c

Saturday, 6 February 2010

DARI KABANARAN KE KARATON YOGYAKARTA

Oleh : YUWONO SRI SUWITO

Mung wanine padha bangsa, den rewangi taker pati, jamak wong ngaku prawira, kaya Sultan Mangkubumi, nyata lamun undhagi, awewika gothak - gathuk , micara tan sikara, prasaja nalare mintir, lamun aprang padha bangsa datan karsa.

Tembang di atas adalah salah satu bait tembang Sinom dari Serat Wicara Keras karangan pujangga Yasadipura II yang menggambarkan sosok Pangeran Mangkubumi dengan segala kepribadian dan keahliannya. Sebagai seorang panglima perang yang tidak mau berperang dengan sesama bangsa, pribadi yang halus tetapi tegas namun tidak menyakiti, sebagai seorang arsitek ulung yang dibuktikan dengan dibangunnya kraton Yogyakarta dengan beliau sendiri sebagai arsiteknya. Dr. F. Pigeaud dan Dr. L. Adam di majalah Jawa tahun 1940 mengatakan bahwa B.P.H Mangkubumi adalah "de bouwmeester van zijn broer Sunan PB II" (arsitek dari kakanda Sunan Paku Buwana II).

B.P.H (Bandara Pangeran Harya) Mangkubumi dan di banyak tulisan lebih terkenal dengan sebutan P. Mangkubumi (Pangeran Mangkubumi) adalah putera Sunan Amangkurat IV (Sunan Amangkurat Jawi) dari garwa ampil B.M.A (Bandara Mas Ayu) Tejawati. B.P.H Mangkubumi lahir pada malam Rabu Pon, 27 Ruwah, tahun Wawu 1641 J. atau tanggal 5 Agustus 1717 M. dengan nama kecil B.R.M Sudjana. Beliau mempunyai dua saudara kandung yang semuanya wanita. Kakak beliau menjadi isteri Patih Pringgalaya (warangka dalem Sunan Paku Buwana II dan Sunan Paku Buwono III), sedang adik beliau diperisteri oleh Demang Urawan.

B.P.H Mangkubumi sangat disayang oleh kakandanya Sunan Paku Buwana II karena keshalehan, kecerdasan, kearifan dan keahliannya baik di bidang kepemimpinan, kaprajan, kaprajuritan maupun di bidang bangunan. Hal inilah yang menjadi irihati kakak iparnya sendiri yakni patih Pringgalaya. Puncak dari irihati dan kelicikan patih Pringgalaya ini terjadi pada waktu B.P.H Mangkubumi dapat meredam pemberontakan R.M Said dan T. Martapura sehingga B.P.H Mangkubumi mendapat hadiah dari Sunan Paku Buwana II tanah 3000 cacah (rumahtangga = household) di daerah Sukawati. Patih Pringgalaya tidak setuju dengan pemberian hadiah tanah 3000 cacah di Sukawati tersebut, karena menurut patih Pringgalaya pemberian hadiah tersebut akan membuat irihati bangsawan lain dan membahayakan kedudukan Sunan Paku Buwana II, dan lagi pula R.M Said dan T. Martapura belum tertangkap. Dengan tipu muslihatnya patih Pringgalaya menyampaikan bahwa apabila Sunan Paku Buwana II jadi memberikan hadiah tanah 3000 cacah di Sukawati kepada B.P.H Mangkubumi, maka patih Pringgalaya dan para Bupati Nayaka akan mengundurkan diri bersama-sama, sehingga Sunan Paku Buwana II tinggal pilih seorang B.P.H Mangkubumi atau punggawa yang banyak. Usaha patih Pringgalaya untuk menggagalkan hadiah tanah 3000 cacah ini tidak hanya disampaikan kepada Sunan Paku Buwana II, tetapi juga disampaikan kepada Gubernur Jenderal Baron van Imhoff untuk minta dukungannya.

Kedatangan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff di Karaton Surakarta untuk mengurus pelebaran tanah yang akan dikuasai VOC lebih luas dari perjanjian tahun 1743 (Perjanjian Panaraga), yakni Sunan Paku Buwana harus menyerahkan tanah pesisir kepada VOC. Dengan tekanan yang kuat akhirnya Sunan Paku Buwono II menyerahkan daerah pesisir yang diminta oleh VOC dengan menandatangani perjanjian pada tanggal 18 Mei 1746. Dengan penyerahan daerah pesisir kepada VOC inilah yang menyebabkan B.P.H Mangkubumi kecewa. Puncak kekecewaan dan kemarahan B.P.H Mangkubumi adalah dibatalkannya hadiah tanah 3000 cacah di Sukawati oleh Sunan Paku Buwana II atas permintaan GG van Imhoff yang telah mendapat hasutan dari patih Pringgalaya, ditambah dengan tersinggungnya perasaan B.P.H Mangkubumi atas ucapan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff agar B.P.H Mangkubumi jangan ambisius minta hadiah tanah Sukawati dan agar jangan jadi orang serakah. Maka pada tanggal 19 Mei 1746 B.P.H Mangkubumi beserta keluarga dan pengikut setianya meninggalkan Keraton Surakarta menuju Sukawati dan mesanggrah di dusun Pandhak Karangnangka. Pada hari itulah sesungguhnya mulainya perjuangan dan perlawanan B.P.H Mangkubumi terhadap Kumpeni yang dibantu oleh Sunan Paku Buwana II dan kemudian dilanjutkan oleh Sunan Paku Buwana III. Keputusan B.P.H Mangkubumi untuk berperang ini disebabkan akumulasi kekecewaan beliau yang disebabkan karena :

a. Dicabutnya hadiah tanah 3000 cacah di Sukawati yang telah diberikan kepada B.P.H Mangkubumi, berarti Sunan Paku Buwana II mengingkari janjinya sebagai raja yang seharusnya memegang teguh "Sabda Pandhita pangandika Ratu, sepisan datan kena wola-wali" yang juga mengingkari watak "berbudi bawa leksana" (satunya kata dengan perbuatan).

b. Sunan Paku Buwana II lebih percaya pada patih Pringgalaya dan T. Sindureja daripada dirinya, sehingga melepaskan pesisir Jawa kepada VOC hanya dengan kompensasi dua leksa. Padahal B.P.H Mangkubumi menyarankan minta ganti sakethi karena tanah pesisir sebagai kekuatan Karaton Surakarta. Apabila VOC tidak mau mengganti sakethi, maka tanah pesisir tersebut harus dipertahankan.

