan memainkan lakon “Petruk Jadi Raja” selama 2 jam lebih durasi pementasan. Nama-nama populer seniman panggung Yogyakarta seperti Wis Ben akan bersama-sama bermain dengan pengusaha, pengajar seperti Hamzah Mirota, Danik, dan Prof. Harsono membuat pementasan dijamin bakal meriah.
Pentas wayang orang “Petruk Jadi Raja” ini disutradarai Bekti Budi Astuti. Sementara dalang pementasan adalah dr Wigung Wratsangka yang seorang dokter. Penata tari dipercayakan kepada Pardiman. Yati Pesek akan menjadi raja Trangkencono, Joyo Sentiko. Tokoh Petruk akan diperankan oleh Wis Ben.
Naskah “Petruk Jadi Raja” ini ditulis oleh Seno BK. Cerita “Petruk Menjadi Raja” mengisahkan keinginan Petruk menjadi raja karena menurut banyak orang menjadi raja itu enak. Modal Petruk menjadi raja adalah senjata Jamus Kalimasada yang ia ambil dan dibawa lari dari Prabu Puntodewo.
“Raja Joyo Sentiko dijeki (ditundukkan) oleh Petruk dengan menggunakan pusaka Jamus semua raja bersama pasukannya semua kalah,” kata Bekti Budi Astuti, Kamis (17/6) di tempat latihan, Rumah Dinas Walikota Yogyakarta.
Tapi setelah Peturk menjadi raja, keadaan kerajaan Trangkencono menjadi tentram, aman dan bahagia. Namun petualangan Petruk harus berakhir di tangan Prabu Kresna.
“Rak tenan tha,.. wong edan ora tata .. heh Petruk, … kowe akal-akalan dari ratu kuwi karepmu piye?” tanya Kresna.
Petruk menjawab,”Nyuwun pangapunten sinuwun, mumpung kulo mundi Kyai Jamus Kalimosodho… kulo ngginakaken ngiras pantes nuruti manah kulo, ..kepengin ngraosaken dados ratu,.. pun kelampahan..lego manah kulo.”
“Wong ra genah.. ayo saiki Kalimosodho diaturke Yayi Prabu Puntadewa…,” pinta Krisna.
Pementasan wayang orang “Petruk Jadi Raja” ini menurut Yati Pesek akan berlangsung serius namun tetap menghadirkan humor yang kental. Pementasan seperti ini dimaksudkan agar penonton tidak merasa terlalu berat menikmati wayang orang.
“Pementasan ini demi budaya kita, kalau tidak kita lalu siapa lagi. Ini budaya kita,” kata Yati Pesek yang sudah merencanakan untuk pementasan wayang orang selanjutnya pada Desember mendatang.
Pada pementasan Sabtu(19/6) mendatang, penonton yang ingin menyaksikan lakon “Petruk Jadi Ratu” akan dikenai tiket menonton sebesar Rp50 ribu rupiah. (The Real Jogja/joe)
“Kowe kepengin dadi ratu rumangsamu gampang dadi ratu,” jawab Joyo Sentiko.
Itu adalah penggal adegan dari pentas wayang orang “Petruk Jadi Raja” yang akan dipentaskan oleh Paguyuban Wayang Orang Trisno Budoyo bekerjasama dengan Paguyuban Yati Pesek di Societed Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (19/6). Pementasan wayang orang ini menjadi rangkaian dari kegiatan Festival Kesenian Yogyakarta 2010.
Yati Pesek, selaku ketua Paguyuban Yati Pesek menerangkan sebanyak 35 pemain akan memainkan lakon “Petruk Jadi Raja” selama 2 jam lebih durasi pementasan. Nama-nama populer seniman panggung Yogyakarta seperti Wis Ben akan bersama-sama bermain dengan pengusaha, pengajar seperti Hamzah Mirota, Danik, dan Prof. Harsono membuat pementasan dijamin bakal meriah.
