c

Wednesday, 11 March 2009

Yayasan Siswa Among Beksa



Paguyuban ini didirikan oleh BPH. Yudonegoro pada tanggal 12 Mei 1052 bersama dengan para anggota Bebadan Among Beksa Kraton Yogyakarta berdasarkan pancasila dan berazaskan kekeluargaan serta gotong royong, meliputi bidang tari karawitan, tembang dan lain-lain. Tujuannya adalah adalah mempelajari, menggali , memelihara, membina , mengembangkan dan mengamankan kesenian klasik gaya Yogyakarta Mataram. Untuk mencapai tujuan itu, diadakan latihan, penataran, diskusi, dan penerangan berkaitan dengan kesenian klasik tersebut. Pada tanggal 20 Juli 1978 dengan SK. Akte notaris no. 15 dari Bapak Iman Sambudi Paguyuban Siswa Among Beksa berubah statusnya menjadi yayasan. Para anggota siswa Among Beksa terdiri dari segala lapisan masyarakat, baik pelajar, mahasiswa, karyawan maupun keluarga maupun keluarga Kraton.



YAYASAN SISWA AMONG BEKSA adalah salah satu contoh organisasi Kesenian Jawa, khususnya dalam bidang tari, karawitan dan tembang klasik gaya Yogyakarta Mataraman. Paguyuban ini didirikan oleh BPH. Yudonegoro pada tanggal 12 Mei 1952 bersama dengan para anggota Bebadan Among Beksa Kraton Yogyakarta, pada waktu itu bermaksud ingin menyebarluaskan tari klasik gaya Yogyakarta diluar tembok istana, dengan alasan agar usaha dalam melestarikan dan mengembangkan tari klasik gaya Yogyakarta tidak terikat sepenuhnya oleh peraturan di istana. Paguyuban berubah status menjadi yayasan dengan S.K. Akte Notaris Nomor 15 dari Bapak Imam Syamhudi S.H. dengan tanggal 20 Juli 1978, yang anggotanya terdiri dari baik mahasiswa, pelajar maupun masyarakat pada umumnya.
YAYASAN SISWA AMONG BEKSA bertujuan untuk : Mempelajari kesenian klasik gaya Yogyakarta, Menggali kesenian klasik gaya Yogyakarta, Memelihara kesenian Klasik gaya Yogyakarta, Membina kesenian klasik gaya Yogyakarta, Mengamalkan dan mengamankan kesenian klasik gaya Yogyakarta.
Untuk melaksanakan tujuannya, YSAB menyelenggarakan : Latihan-latihan tari, Penataran kesenian klasik gaya Yogyakarta mataraman, Pergelaran - pergelaran Tari klasik gaya Yogyakarta, Diskusi-diskusi seni serta Penerangan-penerangan kesenian kepada masyarakat.
YSAB merupakan suatu badan hukum yang bersifat sosial kemanusiaan, adapun kegiatan YSAB antara lain: mengadakan kursus tari dilaksanakan empat kali seminggu, bertempat di nDalem Kaneman Kadipaten Kidul no.44, pergelaran tari diadakan apabila ada permintaan dari masyarakat dan acara peringatan HUT YSAB. Kegiatan lainnya adalah kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pelestarian kesenian klasik Gaya Yogyakarta.

Tuesday, 10 March 2009

Perkumpulan Kesenian Irama Citra


Lahir pada tanggal 25 Desember 1949. Munculnya organisasi ini dilatarbelakangi berhentinya usaha-usaha untuk mempelajari kesenian Jawa sejak pertengahan bulan Agustus 1945 hingga kira-kira bulan Maret 1946. Hal ini menjadi perhatian bagi para penggemar kesenian Jawa angkatan muda waktu itu karena dikhawatirkan akan menyebabkan hilangnya kontinuitas dalam usaha memajukan dan mengembangkan kesenian Jawa. Menghadapi hal itu, diadakan pertemuan di Bintaran lor 22, yang menghasilkan kesepakatan untuk menghidupkan kembali usaha-usaha pemeliharaan kesenian dengan tidak melupakan dasar-dasar revolusi yang sedang bergelora. Langkah awal diadakan pertunjukan missal dalam bentuk wayang orang lakon calon arang pada tanggal 14 Juli 1946 bertempat di bangsal kepatihan. Kemudian terbentuk “badan persiapan” yang bertujuan memelihara hidupnya kesenian Jawa hingga setiap saat berguna bagi pembangunan Negara.