c. B.P.H Mangkubumi sangat tersinggung dengan ucapan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff yang menuduh B.P.H Mangkubumi sebagai orang yang ambisius dan serakah.
Dari sumber lain (Babad Giyanti) menyatakan bahwa Komandan Belanda von Hohendorff mengusulkan kepada Sunan Paku Buwana II untuk mengurangi hadiah kepada B.P.H Mangkubumi dari 3000 cacah menjadi 1000 cacah saja. Disamping itu dalam babad Giyanti juga disebutkan bahwa kepergian B.P.H Mangkubumi dari Surakarta mendapat restu Sunan Paku Buwana II , bahkan B.P.H Mangkubumi diberi tombak pusaka Kanjeng Kyai Ageng Plered sebagai sipat kandel. Hampir sama dengan Babad Giyanti di dalam buku Ngayogyakarta Pagelaran, karya Raden Ngabehi Kartahasmara, abdi Dalem Mantri Miji Kepatihan juga menyebutkan bahwa Pangeran Mangkubumi mengangkat senjata bukan atas perintah Sunan Paku Buwana II, dan bukan pula untuk memberontak melawan raja sesembahannya sekaligus saudara tua yang sangat dihormati dan dicintainya, tetapi lebih sebagai mempertahankan hak dan kewajibannya serta dengan tujuan suci untuk membatalkan Kontrak Panaraga (1743) demi lestarinya kerajaan di Jawa. Disamping Sunan Paku Buwana II memberi restu kepada Pangeran Mangkubumi dengan memberi pusaka tombak Kanjeng Kyai Ageng Plered, Sunan Paku Buwono II juga berpesan, berhubung beliau terikat perjanjian dengan VOC bahwa apabila ada pemberontakan, Sunan Paku Buwono II harus membantu Belanda, maka secara lahiriah prajurit Kasunanan Surakarta akan ikut memerangi Pangeran Mangkubumi. Tetapi tindakan tersebut hanya pura-pura, karena secara diam-diam Sunan PB II tetap akan membantu perjuangan Pangeran Mangkubumi.Hal ini terbukti pada saat Panglima Besar Prajurit Kasunanan Surakarta Tumenggung Arung Binang berpura-pura menyerang pesanggrahan P. Mangkubumi, tetapi setelah berhadapan Tumenggung Arung Binang lantas melemparkan kendhang yang ternyata berisi mas picis raja brana bantunan Sunan PB II untuk biaya perang. Setelah itu prajurit masing-masing pihak segera memisahkan diri kembali ke tempat masing-masing. Perang ini terkenal dengan sebutan Perang Kendhang . Sebaliknya untuk mengimbangi kasih sayang Sunan PB II tersebut, Pangeran Mangkubumi meskipun mendapat desakan dari rakyat dan pendukungnya untuk diangkat menjadi raja, beliau selalu menolak karena masih menghormati eksistensi Sunan Paku Buwonpo II sebagai raja di Surakarta. Di dalam perkembangan selanjutnya Sunan Paku Buwana II menderita sakit keras, di sisi lain Pangeran Harya Mangkunegara (kemenakan P. Mangkubumi) mendesak pamannya agar bersedia diangkat sebagai raja. Menghadapi situasi seperti itu akhirnya P. Mangkubumi menyanggupi penobatan dirinya sebagai raja. Maka pada hari Jum'at Legi tanggal 1 Sura, tahun Alip 1675 dengan candra sangkala Marganing Swara Retuning Bumi atau tanggal 11 Desember 1749, Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai raja oleh rakyat pendukungnya dengan gelar Sampeyan Dalem Sinuwun Kanjeng Susuhunan Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah.. Dari sumber lain menyebutkan bahwa gelar P. Mangkubumi setelah menjadi raja adalah Susuhunan ing Mataram Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang Tuhu Narendra Mandireng Amengku Tlatah ing Nuswa Jawa, dan Pangeran Harya Mangkunagara diangkat sebagai patihnya. Penobatan P. Mangkubumi sebagai raja ini bukan karena beliau mengangkat dirinya sendiri sebagai raja, dan bukan pula beliau menggantikan raja pendahulunya yang meninggal dunia, akan tetapi diangkat oleh rakyat pendukungnya. Hal ini menunjukkan bahwa Pangeran Mangkubumi seorang Demokrat sejati. Adapun tempat penobatan P. Mangkubumi sebagai raja tersebut ada beberapa versi. Versi pertama P. Mangkubumi diangkat sebagai raja di desa Kabanaran sehingga beliau terkenanl dengan sebutan Sunan Kabanaran. Versi yang kedua menyebutkan bahwa P. Mangkubumi diangkat sebagai raja di Mataram , karena setelah bupati Mataram T. Jayawinata menyerah dan diganti namanya menjadi T. Jayaningrat, P. Mangkubumi kemudian mendirikan pesanggrahan di Mataram. Versi yang lain menurut M.C. Ricklefs dalam bukunya "Yogyakarta under Sultan Mangkubumi 1749 - 1792" yang juga merujuk pada sumber - sumber Jawa, sebutan Sunan Kabanaran karena menurut tempat kediamannya P. Mangkubumi.
Pada hari yang sama 11 Desember 1749 Sunan Paku Buwana II yang sudah sakit parah menandatangani dan menyegel akta penyerahan yang didalamnya berisi penyerahan seluruh Kerajaan Mataram kepada Belanda yang diwakili oleh Gubernur pantai Timur Laut , bekas Komandan Garnisun Surakarta J.A. Baron von Hohendorff.

Pada tanggal 15 Desember 1749 , Putra Mahkota Kasunanan Surakarta dinobatkan sebagai raja baru Kasunanan Surakarta oleh von Hohendorff dengan sebutan Susuhunan Paku Buwana III. Di dalam Babad Giyanti disebutkan secara ringkas bahwa Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia di Batavia menobatkan Susuhunan yang baru di Surakarta. Putra Mahkota mengakui bahwa dia menjadi raja bukan akibat hak keturunan, melainkan karena Kompeni Hindia Timur Belanda memilih dia untuk jabatan itu. Menuruti anjuran Gubernur, Susuhunan baru itu dan para pejabat keraton kemudian memberi penghormatan terakhir kepada Paku Buwana II yang sudah sangat payah, yang akhirnya wafat pada tanggal 20 Desember 1749 dan dimakamkan di Laweyan, Surakarta.

Apabila di Surakarta berlangsung penobatan Putra Mahkota sebagai Susuhunan Paku Buwana III, di lain pihak peperangan prajurit Kabanaran atau prajurit Mangkubumen berlangsung sengit. melawan tentara Belanda. Prajurit Mangkubumen semakin bertambah dengan banyaknya bupati mancanagara yang bergabung , tercatat tokoh-tokoh seperti Raden Rangga Prawirasentika, Tumenggung Yudanagara, Tumenggung Alap-alap dan lain sebagainya yang menjadi momok bagi prajurit Belanda. Sampai timbul semacam pemeo bahwa siapa yang unggul dalam peperangan Ungaran yang terkenal dengan ontran-ontran beteng Ungaran, maka merekalah yang unggul dalam perang Mangkubumen ini. Dan kenyataan terjadi, benteng Ungaran dapat dibedah Pangeran Mangkubumi beserta prajuritnya, bahkan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff luika parah dan dilain waktu akhirnya meninggal.

Peperangan lain yang tiak kalah serunya terjadi di desa Jenar (menurut sumber Belanda di Bagawanta). Tentara Belanda di bawah komando Mayor Clereq berhadapan dengan prajurit Mangkubumen. Dalam peperangan sengit ini sampai menjelang malam sehingga harus terthenti, Banyak korban dikua belah pihak. Pihak Belanda yang tewas Mayor Repot, Katen Hoetje dan prajurit Mangkubumen yang gugur T. Mangunnagara. Kedua belah pihak juga banyak menawan musuh termasuk para wanita. Hal inilah yang mnyebabkan prihatinnya P. Mangkubumi, sehingga pada keesokan harinya sebelum melanjutkan peperangan beliau mengumpulkan para saudara dan punggawa dan prajurit untuk membicarakan strategi perang dan membebaskan prajurit yang tertawan termasuk para wanita. Setelah semua lengkap, kemudian P. Mangkubumi berkata : " Kanda B.P.H Hadiwijaya serta para Pangeran, saya mendengar berita bahwa perang kemarin para parepot banyak yang tertawan musuh. Jika demikian bagaimana usaha kita agar dapat merebut mereka kembali ?".