Pentas wayang orang “Petruk Jadi Raja” ini disutradarai Bekti Budi Astuti. Sementara dalang pementasan adalah dr Wigung Wratsangka yang seorang dokter. Penata tari dipercayakan kepada Pardiman. Yati Pesek akan menjadi raja Trangkencono, Joyo Sentiko. Tokoh Petruk akan diperankan oleh Wis Ben.
Naskah “Petruk Jadi Raja” ini ditulis oleh Seno BK. Cerita “Petruk Menjadi Raja” mengisahkan keinginan Petruk menjadi raja karena menurut banyak orang menjadi raja itu enak. Modal Petruk menjadi raja adalah senjata Jamus Kalimasada yang ia ambil dan dibawa lari dari Prabu Puntodewo.
“Raja Joyo Sentiko dijeki (ditundukkan) oleh Petruk dengan menggunakan pusaka Jamus semua raja bersama pasukannya semua kalah,” kata Bekti Budi Astuti, Kamis (17/6) di tempat latihan, Rumah Dinas Walikota Yogyakarta.
Tapi setelah Peturk menjadi raja, keadaan kerajaan Trangkencono menjadi tentram, aman dan bahagia. Namun petualangan Petruk harus berakhir di tangan Prabu Kresna.
“Rak tenan tha,.. wong edan ora tata .. heh Petruk, … kowe akal-akalan dari ratu kuwi karepmu piye?” tanya Kresna.
Petruk menjawab,”Nyuwun pangapunten sinuwun, mumpung kulo mundi Kyai Jamus Kalimosodho… kulo ngginakaken ngiras pantes nuruti manah kulo, ..kepengin ngraosaken dados ratu,.. pun kelampahan..lego manah kulo.”
“Wong ra genah.. ayo saiki Kalimosodho diaturke Yayi Prabu Puntadewa…,” pinta Krisna.
Pementasan wayang orang “Petruk Jadi Raja” ini menurut Yati Pesek akan berlangsung serius namun tetap menghadirkan humor yang kental. Pementasan seperti ini dimaksudkan agar penonton tidak merasa terlalu berat menikmati wayang orang.
“Pementasan ini demi budaya kita, kalau tidak kita lalu siapa lagi. Ini budaya kita,” kata Yati Pesek yang sudah merencanakan untuk pementasan wayang orang selanjutnya pada Desember mendatang.
Pada pementasan Sabtu(19/6) mendatang, penonton yang ingin menyaksikan lakon “Petruk Jadi Ratu” akan dikenai tiket menonton sebesar Rp50 ribu rupiah. (The Real Jogja/joe)
Petruk Dadi Ratu, Sabtu Malam Siap Dipentaskan
YOGYA (KRjogja.com) - Dalam rangka memeriahkan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XXII, Paguyuban Tresno Budoyo, Padepokan Yati Pesek, seniman-seniman Yogyakarta beserta tokoh masyarakat yang ada di Yogyakarta akan menggelar pentas wayang orang atau wong (bahasa jawa-red) berjudul "Petruk Dadi Ratu". Pagelaran ini merupakan wujud kecintaan seniman akan wayang wong dengan konsep yang dikemas secara homoris dan tidak meniadakan unsur-unsur seni didalamnya.
Para pemain yang terlibat diantaranya Yati Pesek, Hamzah "Mirota Batik", Rob Harsono, Danik, Misben, AldO Iwak kebo, Pentil dan turut didukung Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto yang akan menjadi tokoh masyarakat dan menyampaikan visi dan misi Yogyakarta. Selain seniman-seniman kenamaan Yogyakarta tesebut, wayang wong ini juga didukung 15 penari dari ISI Yogyakarta.
