c

Friday, 5 February 2010

Sumbu Filosofi Utara Selatan

 Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota yang unik dalam hal bentuk pola tata ruangnya. Keunikan ini disebabkan karena dalam tata ruang kota terdapat suatu poros sumbu imajiner.

Poros ini membentang dari arah Utara – Selatan (Gunung Merapi – Tugu Pal Putih – Kraton Yogyakarta – Panggung Krapyak – Laut Selatan) membentuk suatu jalur linear dan menghubungkan beberapa simbol-simbol fisik yang mempunyai makna nilai filosofis.








 Konsep filosofis kota ini (sumbu imajiner) telah dipikirkan, direncanakan dan ditanamkan jauh sebelum terbentuknya Ngayogyakarta Hadiningrat oleh seorang Raja I (pertama) Kraton Kasultanan Yogyakarta yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono I. Sungguh merupakan suatu karya agung dalam bidang arsitektural di tahun 1756.

Sangkan paraning dumadi / hablun minallah / Unity man and God
Panggung Krapyak – Kraton Yogyakarta - Tugu

Manunggaling kawula lan Gusti / hablun minannas / Unity of king and people
Pantai Parangtritis – Kraton Yogyakarta – Gunung Merapi

 Gambaran singkat mengenai konsep filosofis tersebut adalah:
Bahwa dari ujung Utara – Selatan, dari Gunung Merapi sampai ke Laut Selatan adalah pengejawantahan proses perjalanan hidup manusia mulai dari kelahiran sampai kematian.

 Bagian penggal Tugu – Kraton Yogyakarta – Panggung Krapyak; dimaknai sebagai lambang pusat pengendalian. Di tempat inilah diselenggarakan berbagai macam ritual yang memberikan petunjuk hidup dan kehidupan sebelum menuju alam fana, dilambangkan dengan alun-alun Kidul yang sepi, jauh dari hiruk pikuk duniawi (Sangkan paraning dumadi / hablun minallah / Unity man and God).

 Bagian penggal Tugu – Pasar Beringharjo – Alun-alun Utara; dimaknai sebagai lambang kegiatan duniawi, atau ketika manusia menjalin hubungan sosial dengan sesama manusia dan alam dalam melakukan kegiatan sosial untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup.

 Bagian penggal Tugu – Malioboro – Kraton Yogyakarta; dimaknai sebagai penghubung fase kehidupan manusia yang telah mencapai posisi puncak duniawi. Fase ini disimbolkan sebagai jalan lurus menuju ke Utara yang berujung pada Tugu Pal Putih (golong gilig) sebagai perwujudan rakyat dan raja (manunggaling kawula lan Gusti / hablun minannas / Unity of king and people).


Siapapun yang berada di puncak kekuasaan hendaknya masih memandang prinsip bahwa semua yang ada di dunia adalah aliran rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa.
[Kraton Jogja. The History and Cultural Heritage. Tahun 2002]
[Malioboro. Sunyoto Usman dan BAPPEDA Kota Yogyakarta. Tahun 2006]
[Mengenal Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Fredy Haryanto. Tahun 2003]





 Kraton Yogyakarta
 Tugu Pal Putih (Golong Gilig)
 Kota Gede
 Benteng Vredeburg
 Pasar Beringharjo,
 Pasar Ngasem, Taman Sari, PulauCemeti, dll…

Wayang kulit

 Bila ditilik dari aspek kesejarahan, dengan memperhatikan fakta sejarah seperti artefak tentang wayang kulit akan menemukan banyak kesulitan. Hal ini disebabkan karena wayang berasal dari bahan kulit, yang jelas berbeda dengan bahan batu atau logam dimana bahan kulit tersebut tidak akan tahan lama dan akan hancur ditelan masa.
Untuk melacak tentang tatahan dari wayang kulit dapat dicermati melalui karya-karya sastra. Diantaranya adalah karya sastra Empu Kanwa yaitu serat Harjuna Wiwaha. Dalam salah satu baris dari bait dalam serat tersebut menyebutkan kata walulang inukir, dalam bahasa jawa menjadi lulang inukir. Lulang adalah kulit dari binatang, sedang inukir adalah sebuah kata yang artinya diukir atau ditatah.