B.P.H Hadiwijaya menjawab : Adinda, kakanda dan para pangeran hanya menurut apa yang menjadi kehendak adinda".
P. Mangkubumi kemudian menanyakan kepada para abdi dalem semua : "Abdiku semua, bagaimana saran kalian semua tentang para parepot yang tertawan musuh tadi ? Apabila tidak bisa direbut pada perang hari ini juga, saya merasa sangat nistha, sebab wanita itu titah yang harus diluhurkan !:.
Semua yang hadir setelah mendengar sabda P. Mangkubumi tersebut sangat takut. Akan membantah tidak berani , kalau menyanggupi merasa tidak mampu. Akhirnya mereka berkata bersama : "Gusti junjungan kami, apabila ada perintah dari Gusti, hamba semua tinggal melaksanakan"
Setelah P. Mangkubumi mendapat jawaban semua yang hadir seperti itu kemudian bicara dalam hati : "Apa jadinya nanti apabila semua hanya menurut apa yang menjadi kehendak saya. Jika demikian apabila saya belum bisa menyatukan (njumbuhake) Kawula dan Gusti, serta tetap mantap apa yang menjadi kehendak saya, pasti tidak akan terlaksana".
Akhirnya P. Mangkubumi bersabda : " Kanda B.P.H Hadiwijaya serta semua saja yang hadir, hantarkan saya untuk merebut para parepot, yaitu saudara saya dan juga saudara dari semua yang hadir disini. Jika nanti saya belum gugur di medan perang, semua jangan sampai ikut-ikut!".
Setelah semua yang hadir mendengar sabda Kanjeng Susuhunan (P. Mangkubumi) seperti itu lantas tergugah semangatnya, kemudian semua berkata : " Sebelum kami semua gugur, jangan sampai paduka Kanjeng Susuhunan bertindak sendiri untuk merebut parepot !".
Berkata demikian bersamaan mereka menarik semua keris mereka dari warangkanya seraya berkata : :O, junjungan kami, apakah kami sudah diijinkan berangkat sekarang , sebab apabila kelamaan tidak akan baik akibatnya:.
P. Mangkubumi menjawab : " Sabar dulu Kanda B.P.H Hadiwijaya serta semuanya, sarungkan dulu kerisnya!".
Setelah semua menyarungkan kerisnya, P. Mangkubumi bersabda : "Kanda B.P.H Hadiwijaya, apabila nanti ada salah satu pangeran atau para punggawa yang kembali karena takut terhadap musuh, jangan sampai tanya dosanya, pasti akan saya bunuh sendiri!".
Semua yang hadir menjawah serentak : "Silahkan Gusti".
P. Mangkubumi kemudian memerintahkan membuat gelar perang Garudha Nglayang (Dalam sumber lain menyebut gelar perang yang dipakai adalah Supit Urang).
Pasukan Mangkubumen bertemu dengan pasukan pimpinan Mayor Clereq. Peperangan serupun terjadi. Lama kelamaan Mayor Clereq kehabisan pasukan, sebab banyak yang tewas maupun terluka, atau lari meninggalkan senapatinya. Setelah Mayor Clereq hanya tinggal sendiri, abdi dalem Mantrijero bernama Wiradigda menombak, tetapi sayang hanya kena pundak yang dilapis baju besi. Mayor Clereq setelah pedangnya jatuh, segera menarik pistol, namun bersamaan dengan prajurit Mantrijero bernama Prawirarana menusuk leher Mayor Clereq. Mayor Clereq jatuh terlentang, diinjak oleh Prawirarana kemudian disembelih. Dengan gugurnya Mayor Clereq semua pasukannya lari tunggang langgang.

Peristiwa gugurnya Mayor Clereq ini terjadi pada hari Minggu Legi, 22 Sura tahun Jimawal 1677 J atau tanggal 12 Desember 1751 M. Adapun abdidalem Prawirarana yang berhasil membunuh Mayor Clereq oleh P. Mangkubumi dinaikkan pangkatnya menjadi bupati dengan nama T. Kartanadi (nantinya menjadi Bupati Grobogan dengan nama T. Sasranagara). Sedangkan tombak yang digunakan untuk membunuh Mayor Clereq nantinya dijadikan tombak pusaka kraton dengan nama Kanjeng Kyai Clereq.
Selanjutnya pasukan Mangkubumen menyerang Pekalongan pada hari Sabtu Pon tanggal 1 Jumadilawal tahun Jimawal 1677 J atau 20 Maret 1752. Dalam peperangan ini banyak pasukan musuh yang menyerah dan menyatakan bergabung dengan P. Mangkubumi, yakni Kapten Juwana orang Bugis, lengkap dengan prajurit Bugis, Galengsong dan Kraeng Daheng dari Terate dan Ujung Pandang. Para prajurit inilah yang nanti menjadi Korps Prajurit Kraton Yogyakarta.

Demikianlah peperangan demi peperangan terus berlangsung yang membawa banyak korban di kedua belah pihak. Di pihak Belanda tercatat nama Letnan Koen yang tewas dalam perang di Gawong, Dalam pertempuran di Juwana Residen Van Goens tewas, Letnan Van Gier tewas dalam perang di Grobogan, Letnan Foster tewas di pertempuran Gunung Tidar, Gubernur Jenderal Baron van Imhoff luka parah pada ontran-ontran beteng Ungaran yang akhirnya juga tewas, Mayor Clereq dan Kapten Winter tewas dalam peperangan di Jenar (Bagawanta), dan prajurit Belanda yang tewas 3801 prajurit.
Melihat kenyataan ini, kemudian Belanda menggunakan politik de vide et impera (politik memecah belah). Melalui T. Sujanapura, Baron von Hohendorff berhasil menghasut R.M Said (P.H. Mangkunagara), dengan kemungkinan R.M. Said akan disingkirkan setelah P. Mangkubumi menang, sehingga menimbulkan rasa curiga R.M kepada P. Mangkubumi, paman sekaligus ayah mertua R.M. Said sendiri. R.M. Said terkena hasutan dan memisahkan diri dari pasukan Mangkubumen dan bergabung dengan pasukan Baron von Hohendorff memusuhi P. Mangkubumi. Dengan pisahnya R.M. Said dengan pengikutnya, maka kekuatan pasukan P. Mangkubumi tinggal 60 %. P. Mangkubumi yang sudah hampir mencapai kemenangan atas VOC, kini harus menghadapi VOC yang didukung pasukan dari Kasunanan Surakarta dan R. M Said (P.H. Mangkunagara)
Melihat peperangan yang tidak menguntungkan Belanda, maka Gubernur Jenderal Yacob Moesel meminta diadakan perdamaian dengan P. Mangkubumi melalui Sarib Besar Syekh Ibrahim dari Turki sebagai juru bahasa dan juru runding dari pihak Belanda bersama Nicolaas Hartingh.

Maka ketika VOC menyatakan ingin damai, dengan terpaksa Pangeran Mangkubumi harus menatap kenyataan bahwa belum saatnya VOC hengkang dari tanah Jawa dan beliau menerima tawaran perdamaian tersebut.

Sebelum perjanjian perdamaian dilaksanakan, diadakan pertemuan pendahuluan antara Nicolaas Hartingh dengan P. Mangkubumi bertempat di pesanggrahan Pangeran Mangkubumi di desa Padhagangan, Grobogan. Dalam pertemuan tersebut terjadi pembicaraan dan perdebatan yang sangat alot antara P. Mangkubumi dan Nicolaas Hartingh , sehingga sampai memakan waktu dua hari yaitu hari Minggu s/d Senin tanggal 22 s/d 23 September 1754. Perdebatan sengit tersebut meliputi tiga hal yaitu tentang pembagian wilayah, gelar raja dan lokasi bagian Pangeran Mangkubumi.
Tentang pembagian wilayah semula Belanda mengajukan separuh Jawa sebelah timur sebagai bagian Pangeran Mangkubumi karena toh basis pertahanan Pangeran Mangkubumi di bagian Timur, dan lokasi ibukota kerajaan bagian Pangeran Mangkubumi dikehendaki Belanda di Surabaya. Saran yang diajukan Belanda tersebut adalah saran yang dicari-cari, karena penyebab yang sebenarnya, orang-orang Jawa Timur sangat sulit diperintah oleh Belanda

Tentang pembagian wilayah dan lokasi ibukota kerajaan ini Pangeran Mangkubumi bersikukuh di wilayah Barat dengan ibukotanya Mataram Ngayogyakarta. Agaknya Pangeran Mangkubumi telah mengetahui gelagat Belanda dengan politik devide et empera nya. Jika letak keraton sebagai ibukota kerajaan pilihan P. Mangkubumi terlalu dekat dengan kraton Surakarta, Belanda sangat khawatir apabila dua raja tersebut bersatu untuk melawan Belanda, maka pihak Belanda akan sangat kerepotan.. Kegigihan Pangeran Mangkubumi dalam memilih lokasi kraton di Ngayogyakarta ini didasari pertimbangan yang sangat khusus yang tidak lepas dari nilai filosofis – magis berkaitan dengan lokasi dan topografi calon ibukota kerajaan Pangeran Mangkubumi tersebut. Dalam hal penentuan lokasi kraton sebagai puat pemerintahan ini Belanda terpaksa mengalah, namun untuk sebutan raja, Pangeran Mangkubumi juga mau mengalah dengan sebutan Sultan bukan Sunan karena jangan sampai sama dengan sebutan raja di Surakarta sehingga seolah – olah ada matahari kembar.

. Kemudian Perjanjian Perdamaian (Traktat reconciliatie) disetujui dan ditandatangani di desa Giyanti pada hari Kamis Kliwon, tanggal 29 Rabiulakhir, Be 1680 tahun Jawa, wuku Langkir atau tanggal 13 Februari 1755 yang lebih terkenal dengan Perjanjian Giyanti atau Palihan Nagari. Sebulan kemudian pada hari Kamis Pon, 29 Jumadilawal, Be 1680 tahun Jawa, wuku Kuruwelut atau tanggal 13 Maret 1755 Sultan Hamengku Buwono I memproklamirkan bahwa separo dari Negara Mataram yang dikuasainya diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta. Tanggal ini (khususnya tanggal , bulan dan tahun Jawa) dinyatakan sebagai Hadeging Nagari Dalem Kasultanan Mataram - Ngayogyakarta.