Pemain utama wayang ini, Yati Pesek mengatakan cerita yang dipentaskan ini nantinya berdurasi selama 2 jam, dengan naskah yang disutradarai oleh Seno DK dan penata tari Bekti Budi Hastuti. Yati mengatakan dia akan berperan sebagai Parbu Joyosentiko dengan menunjukkan kelihaian wanita dalam berperan sebagai lekaki.
"Wayang ini tetaplah berkonsep wayang wong humor di Socitet Taman Budaya Yogyakarta, yang nantinya akan menampung 300 penunton dengan harga tiket Rp 50ribu," kata Yati yang ditemui di Pendopo Rumah Dinas Walikota Yogyakarta, Kamis (17/6)
Mengenai dana, Yati mengatakan pertunjukan ini sepenuhnya berdasarkan dana sukarela dari para pemain yang terlibat dan ada sumbangan dari tokoh-tokoh masyarakat yang menelan dana operasional hampir Rp 30juta.
"Para pemain tanpa honor, malah memberikan sumbangan untuk pendanaan tersebut. Mereka yang mempunyai jiwa seniman ternyata sangat peduli sampai rela berkorban demi cintanya kepada dunia seniman, khususnya wayang wong," ungkap Yati
Yati mengatakan senang terhadap wayang wong sehingga begitu peduli dengan kelestarian seni tradisional ini, sehingga mau memberi banyak bantuan dana.
Bahasa yg digunakan campuran Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia dengan cerita yang dikemas dengan humor segar. Pementasan ini akan digelar Hari Sabtu (19/6) di Societet Taman Budaya Yogyarta pukul 19.00 Wib. Direncanakan pertunjukan ini nantinya akan dihadiri Mantan Menteri Dalam Negeri, Mardiyanto. (Fir)
Para pemain yang terlibat diantaranya Yati Pesek, Hamzah "Mirota Batik", Rob Harsono, Danik, Misben, AldO Iwak kebo, Pentil dan turut didukung Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto yang akan menjadi tokoh masyarakat dan menyampaikan visi dan misi Yogyakarta. Selain seniman-seniman kenamaan Yogyakarta tesebut, wayang wong ini juga didukung 15 penari dari ISI Yogyakarta.
Pemain utama wayang ini, Yati Pesek mengatakan cerita yang dipentaskan ini nantinya berdurasi selama 2 jam, dengan naskah yang disutradarai oleh Seno DK dan penata tari Bekti Budi Hastuti. Yati mengatakan dia akan berperan sebagai Parbu Joyosentiko dengan menunjukkan kelihaian wanita dalam berperan sebagai lekaki.
"Wayang ini tetaplah berkonsep wayang wong humor di Socitet Taman Budaya Yogyakarta, yang nantinya akan menampung 300 penunton dengan harga tiket Rp 50ribu," kata Yati yang ditemui di Pendopo Rumah Dinas Walikota Yogyakarta, Kamis (17/6)
Mengenai dana, Yati mengatakan pertunjukan ini sepenuhnya berdasarkan dana sukarela dari para pemain yang terlibat dan ada sumbangan dari tokoh-tokoh masyarakat yang menelan dana operasional hampir Rp 30juta.
"Para pemain tanpa honor, malah memberikan sumbangan untuk pendanaan tersebut. Mereka yang mempunyai jiwa seniman ternyata sangat peduli sampai rela berkorban demi cintanya kepada dunia seniman, khususnya wayang wong," ungkap Yati
Yati mengatakan senang terhadap wayang wong sehingga begitu peduli dengan kelestarian seni tradisional ini, sehingga mau memberi banyak bantuan dana.
Bahasa yg digunakan campuran Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia dengan cerita yang dikemas dengan humor segar. Pementasan ini akan digelar Hari Sabtu (19/6) di Societet Taman Budaya Yogyarta pukul 19.00 Wib. Direncanakan pertunjukan ini nantinya akan dihadiri Mantan Menteri Dalam Negeri, Mardiyanto. (Fir)
Subscribe to:
Posts (Atom)