 Ciri wayang kulit tidak dapat dilihat dengan mudah sehingga dalam mengklasifikasi jenisnya perlu dilakukan identifikasi secara mendalam. Berdasarkan pengamatan dan pencermatan serta perbandingan yang dilakukan terhadap wujud atau bentuk wayang kulit, Wayang Kulit Yogyakarta mempunyai ciri khas sebagai berikut:
1. Pada dasarnya wayang kulit Yogyakarta menggambarkan wayang ringgit; bergerak; berjalan, hal ini ditandai dengan tampilan posisi kaki yang melangkah lebar, tertutama pada tokoh wayang jangkahan (gagahan). Pada kaki kiri atau kaki belakang digambarkan posisi telapak kakinya miring atau jinjit. Tampilan yang demikian dianggap lebih gagah, ekspresif dan dinamis.

2. Tampilan bentuk yang tambun, yaitu penggambaran tubuh yang pendek dan kekar (gemuk) yang dinamakan dengan depah. Bagian kepala tampak agak besar. Kaki digambarkan lebih pendek, hal ini berkaitan dengan fungsi wayang dalam pagelaran wayang jika terkena sinar / lampu blencong, kaki tersebut akan tampak memanjang terlihat dari belakang kelir, sehingga akan terlihat lebih proporsional.

3. Tampilan tangan sangat panjang sampai menyentuh kaki. Hal ini berkaitan dengan fungsi wayang dalam pagelaran, saat kegiatan menyembah membutuhkan tangan yang mampu menyentuh hidung tokoh, sehingga dibutuhkan ukuran tangan yang panjang.

4. Jika dicermati tatahannya, dapat diketahui bahwa hampir semua wayang menggunakan unsur tatahan yang dinamakan inten-intenan.

5. Jika dicermati dari sunggingannya, menggunakan sungging tlacapan yang pada masa lampau disebut dengan sorotan, yaitu unsur sungging yang berbentuk segitiga terbalikyang lancip-lancip seperti bentuk tumpal pada kain batik.

6. Pada bagian siten-siten atau lemahan, yaitu bagian diantara kaki depan dan belakang, umumnya diwarnai dengan warna merah.

 Pemilihan warna dalam sungging wayang kulit tidak hanya sekedar memperindah penampilan, tetapi memiliki nilai yang lebih mendalam yang berkaitan dengan masalah simbol atau perlambang. Perlambangan ini berkaitan dengan sifat atau karakter tokoh wayang. Pemberian warna biasanya pada wajah/muka tokoh.
1. Warna muka:merah,merah muda
Menggambarkan sifat perwatakan yang keras, kurang sabar, mudah emosi (panas-baran), pemberani, angkara.
2. Warna muka: hitam
Menggambarkan sifat perwatakan yang sentausa, bijaksana, langgeng, luhur dan bertanggung jawab.
3. Warna muka: putih
Menggambarkan sifat perwatakan yang bersih dan suci.
4. Warna muka: perana/kuning emas
Menggambarkan sifat perwatakan yang sedang (sepadho-padho, tepo seliro)
5. Warna muka: biru, hijau
Menggambarkan sifat perwatakan yang picik, berpikiran sempit, penakut dan tidak bertanggung jawab.

 Dalam cerita wayang banyak pelajaran yang dapat kita petik karena dalam cerita pewayangan mengandung nilai-nilai luhur. Nilai-nilai inilah yang sebenarnya ingin disampaikan agar kita mempunyaikematangan berpikir, kearifan bertindak dan kedewasaan berperilaku, sehingga sebagai manusia kita mampu menjadi khalifah di muka bumi ini, sekaligus sebagai mahluk yang berakal sempurna.
Cerita pewayangan ini juga menggambarkan kebaikan dan keburukan, agar kita bisa memetik pelajaran mengenai hal-hal yang bersifat baik atau buruk.
[Wayang Kulit Gaya Yogyakarta, Bentuk dan Ceritanya. Subarto dan Subagio. Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kantor Perwakilan Daerah, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun 2004.]