Pada hari Kamis Pon tanggal 3 Sura,Wawu 1681 tahun Jawa, wuku Kuruwelut atau tanggal 9 Oktober 1755 M Sri Sultan Hamengku Buwono I mesanggrah di Ambar Ketawang dan memerintahkan untuk membangun Karaton Ngayogyakarta di desa Pacethokan dalam hutan Beringan.

Setahun kemudian, tepatnya pada hari Kamis Pahing tanggal 13 Sura, Jimakir 1682 tahun Jawa, wuku Julungwangi atau tanggal 7 Oktober 1756 M, Sri Sultan Hamengku Buwono I beserta keluarganya memasuki Karaton Ngayogyakarta yang baru dan untuk sementara menempati gedhong Sedhahan.

Perpindahan Sultan Hamengku Buwono I dan keluarganya dari Ambar Ketawang ke Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat inilah yang saat ini diyakini sebagai hari jadi Kota Yogyakarta yakni tanggal 7 Oktober 1756 M. atau 13 Sura 1682 J. yang ditandai dengan candrasangkala memet Dwi Naga Rasa Tunggal ( 1682 J ) yang diukirkan di atas banon renteng kelir baturana kagungan dalem regol Kemagangan dan regol Gadhung Mlathi.


Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Mengapa Pangeran Mangkubumi memilih Yogyakarta sebagai ibukota negara, karena Pangeran Mangkubumi disamping sebagai seorang yang ahli dibidang strategi perang, tetapi juga seorang arsitek yang sangat memegang teguh nilai historis maupun filosofis yang sangat dipercaya akan berpengaruh terhadap sikap perilaku dirinya sebagai raja sampai pada para kawulanya. Pada saat Kanjeng Sunan Amangkurat IV (Amangkurat Jawi ) memerintah di Mataram – Kartasura beliau mendapat wisik bahwa wahyu karaton jatuh di hutan Beringan. Maka Sunan Amangkurat Jawi yang juga ayahanda Pangeran Mangkubumi bermaksud untuk memindahkan kraton ke lokasi tersebut dan mulai membangun benteng dan calon kraton yang telah diberi nama Garjitawati.. Namun niat beliau belum terlaksana Sunan Amangkurat Jawi keburu wafat. Sebagai penggantinya adalah putra mahkota yang bergelar Susuhunan Paku Buwono II yang juga kakak Pangeran Mangkubumi lain ibu. Pada saat pemerintahan Susuhunan Paku Buwono II nama Garjitawati diubah menjadi Ngayogyakarta yang di dalam bahasa Sanskerta berati telah selesai dikerjakan/dibangun dengan baik. Arti yang lain dari Ngayogyakarta berasal dari kata Yogya yang berarti baik dan karta berarti rahayu, tulus dan indah. Maka Ngayogyakarta berarti baik dan rahayu atau baik dan indah. Makna yang lebih dalam lagi adalah orang yang berdiam di Ngayogyakarta adalah orang yang berakhlak baik dan berhati tulus. Pada saat itu pesanggrahan di Ngayogyakarta dianggap suci karena difungsikan untuk pemberhentian jenazah para bangsawan yang akan dimakamkan di Imogiri. Pertimbangan lain yang mendasar bagi Pangeran Mangkubumi memilih lokasi tersebut sebagai ibu kota negara adalah berkaitan dengan nilai filosofis magis. Dari sisi topografi letak Ngayogyakarta terletak diantara enam sungai yang mengapit secara simetris yaitu sungai Code dan Winanga di ring pertama, sungai Gajahwong dan kali Bedog di ring kedua , serta sungai Opak dan sungai Progo di ring ketiga.

Sebelah utara ada gunung Merapi yang masih aktif dan sebelah selatan ada laut Selatan. Penentuan lokasi oleh Pangeran Mangkubumi ini dapat dianalogikan dengan pemilihan lokasi bangunan suci oleh orang – orang Hindu. Menurut kitab-kitab suci agama Hindu untuk lokasi bangunan suci yang berupa candi dipilih tempat yang berbeda dengan alam sekitarnya karena menampakkan kekuasaan dewa atau keajaiban lainnya. Puncak gunung dan lereng bukit, daerah kegiatan vulkanik, dataran tinggi yang menjulang di atas tepi lembah, tepian sungai atau danau, tempat bertemunya dua sungai, adalah diantaranya daerah yang baik untuk lokasi bangunan suci (Soekmono,1991). Apabila kita telusuri aliran sungai Progo dan Elo merupakan padanannya sungai Gangga dan Jamuna di India dan tidak jauh dari tempat itu terletak bangunan suci kota Bodh Gaya dan stupa Bharhut kalau di indonesia candi Borobudur, begitu pula Ngayogyakarta yang diapit oleh dua sunagi besar di ring paling luar, sungai Opak dan sungai Progo serta sungai Code dan Winongo di ring yang paling dalam. Puncak gunung menurut mitologi Hindu merupakan tempat bersemayamnya para dewa yang di Yogyakarta diwakili Gunung Merapi. Dengan setting lokasi seperti inilah Pangeran Mangkubumi menciptakan poros (sumbu) imajiner Gunung Merapi – Tugu Pal Putih -- Kraton – Pranggung Krapyak -- Laut Selatan.

Gunung sebagai ketenangan tempat suci, dataran pemukiman sebagai tempat aktifitas kehidupan manusia dan laut sebagai tempat pembuangan akhir dari segala sisa di bumi yang hanyut dan dihanyutkan ke laut. Penciptaan poros imajiner ini selaras dengan konsep Tri Angga (Parahyangan-Pawongan-Palemahan atau Hulu – Tengah – Hilir serta nilai Utama – Madya – Nistha ). Secara simbolis filosofis poros imajiner ini melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablun min Allah) , manusia dengan manusia (Hablun min Annas) maupun manusia dengan alam termasuk lima anasir pembentuknya yakni api (dahana) dari gunung Merapi, tanah (bantala) dari bumi Ngayogyakarta dan air (tirta) dari laut Selatan, angin (maruta) dan akasa (either). Demikian juga konsep Tri Hita Karana , tiga unsur yang menjadikan kehidupan (phisik, tenaga dan jiwa) telah tercakup di dalam filosofis sumbu imaginer tersebut. Tugu Golong Gilig / Pal Putih dan Panggung Krapyak merupakan simbol Lingga dan Yoni yang melambangkan kesuburan. Tugu golong gilig bagian atasnya berbentuk bulatan (golong) dan bagian bawahnya berbentuk silindris (gilig) dan berwarna putih sehingga disebut juga Pal Putih. Tugu Golong Gilig ini melambangkan keberadaan Sultan dalam melaksanakan proses kehidupannya yang dilandasi menyembah secara tulus kepada Tuhan Yang maha Esa dengan disertai satu tekad menuju kesejahteraan rakyat (golong – gilig) dan didasari hati yang suci (warna putih). Itulah sebabnya Tugu Golong-Gilig ini juga sebagai titik pandang utama Sultan pada saat melaksanakan meditasi di Bangsal Manguntur Tangkil di Sitihinggil Utara.
Filosofi dari Panggung Krapyak ke utara merupakan perjalanan manusia sejak dilahirkan dari rahim ibu, beranjak dewasa, menikah sampai melahirkan anak (Brontodiningrat 1978). Visualisasi dari filosofi ini diujudkan dengan keberadaan kampung Mijen di sebelah utara Panggung Krapyak yang melambangkan benih manusia, pohon asem (Tamarindus indica) dengan daun yang masih muda bernama sinom melambangkan gadis yang masih anom (muda) selalu nengsemaken (menarik hati) maka selalu disanjung yang divisualisasikan dengan pohon tanjung (Mimusops elengi). Di alun – alun selatan menggambarkan manusia telah dewasa dan sudah wani (berani) meminang gadis karena sudah akhil baligh, yang dilambangkan dengan pohon kweni (Mangifera odoranta) dan pohon pakel. Masa muda yang mempunyai jangkauan jauh ke depan divisualisasikan dengan dengan pagar ringin kurung alun-alun selatan yang seperti busur panah. Masa depan dan jangkauan para kaum muda dilambangkan seperti panah yang dilepas dari busurnya. Sampai di Sitihinggil selatan pohon yang ditanam adalah pelem cempora (Mangifera indica) yang berbunga putih dan pohon Soka (Ixora coccinea) yang berbunga merah yang menggambarkan bercampurnya benih laki-laki (dilambangkan warna putih) dan benih perempuan (dilambangkan warna merah). Di halaman Kamandhungan menggambarkan benih dalam kandungan dengan vegetasi pohon pelem (Mangifera indica) yang bermakna gelem (kemauan bersama), pohon Jambu Dersono (Eugenia malaccensis) yang bermakna kaderesan sihing sasama dan pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) yang bermakna kempel, bersatunya benih karena kemauan bersama didasari saling mengasihi. Melalui Regol Gadhung Mlathi sampailah di Kemagangan yang bermakna bayi telah lahir dan magang menjadi manusia dewasa.
Sebaliknya dari Tugu Pal Putih ke arah selatan merupakan perjalanan manusia menghadap Sang Kholiq . Golong-gilig melambangkan bersatunya cipta, rasa dan karsa dilandasi kesucian hati (warna putih) melalui Margotomo (jalan menuju keutamaan) ke selatan melalui Malioboro ( memakai obor/ pedoman ilmu yang diajarkan para wali), terus ke selatan melaui Margomulyo (jalan menuju kemuliaan), kemudian melalui Pangurakan ( mengusir nafsu yang negatip). Sepanjang jalan Margotomo,Malioboro dan Margomulyo ditanam pohon Asem (Tamarindus indica) yang bermakna sengsem/menarik dan pohon gayam (Inocarpus edulis) yang bermakna ayom/teduh. Di ujung jalan Pangurakan sebelah Selatan terdapat dua pohon beringin (Ficus benyamina) yang bernama Wok dan Jenggot yang melambangkan ilmu sejati yang halus, lembut dan rumit seperti halusnya rambut Wok dan Jenggot. Ilmu tersebut sebagai bekal orang akan menghadap Tuhannya. Jumlah pohon beringin di alun-alun Utara 64 (enam puluh empat) termasuk dua ringin kurung di tengah-tengah alun-alun. Jumlah tersebut sesuai dengan usia Nabi Muhammad menurut perhitungan tahun Jawa. Dua ringin kurung mempunyai nama yang berbeda. Ringin kurung sebelah timur bernama Janadaru, dan yang sebelah barat bernama Dewadaru. Kedua ringin kurung tersebut melambangkan Manunggaling Kawula - Gusti. Posisi ringin Dewodaru di sebelah barat dan Janadaru di sebelah Timur melambangkan konsep Hablum min Allah wa Hablum min Annas. Dasar alun-alun yang berpasir , jika siang panas dan jika malam dingin melambangkan di dunia ini hanya ada dua yang selalu berlawanan. Ada siang ada malam, ada susah ada gembira, ada jujur ada yang jahat dan sebagainya. Hendaknya mausia memilih jalan yang baik untuk menghadap Tuhannya di hari Kiamat nanti. Dari ujung jalan Pangurakan sebelah Utara sampai masuk ke Kedhaton akan melalui tujuh pintu (gapura / kori) yang melambangkan tujuh tangga menuju surga (the seven step's to heaven) atau tujuh surga bagi orang yang beriman. Tujuh pintu dimaksud adalah Gapura Gladhag, Gapura Pangurakan njawi, Gapura Pangurakan nglebet, Kori Sitihinggil, Kori Brojonolo, Kori Kamandhungan Lor dan Kori Danapratapa.. Adapun tujuh halamannya meliputi : Pangurakan njawi, Pangurakan nglebet, Alun-alun Utara, Siti Hinggil, Kamandhungan Utara, Sri Manganti dan Plataran Kadhaton. Tujuh pintu dan tujuh halaman tersebut melambangkan juga tujuh surga bagi orang yang beriman yakni : Jannatul Firdaus, Jannatul 'Adnin, Jannatul Khuluud, Jannatul Na'iem, Jannatul Salaam, Jannatul Jalaal dan Jannatul Ma'waa.
Keabadian hidup di alam akherat dilambangkan dengan adanya lampu yang tidak pernah padam sejak Sultan Hamengku Buwana I yang bernama Kyai Wiji di ndalem Prabayaksa.

KEPUSTAKAAN


Barmawi Umari, Drs.
1968 Analisa Tauhid, Ramadhani, Semarang - Sala.
Brongtodiningrat, K.P.H
1978 Arti Kraton Yogyakarta, Museum Kraton Yogyakarta
Buminata, G.P.H.
1958 Kuntharatama, Mahadewa Yogyakarta
Hertog Djojonegoro, K.R.T
1987 Ngayogyakarta Hadiningrat, Lembaga Javanologi Yogyakarta
Poespodiningrat, K.R.T
1987 Filsafat Bangunan Kraton Yogyakarta "Ngayogyakarta Sinandi"
Lembaga Javanologi Yogyakarta.
Ricklefs, M.C.
2002 Yogyakarta di bawah Sultan Mangkubumi 1749 - 1792, Sejarah
Pembagian Jawa (terjemahan), Matabangsa Yogyakarta.
Soedarisman Poerwokoesoemo, MR.
1986 Sejarah lahirnya Kota Yogyakarta, Lembaga Javanologi Yogyakarta.
Soekanto, Dr.
1952 Sekitar Yogyakarta, 1755-1825 (Perjanjian Gianti-Perang Dipanagara, Jakarta
Soekmono, Drs.
1991 Candi sebagai obyek Arkeolog (makalah seminar), Jakarta
Wibatsu Harianto, Ir. H.
1995 Kraton Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat, Soemodidjojo Maha Dewa , Yogyakarta.






BIODATA


Nama : Ir. H. Yuwono Sri Suwito, MM.
Lahir di desa Kwasa, Klaten tanggal 14 Oktober 1951 dari keluarga Dalang. Ayah bernama Ki Pudjosumarto yang pernah menjadi dalang pribadi Presiden pertama R.I Bung Karno disamping Ki Gitosewoko. Ki Pudjosumarto juga sebagai guru dalang terkenal seperti Ki Nartosabdo, Ki Gondodarman dan Ki Gitosewoko.
Isteri bernama Rien W. Yuwono, 2 (dua) anak Himawan Andi Kuntadi, S.T, S.E dan dr. Yuanita Mardastuti.
Pendidikan S1 dari Teknik Sipil UGM, program Studi Teknik Sipil Transportasi, S2 dari Universitas Indonusa Esa Unggul, Jakarta. Pernah menjadi dosen luar biasa pada beberapa Fakultas Teknik Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta seperti Universitas Janabadra (1982 - 1986), Univeritas Muhammadiyah (1983 - 1992), Universitas Cokroaminoto (1983 - 1988), dan pernah menjadi dosen tetap di program studi Teknik Arsitektur , Fakultas Terknik Universitas Islam Indonesia (1987 - 1989). Dosen tetap tersebut ditinggalkan setelah Menteri Keuangan R.I mengangkatnya sebagai Direktur Operasi dan Teknik di PT. Taman Wisata Candi BOROBUDUR dan PRAMBANAN (Desember 1989 s/d April 2001). Saat ini aktif di organisasi yang berkaitan dengan budaya, antara lain sebagai Ketua Lembaga Javanologi Yogyakarta , Ketua Dewan Kebudayaan Propinsi D.I.Y (tahun 2005), dan Penasehat Jogja Heritage Society, dan mengajar di program Diloma III Pariwisata UGM. Sering menjadi pembicara seminar yang kebanyakan berkaitan dengan kebudayaan. Pernah melakukan penelitian tentang Konstruksi Bangunan Karaton Surakarta (1989). Karya yang dipublakisan berupa buku (karya tim penulis) : Upacara Ruwatan, Sebuah Pedoman (1991), Ramayana, Transformasi, Pengembangan dan Masa Depannya (1998), Candi Sebagai Warisan Seni dan Budaya Indonesia (1998), Bharatayudha (2004), Wawasan Budaya untuk Pembangunan (2004).
Tahun 2005 sebagai Ketua Tim Penulis Buku Pedoman Pelaksanaan Upacara Adat dan buku tentang Daur Hidup.
Penghargaan yang pernah diterima : Satya Lencana Wirakarya (1995), Tokoh Pariwisata D.I.Y (1995), Adi Karya Award (1996), Satya Lencana Pembangunan (1998), Dosen Teladan PPKP - UNY (1998) dan Penghargaan Gubernur D.I.Y sebagai Budayawan Yogyakarta (2007).