Batik

 Yogyakarta sebagai salah satu pusat batik klasik dengan ciri pola warna yang menonjol dimana warna biru nila dipadu dengan soga coklat yang hangat berlatarkan warna putih bersih. Berbagai teknik celup menghias kain adat telah dikenal sejak dahulu kala memungkinkan seni batik berkembang dari teknik tritik yang diterapkan pada kain kembangan seperti ikat kepala, kemben, sabuk dan dodot dengan hiasan pola tengahan serta seret yang berombak.

 Perkembangan teknik yang menghasilkan kain batik bermutu tinggi ditunjang dengan munculnya canting tulis, sauatu alat membatik yang terdiri atas wadah kuningan bercorong dan dipasang pada sebuah gagang buluh bambu kecil.

 Hasil karya seni batik mencapai titik puncak keindahan didalam lingkungan kraton. Golongan tersebut mempunyai cita rasa keindahan yang tinggi untuk menggambarkan pola-pola yang rumit dan indah serta penuh mistik.

 Pada awalnya, penggunaan pola kain batik mempunyai aturan atau etika. Terdapat pola jenis tertentu yang merupakan jenis pola “larangan” dan pemakaiannya hanya diperbolehkan untuk kerabat raja, tidak boleh digunakan oleh masyarakat kebanyakan. Aturan pemakaian pola ini disesuaikan menurut tingkat kedudukan seseorang maupun menurut peristiwa pada saat apa pola kain batik tersebut boleh dipakai.

Mulai akhir abad ke-18 Sultan Yogyakarta menentukan pola batik sebagai pola “larangan”.
Pola tersebut diantaranya: Parang Rusak Barong Turun, Parang Rusak Barong Seling Nitik, Parang Rusak Seling Manggaran, Semen Ageng Sawat Gurdha, Kawung, Rujak Senthe, Udan Liris.
Misanya: dalam pemakaiannya, ragam hias lar (sayap burung garuda) hanya boleh dipakai oleh putera raja yang bergelar pangeran.
Akan tetapi seiring dengan pekembangan jaman, banyak para pengusaha batik di Yogyakarta yang telah memproduksi pola-pola tersebut dengan teknik cetakan cap dan diperjual belikan secara bebas. Akibatnya makin banyak pola batik yang dahulu merupakan pola “larangan” kini dipakai oleh orang kebanyakan.
[Sekaring Jagad Ngayogyakarta Hadiningrat. Wastraprema. Tahun 1990.]




 Batik yang telah dianggap sebagai Mega Karya ini diciptakan oleh para seniman N.N. (no name) / tanpa nama yang larut dalam kemegahannya arti karyanya di masyarakat; adalah puncak keindahan yang menakjubkan, menampilkan garis kuat dalam kesederhanaan yang sempurna dengan latar yang putih bersih.

 Dengan ketrampilan yang halus dan teliti, mereka dapat menggariskan lilin panas dengan teratur,dengan garis lurus, lengkung, bahkan bergelombang atau patah, dan mampu menyelesaikan pewarnaan alami tanpa cacat.
[Batik, Ragam Hias Parang dan Lereng. Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad. Tahun 2002.]

Sekaten

 Menurut sejarahnya, perayaan Sekaten bermula sejak jaman kerajaan Majapahit jaman pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Namun ketika kerajaan Majapahit runtuh, perayaan ini tetap ada pada jaman kerajaan Islam Demak.
Upacara ini oleh Raden Patah (Raja Demak Pertama) dengan disertai dukungan para wali, diselenggarakan dengan lebih bersifat Islami serta menjadi sarana pengembangan (syiar) Islam. Dalam upacara ini dibunyikan gamelan bernama Kyai Sekati. Berawal dari kata sekati inilah kemudian berubah menjadi kata sekaten.
Saat gamelan dibunyikan, akan memiliki daya panggil yang besar kepada masyarakat sekitar untuk datang dan menyaksikannya. Kepada mereka kemudian diberikan penyuluhan dan penerangan tentang agama Islam.