Lahirnya Yogyakarta

Mangkubumi Sang Inspirasi

Tak banyak kota yang mendapatkan inspirasi besar dari pendirinya. Semangat juang, kecakapan politis, kemampuan teknis dan yang paling mendasar adalah keluhuran jiwa Pangéran Mangkubumi selalu menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya yang menghuni dan mengembangkan Yogyakarta. Mangkubumi lahir dan tumbuh di saat Jawa sedang mengalami masa sulit karena pengaruh VOC yang kian mendesak dan kemelut antar pemuka Jawa yang makin rumit membelit. Kecakapan dan kepribadiannya menjadikan Sang Pangeran mampu untuk mengambil peran strategis yang menentukan masa depan negrinya dan mendirikan kota yang penting di Indonesia.

Kerajaan Mataram yang beribukota Kartasura di bawah Sunan Amangkurat IV, ayahanda Bandara Pangeran Harya Mangkubumi dengan ibu Mas Ayu Tejawati, mengalami masa yang penuh konflik. Pemberontakan silih berganti di berbagai penjuru negri. Kerumitan ini berlanjut dan bahkan kian membesar karena melibatkan pihak-pihak yang lebih luas pada masa pemerintahan kakandanya, Sunan Pakubuwana II, yang berpuncak pada peristiwa yang dikenal sebagai Huru-hara Cina atau Gègèr Pacina. Dalam kerusuhan ini Sunan tersingkir dan istana diduduki oleh Mas Garendi, salah satu tokoh kerusuhan tersebut. Dengan dukungan Kompeni, Sunan berhasil menghalau para perusuh. Dukungan Kompeni ini didapat dengan harga yang sangat mahal. Sunan harus merelakan wilayah kekuasaannya di sepanjang pesisir utara Jawa disewa oleh Kompeni.

Karena ibu negri sudah telanjur ternoda, maka kota pusat pemerintahan dan istana baru pun didirikan di Surakarta. Mangkubumi berperan penting sebagai arsitek dalam pembangunan istana baru ini. Dengan kearifan, kecerdasan, kesalehan dan kecakapan teknisnya, Mangkubumi memang sangat dekat dengan Pakubuwana II.

Serat Cabolek menggambarkan sisi intelektual dan spiritual Mangkubumi. Sang Pangeran

Pentingnya mesu budi . . . . .


Memilih Keluar dan Berjuang


Ketidakpuasan yang berujung pada pertikaian bersenjata antar ningrat Jawa masih merebak di masa pemerintahan Sunan Pakubuwana II. Yang terbesar di antaranya adalah yang dipimpin Radèn Mas Said dan Tumenggung Martapura. Karena berhasil meredam pemberontakan ini, Mangkubumi dianugerahi kekuasaan atas tanah seluas 3.000 cacah di daerah Sukawati.

Hadiah besar ini menjadikan kedengkian Adipati Pringgalaya, saudara ipar Mangkubumi dan Patih Surakarta, kian membara. Dengan dalih agar tidak menimbulkan iri hati para pangeran lainnya, Pringgalaya mengusulkan kepada Sunan dan Gubernur Jendral Baron van Imhoff yang sedang berkunjung ke Surakarta agar anugerah tersebut dicabut.

Kunjungan Baron van Imhoff pada tahun 1745 itu pada pokoknya merumuskan lebih lanjut penyerahan Pesisir Utara yang telah disepakati Sunan dalam pelariannya di Panaraga guna mendapatkan dukungan VOC dalam menghalau lawan-lawan politiknya.



Dari Kabanaran ke Giyanti

Perlawanan Mangkubumi bukan hanya bersifat pribadi tapi juga memberi kesempatan bagi elit ningrat Jawa untuk menentukan pemihakan. Dengan demikian gerakan ini dapat dipahami juga sebagai penggalangan kerjasama dengan para pemuka masyarakat. Ketika kedudukannya kian menguat, bagi Mangkubumi terdapat pilihan apakah akan mempermaklumkan diri secara mandiri sebagai raja Mataram dengan dukungan tokoh-tokoh sekitarnya ataukan akan menjalin kesepakatan dengan Kompeni. Masa antara tahun 1749-1755 menunjukkan kesigapan Mangkubumi dalam menanggapi situasi dan menentukan pilihan hingga menuju ke terbentuknya negri Yogyakarta.

Dalam perlawanannya, Pangeran Mangkubumi menjalin persekutuan dengan banyak pihak yang juga yakin bahwa perjuangannya akan membawa pada kebaikan. Yang paling menonjol adalah persekutuannya dengan Mas Said, bekas musuh besarnya yang dulu ditumpas pemberontakannya. Segera setelah Mangkubumi meloloskan diri dari kalangan istana, Mas Said bergabung menjadi sekutu utamanya. Pertalian ini makin kokoh setelah Mangkubumi menikahkan Mas Said dengan putrinya, Ratu Bendara. Hubungan Mangkubumi menggalang kesetiaan berbagai pihak ini dengan cepat berkembang. Pada tahun 1746 pengikutnya berjumlah 3.000 orang dan pada akhir 1747 sudah mencapai 13.000 orang.

Kondisi fisik Sunan Pakubuwana II kian memburuk dan kedudukannya kian terjepit. Sebaliknya, perlawanan Mangkubumi mendapat dukungan yang kian meluas. Dalam situasi yang berkembang seperti ini beberapa pemuka di sekitar Mangkubumi mendesaknya supaya mempermaklumkan diri sebagai raja atas negri Mataram yang berdaulat. Namun demikian, tampaknya Sang Pangeran masih menghormati kakandanya sehingga tak ingin melampaui kewenangannya.

Ketika tersiar kabar di akhir tahun 1749 bahwa kondisi kesehatan Sunan kian memburuk dan sudah memasuki masa kritis, Mas Said mendesak Pangeran Mangkubumi untuk segera menobatkan diri sebagai pewaris tahta Mataram. Setelah mempertimbangkan berbagai hal dengan seksama, akhirnya di Desa Kabanaran pada hari Jum'at Legi tanggal 1 Sura, tahun Alip 1675 dengan candra sangkala Marganing Swara Retuning Bumi atau tanggal 11 Desember 1749, Pangeran Mangkubumi bersedia dipermaklumkan sebagai raja Mataram oleh rakyat pendukungnya dengan gelar Sampeyan Dalem Sinuwun Kanjeng Susuhunan Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah. Dari sumber lain menyebutkan bahwa gelar P. Mangkubumi setelah menjadi raja adalah Susuhunan ing Mataram Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang Tuhu Narendra Mandireng Amengku Tlatah ing Nuswa Jawa. Mas Said pun kemudian diangkat sebagai patihnya.

Tepat pada hari yang sama dengan penobatan Mangkubumi, Pakubuwana II yang merasa akhir hayatnya kian dekat dan tak ada pihak yang dipandangnya mampu untuk menjaga keutuhan Mataram selain VOC. Baginda pun kemudian menyerahkan Kompeni Belanda—yang diwakili oleh Baron van Hogendorff, Gubernur VOC untuk Pantai Timur Laut Jawa yang juga bekas komandan garnisun Kompeni di Kartasura—keselamatan anak keturunannya, segala harta warisan yang mestinya mereka terima, serta kedaulatan negri sepenuhnya. Empat hari berikutnya, van Hogendorff melantik Putra Mahkota sebagai Sunan Pakubuwana III. Pada tanggal 20 Desember 1749 Sunan Pakubuwana II pun wafat dan dimakamkan di Laweyan karena situasi tak memungkinkan untuk mengebumikan jenazah baginda di pemakaman raja Mataram di Imogiri.

Dua penobatan terjadi untuk menjadi pewaris tahta Mataram. Mangkubumi dirajakan karena dukungan penuh pengikut dan para pangeran yang mendukungnya. Sedangkan Putra Mahkota Surakarta menduduki tahta karena perlindungan Kompeni belaka.

Setelah kedua penobatan ini perlawanan Mangkubumi makin menghebat. Makin banyak pihak, terutama para bupati mancanegara, yakni penguasa semi-otonom yang berkedudukan jauh dari Surakarta, seperti Tumenggung Prawirasentika dari Madiun, Tumenggung Yudanegara dari Banyumas dan Tumenggung Alap-alap dari . . . Persekutuan ini meluas bahkan sampai menjangkau pasukan-pasukan yang berasal dari luar Jawa. Hal ini tampak pada serangan pasukan Mangkubumi terhadap Pekalongan pada tanggal 20 Maret 1752. Dalam peperangan ini banyak pasukan musuh yang menyerah dan menyatakan bergabung dengan Mangkubumi, yakni Kapten Juwana orang Bugis, lengkap dengan prajurit Bugis, Galengsong dan Kraeng Daheng dari Makassar dan Ternate. Pasukan inilah yang nanti menjadi cikal bakal Korps Prajurit Kraton Yogyakarta.

Dengan banyaknya pihak yang bergabung, Sunan Mangkubumi merasa perlu untuk menguji kesetiaan dan semangat juang mereka. Mangkubumi memimpin pasukannya untuk menggempur benteng Kompeni di Ungaran sebagai ujicoba konsolidasi pasukan. Tersiar kabar bahwa jika mereka berhasil menduduki benteng ini maka akan mendapat kejayaan yang sempurna. Setelah pertempuran sengit, memang akhirnya Benteng Ungaran jatuh ke tangan Mangkubumi yang bahkan berakibat Gubernur Jendral Baron van Imhoff terluka parah.

Perang juga merupakan kesempatan untuk membangun dan menguji solidaritas sosial sehingga di masa damai nanti dapat menjadi landasan yang kokoh untuk membina masyarakat. Pertempuran di Jenar (sumber Belanda menyebut di Bagawanta) menelan banyak korban di kedua belah pihak. Belanda bahkan menawan banyak pengikut Mangkubumi termasuk di dalamnya para wanita. Di mata Mangkubumi para wanita adalah anggota keluarga yang perlu dijaga dan dimuliakan, maka sangat nista jika pasukannya tak mampu merebut kembali tawanan tersebut di pertempuran keesokan harinya, sementara pemuka-pemuka pasukannya yang mulai ciut hati mereka menyaksikan keperkasaan musuh. Ketika Mangkubumi menanyakan pendapat mereka tentang apakah harus segera menyerbu untuk membebaskan tawanan tersebut, mereka hanya menjawab: “Jika ada titah Paduka, maka kami akan laksanakan juga”.

Merasakan kegentaran dan tekad yang kurang bulat Mangkubumi menanggapi, “Apa jadinya jika semua hanya menjadi penurut belaka. Jika aku belum berhasil menyatukan tekad antara kawula dan gustinya, sungguh, apapun yang dicita-citakan tak akan terlaksana.” Dengan tegas di akhir sabdanya, “Kalau begitu, kakanda Pangeran Hadiwijaya serta semua yang hadir, aku sendiri yang akan memimpin merebut para tawanan, mereka saudaraku dan saudara semua yang ada di sini. Jika aku belum gugur di sana, yang lain jangan ada yang menyusul ke medan laga.” Mendengar ketegasan dan kegusaran baginda, semua tergugah semangatnya, “Biar kami yang bertempur, jangan Paduka bertindak sebelum kami semua tewas.” Kemudian, Mangkubumi mengatur pasukan sambil menegaskan “Jika ada pangeran atau punggawa yang lari dari pertempuran karena takut, aku sendiri yang akan membunuhnya”.

Pertempuran sangatlah sengit, dengan penuh semangat pasukan Mangkubumi menyerang. Banyak korban di pihak Kompeni. Bahkan komandan pasukan ini, Mayor Clerq terbunuh di tangan Prawirarana salah satu anggota korps Mantrijero. Tombak yang digunakan untuk menghabisi sang komandan ini kemudian dijadikan pusaka Kraton dengan nama Kangjeng Kyai Clerq.

Di Surakarta makin banyak ningrat yang keluar dan bergabung dengan Mangkubumi. Belanda juga makin terdesak dan tak sepenuhnya paham dengan kerumitan konflik antar elit di Jawa. Van Hogendorff diganti dengan Nicholas Hartingh yang lebih menghayati budaya Jawa dan fasih berbahasa Jawa. Segera Hartingh mengganti pendekatan kepada Mangkubumi menjadi lebih kompromistis.

Berbeda dengan pendekatan yang sebelumnya diterapkan pada pertikaian antar ningrat Jawa. Biasanya Kompeni mendukung salah satu pihak untuk menghabisi pihak yang lain. Tapi kini pihak yang akan ditumpas tampaknya terlalu kuat, sehingga Kompeni pun menawarkan perdamaian dengan membagi wilayah Mataram yang telah diserahkan padanya oleh Pakubuwana II berdasar perjanjian 1749. Mangkubumi juga mengisyaratkan kecenderungan pada kesepakatan damai. Kompeni mengirim seorang keturunan Turki bernama Syarif Besar Syeh Ibrahim yang disebut sebagai utusan Sultan Rum di Istanbul sebagai kurir karena dipandang memiliki wibawa tersendiri di mata Mangkubumi yang taat beragama.

Menjelang akhir tahun 1754 Hartingh bertemu langsung dengan Sunan Mangkubumi di Pedagangan Grobogan. Beberapa hal terpenting dapat disepakati seperti pembagian wilayah Mataram menjadi dua dengan merujuk pada masa Demak-Pajang, satu penguasa akan memakai gelar Sunan sedangkan yang lain Sultan, begitu pula uang sewa pesisir utara sebesar 20.000 real per tahun yang selama ini diterima Pakubuwana.

Meskipun telah disepakati bahwa Mangkubumi akan memegang kuasa atas separuh wilayah Mataram, namun tentang letak wilayah tersebut keduanya tidak bersepakat. Berdasar fakta bahwa basis pengaruh perlawanannya berada di sebelah timur, maka Hartingh mengusulkan agar Mangkubumi menguasai belahan timur negri Mataram sedangkan Pakubuwana di belahan barat. Dengan bersikukuh bahwa ibu negri yang baru haruslah tetap berada di sekitar tanah pusaka Mataram di Jawa Tengah, Mangkubumi menolak usulan ini dengan tegas. Akhirnya Kompeni pun menyetujui asalkan Mangkubumi sama sekali tidak boleh menuntut hak atas pesisir utara.

Akhirnya, Perjanjian Perdamaian (Traktat reconciliatie) antara Mangkubumi dan Kompeni disetujui dan ditandatangani di desa Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 yang lebih terkenal dengan Perjanjian Giyanti atau Palihan Nagari.





Membangun Yogyakarta




PERISTIWA TARIKH JAWA TARIKH MASEHI
BRM Sujana lahir Rabu Pon, 27 Ruwah, tahun Wawu 1641 J. atau tanggal 5 Agustus 1717 M Rabu Pon, 27 Ruwah, tahun Wawu 1641 J. atau tanggal 5 Agustus 1717 M
BRM Sujana dilantik menjadi BPH Mangkubumi
Mangkubumi meloloskan diri dari Surakarta 19 Mei 1746
Penobatan Mangkubumi di Kabanaran Jum'at Legi, 1 Sura tahun Alip 1675 Jumat Legi, 11 Desember 1749
Pakubuwana II menyerahakan tahta dan negri Mataram kepada Kompeni Jum'at Legi, 1 Sura tahun Alip 1675 Jumat Legi, 11 Desember 1749
Putra Mahkota Surakarta dinobatkan sebagai Pakubuwana III Selasa Kliwon, 5 Sura tahun Alip 1675 Ahad Kliwon, 15 Desember 1749
Sunan Pakubuwana II mangkat di Surakarta Ahad Kliwon, 10 Sura tahun Alip 1675 Ahad Kliwon, 20 Desember 1749
Prawirarana membunuh Mayor Clercq di Jenar/Bagawanta Minggu Legi, 22 Sura tahun Jimawal 1677 J Minggu Legi, 12 Desember 1751 M
Serbuan Mangkubumi ke Pekalongan Sabtu Pon, 1 Jumadilawal tahun Jimawal 1677 J Sabtu Pon, 20 Maret 1752
Pertemuan Pedagangan Grobogan (Mangkubumi-Hartingh) 22 - 23 September 1754.
Perjanjian Palihan Nagari di Giyanti Kamis Kliwon, 29 Rabiulakhir, Be 1680 tahun Jawa, wuku Langkir Kamis Kliwon, 13 Februari 1755
Pertemuan Jatisari (Mangkubumi-Pakubuwana III-Hartingh)
Hamengkubuwana mengumumkan nama negrinya Ngayogyakarta Hadiningrat
(Hadeging negari dalem Kasultanan Mataram Ngayogyakarta) Kamis Pon, 29 Jumadilawal, Be 1680 tahun Jawa, wuku Kuruwelut Kamis Pon, 13 Maret 1755
Sultan tinggal di Ambarketawang dan memerintahkan pembangunan Yogyakarta Kamis Pon 3 Sura,Wawu 1681 tahun Jawa, wuku Kuruwelut Kamis Pon, 9 Oktober 1755 M
Kepindahan Sultan dari Ambarketawang
(Berdirinya Kota Yogyakarta) Kamis Pahing, 13 Sura, Jimakir 1682 tahun Jawa, wuku Julungwangi Kamis Pahing, 7 Oktober 1756 M