 Perayaan Sekaten diselenggarakan di Kraton Yogyakarta pada setiap tanggal 5 hingga 11 Mulud (Jawa) dalam rangka perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Pada perayaan ini 2 (dua) perangkat gamelan yang bernama Kyai Guntur Madu (dari Demak) dan Kyai Nagawilaga (ciptaan Sri Sultan HB I) dikeluarkan dari Bangsal Ponconiti menuju halaman Masjid Agung.
Kyai Guntur Madu ditempatkan di Pagongan Selatan, Kyai Nagawilaga ditempatkan di Pagongan Utara. (pagongan adalah bangunan berbentuk panggung untuk menempatkan sekaligus membunyikan gamelan; terletak di halaman depan Masjid Agung)
Dengan gending-gending tertentu ciptaan para wali, dibunyikanlah gamelan tersebut secara bergantian selama 7 (tujuh) hari pada jam 08.00-12.00 wib, 14.00-17-00 wib, 20.00-24.00 wib, kecuali hari Kamis Malam sampai Jumat siang sehabis Sholat Jumat.

 Inti dari perayaan ini berupa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 11 Mulud Malam di Serambi Masjid Agung. Perayaan ini bersifat resmi dengan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW oleh Abdidalem Penghulu Kraton di hadapan Sultan. Setelah upacara selesai kemudian 2 (dua) perangkat gamelan sekaten tersebut diusung kembali menuju Kraton.
[Mengenal Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Fredy Haryanto. Tahun 2003]

Upacara Adat

 Masyarakat Yogyakarta sangat akrab dengan apa yang dinamakan upacara tradisi, dalam upacara tradisi ini banyak muatan simbolik yang mencerminkan norma-norma budaya yang berlaku di masyarakat. Sampai saat ini masyarakat yogyakarta masih melaksanakan upacara tradisi yang mengandung nilai-nilai dan makna yang begitu signifikan bagi pengembangan budaya tradisi, karena upacara tersebut diyakini oleh orang jawa sebagai simbol keselarasan, keserasian, dan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta.
[Upacara Daur Hidup di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jilid I. Dinas Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun 2005.]

 Upacara adat sebagai perangkat simbol warisan nenek moyang merupakan sumber informasi kultural yang tidak tertulis, tetapi mengandung nilai-nilai dan makna yang begitu signifikan bagi pemangku budaya lokal maupun khayalak luas yang berminat memahaminya.

 Adapun tujuan pokok dari penyelenggaraan upacara adat adalah sebagailangkah alternatif mencari keselamatan, ketentraman, dan menjaga kelestarian alam (harmonisasi kosmos). Keyakinan atau pemikiran yang muncul dibalik aktifitas tersebut adalah usaha untuk membangun relasi /hubungan antara dunia bawah (manusia-mikrokosmos) dengan dunia atas (Tuhan-makrokosmos).
Dalam pelaksanaan upacara adat, beberapa hal yang perlu diperhatikan:
 Pemberian nama
 Latar belakang
 Tempat penyelenggaraan
 Waktu pelaksanaan
 Tujuan upacara
 Tahapan pelaksanaan (ubarampe, tirakat)
 Prosesi upacara
Selain itu hal lain yang perlu dipahami adalah makna-makna simbolik yang terdapat dalam upacara adat serta berbagai pantangan yang harus dipatuhi, baik oleh pelaksana maupun pengunjung yang hadir.

 Upacara adat merupakan budaya tradisional yang bersifat spiritual, sebab dalam upacara adat senantiasa mengungkapkan, menanamkan dan memasyarakatkan nilai-nilai luhur budaya bangsa dalamrangka memperkokoh jatidiri dan kebpribadian bangsa. Dengan demikian upacara adat tidak seharusnya dipertentangkan dengan nilai-nilai agama sehingga ajaran dalam agama dan nilai luhur budaya dapat berjalan secara bersama.
[Buku Pedoman Pelaksanaan Upacara Adat. Dinas Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun 2005.]