Friday, 5 February 2010

Kota, Kraton dan Kampung Yogyakarta

Bukan hanya pemimpin yang handal dan panglima perang yang tangguh, Sultan Hamengkubuwana I juga perencana kota yang cermat dan cakap. Dengan pandangan yang jauh dan menyeluruh, beliau meletakkan dasar-dasar bagi tata ruang dan kegiatan ibu kotanya yang dalam banyak hal masih penting hingga saat ini. Secara fisik, sosial, fungsional dan simbolis kota, keraton dan kampung Yogyakarta menyimpan banyak hikmah untuk dikaji. Mari kita pahami bersama kota yang merupakan warisan terbesar buah cipta Hamengkubuwana pertama.

Toponim . . .

Kota Yogyakarta dirancang dengan seksama, karena dicita-citakan menjadi kota yang “terluhur di dunia”. Sultan Hamengkubuwana bersemayam cukup lama di pesanggrahan Ambarketawang, istana sementara di sisi barat Yogyakarta agar cukup waktu untuk menata susunan kota dan segala isinya sehingga kota dapat menjadi tempat kediaman bagi semua dengan sejahtera dan merata.

Jalan panjang dan lurus direntangkan membujur utara-selatan di tengah kota. Monumen tugu tegak di persimpangan jalan ujung utara dan di pangkal selatannya terdapat Panggung Krapyak, bangunan persegi yang juga menjadi pusat padang perburuan rusa. Dalam lingkungan yang lebih besar, jalur ini bisa dibentangkan ke utara menerus ke Gunung Merapi dan ke selatan menjangkau Laut Selatan, dua unsur penting di bentang alam yang membentuk ruang dan jiwa negri Yogyakarta.

Di dalam kota, lajur panjang ini menjadi pengikat utama susunan jaringan jalan, kampung-kampung tempat kediaman serta berbagai sarana yang menghidupkan kota. Saat ini kita dapat berjalan menyusurinya dan masih bisa mendapati elemen-elemen penting kota yang telah ada di masa pemerintahan Sultan pertama. Istana yang menjadi tempat kediaman Sultan dan jantung kehidupan kota terletak tepat di tengah poros ini menghadap ke utara. Di depan terdapat alun-alun tempat warga kota berkumpul di keramaian atau bersila mengajukan permohonan pada Raja. Masjid raya ada di sisi baratnya tempat umat Islam bersama punggawa negara dan junjungan mereka menghadap Allah bersama-sama di dalam shalat jamaah sebagai hamba Yang Mahakuasa. Dua beringin rimbun melambangkan kesetimbangan jagad raya tertanam kokoh di pusat alun-alun utara dengan enam puluh empat beringin lain mengelilinginya menghamparkan kesejukan di tengah kesibukan kota.

Di seputar istana terdapat kampung-kampung permukiman abdi dalem yang melayani keseharian raja dan istana dengan rumah-rumah besar atau dalem tempat kediaman kerabat terdekat Sultan. Keseluruhan kompleks ini di masa menjelang akhir pemerintahan Hamengkubuwana I dilingkupi oleh benteng tebal berparit sekelilingnya. Terdapat lima gerbang (plengkung) yang menghubungkan bagian kota yang ada di dalam benteng (jeron bètèng) dan kawasan di sekitarnya, Plengkung Nirbaya di selatan, Madyasura di timur, Tarunasura dan Jagasura di utara, serta Jagabaya di barat. Saat pasukan Inggris dan sekutunya mengepung dan menyerbu benteng Yogyakarta yang dikenal sebagai Gègèr Sepèhi pada tahun 1812, plengkung Madyasura runtuh sehingga warga Yogyakarta menggambarkan susunan kota yang baru dalam tembang Mijil sebagi berikut:

Ing Mataram bètèngira inggil/ ngubengi kedhaton/ plengkung lima mung papat mengané/ jagang jero toyanira wening/ apager pinacak suji/ gayam turut lurung.
Di Mataram tinggilah bentengnya/ melingkupi istana dan sekitarnya/ gerbang lima hanya empat yang terbuka/ parit keliling yang dalam sungguh jernih airnya/ pagarnya rapi terjalin/ pohon gayam berjajar sepanjang jalan.

Berjalan ke utara kita jumpai perempatan yang menuju ke kawasan di seputar kota dan fasilitas lain ada di sisi utaranya. Tak dapat dipungkiri, Yogyakarta didirikan di bawah pengaruh besar kekuasaan kolonial Kompeni Belanda. Hal ini tampak dengan keberadaan kediaman resmi Residen Belanda dan benteng markas pasukan tepat di utara perempatan ini. Selangkah berikutnya kita jumpai Pasar Gedhé yang kemudian bernama Beringharjo menjadi pusat kesibukan perniagaan kota. Tak jauh di utaranya, terdapat kompleks Kepatihan, tempat kediaman Patih Danureja, punggawa utama sederajat perdana mentri di masa kini, yang sekaligus juga menjadi pusat kegiatan administratif negara.

Di ujung utara jalan raya, yang kemudian disebut sebagai Malioboro atau Margatama yang berarti jalan keutamaan, didirikan tugu yang kokoh di persimpangan jalan. Tugu ini berpuncak pada sebentuk bola (dalam bahasa Jawa disebut golong) yang disangga tiang silinder (gilig) sehingga monumen ini dinamai Tugu Golong Gilig yang melambangkan kebulatan tekad segenap warga kota Yogyakarta untuk menyatu dengan raja mereka dalam mencapai cita-cita mulia. Monumen yang tegak tunggal ini juga mengisyaratkan ketauhidan agar manusia selalu mengesakan Tuhan sesembahan mereka. Saat baginda bertahta di persidangan di Siti Hinggil utara yang ditinggikan, pandangan matanya terfokus pada sosok tunggal yang tegak ini agar selalu ingat tugas yang diembannya, menyatukan rakyat agar mendapat anugrah dari Yang Mahaesa. Karena roboh saat gempa besar tahun 185… , yang kita dapati sekarang berupa tugu lancip adalah bangunan pengganti yang didirikan pada tahun 187 …

Pada awalnya, Malioboro menyandang peran utama sebagai jalur seremonial untuk menyelenggarakan berbagai perarakan agung dan poros simbolis untuk mengisyaratkan nilai-nilai luhur yang melandasi perkembangan kota Yogyakarta. Saat kegiatan ekonomi dan perniagaan kota mulai berkembang lebih pesat, jalan utama ini mendapatkan peran barunya sebagai kawasan komersial, khususnya yang dilakukan oleh warga Tionghoa yang semula terbatas berkegiatan di Ketandan dan Kranggan. Maka Malioboro pun jamak disebut dengan nama Pecinan.

Dari masa ke masa, kota Yogyakarta berkembang. Selalu ada bagian yang bertambah dan berubah, tanpa harus kehilangan akar budayanya. Yogyakarta menjadi kota yang tetap kehidupan yang baik karena beberapa hal yang diwariskan dari masa awal pembentukannya, yakni: kesetimbangan antara yang duniawi dengan yang spiritual, pemilihan lokasi yang baik,