Akhirnya Perkumpulan Irama Citra dapat terbentuk dengan azas “ Kebudayaan Nasional “ dan bertujuan “ mengembangkan dan mempertinggi kesenian daerah menuju kearah kesenian Nasional “. Adapun pengurus pertama dari organisasi ini ialah : Swastuti Noto Yudo sebagai Ketua Umum, Koencaraningrat sebagai wakil ketua umum. Koesto Wongsowidagdo sebagai Sekretaris I, S. Moertono sebagai sekretaris II, Nyi Branti Susetyo sebagai bendahara, Sudiro Alimurtono sebagai sekretaris teknik. Perkumpulan kesenian Irama Citra dalam menyajikan pertunjukan-pertunjukan wayang orang mengambil cerita dari kesustraan Indonesia dengan maksud untuk menghidupkan kembali kesusastraan-kesustraan lainnya yang sudah mulai tidak dikenal oleh masyarakat. Sudah ada 8 buah cerita yang telah digubah menjadi suatu fragmen seni drama tari, yaitu : Calon Arang, Banjaran Sari, Lutung Kasarung, Jayenglengkara, Gandakusuma, Guru Gantangan, Gading Pengukir, dan Bambang Pajar Prana

Perkumpulan Kridho Beksa Wirama

Didirikan oleh G.B.H. Tedjokusumo dan BPH. Soerjodiningrat pada tanggal 17 Agustus 1918 atau 9 Dulkangidah 1848 hari Sabtu Wage. Pendirian perkumpulan Kridha Beksa Wirama di dorong atas hasrat untuk mengembangkan dan menyebarluaskan seni tari di luar tembok Kraton Yogyakarta. Karenanya menghadaplah dua orang pangeran ke hadapan Sri Paduka Sultan Hamengku Buwana VII untuk mohon izin mengajarkan seni tari di kalangan masyarakat di luar tembok Kraton Yogyakarta. Permohonan tersebut mendapatkan tanggapan positif dari Sri Paduka Sultan Hamengku Buwana VII bahkan pihak Kraton membantu dalam hal fasilitas pengajar maupun perlengkapan.


Adapun asas dan tujuan dari Kridha Beksa Wirama adalah : a) mempelajari dan mengembangkan,b) memelihara serta menjunjung tinggi mutu kesenian, c) menanam benih kecintaan kepada putra-putri dalam seni tari dan karawitan.


Pada awal perkembangannnya, mayoritas siswa perkumpulan ini adalah para pelajar pemuda-pemuda Jong Java. Selain para pelajar, putra-putra Sri Sultan Hamengku Buwana VII dan para kerabat istana, anak-anak guru tari Kraton yang sebagian besar juga mengajar di perkumpulan ini, kemudian lama-kelamaan meluas ke segenap lapisan masyarat. Bahkan orang-orang asing pun banyak yang menjadi siswa. Didalam Pelajaran tari oleh Kridha Beksa Wirama diperkenalkan system hitungan atau pandengan dengan maksud agar pelajaran bisa diterima dengan cepat oleh siswa-siswa terutama pada tingkat dasar.


Kridha Beksa Wirama berkesempatan menjadi model percobaan kostum wayang orang Mataram yang kemudian dipakai dan digunakan sebagai perlengkapan wayang orang Mataram. Karena jasa tersebut G.B.H Tedjokusumo dan B.P.H. Soerjodiningrat, memperoleh piagan Widjajakusuma . Kemudian Krida Beksa Wirama dipimpin oleh Ria Kusuma Broto Bersama RM Wasisto Surdjoningratan M.Sc. dan Wisnu wardhana. Sekarang Krida Beksa Wirama di pimpin oleh RM Tejo Darmokusumo, SP MMA yang merupakan cucu dari GPH Tedjokoesoemo. Pada tiap-tiap hari Minggu pagi diadakan latihan menari di Pendopo Tedjokusuman. Dengan Berdirinya Kridha Beksa Wirama , wayang wong gaya Yogyakarta betul-betul memasyarakat

Monday, 26 January 2009

Upacara Tradisi

Upacara Tradisi ada beberapa rangkaian upacara yang harus dilakukan, yaitu:


1. Masa Kehamilan

Pada masa kehamilan ini pada umumnya di masyarakat hanya dilaksanakan Upacara Tradisi Ngliman (hamil 5 bulan) dan Mitoni (hamil 7 bulan). Sebetulnya ada tradisi yang lain, yaitu manusia ada tanda – tanda kehamilan dengan ciri – ciri sudah tidak menstruasi, suka makan yang asam – asam dan pedas, mentah – mentah, dan lain – lain. Harus minum jamu atau nyup – nyup cabe puyang, mandi keramas, potong kuku , sisig (menghitamkan gigi) yang memiliki maksud selalu dalam keadaan suci. Karena pemahaman masyarakat Jawa dalam kehamilan selalu menjaga janin di kandungnya maka selalu berbuat kebaikan, tidak boleh mengejek orang, lebih – lebih orang cacat, tidak boleh membunuh mahkluk hidup dan lain sebagainya. Agar bayi yang dikandung sehat jasmani dan rohani serta menjadi anak yang bermanfaat bagi orang tua, agama, dan masyarakat.


2. Masa Kelahiran

Pada masa kelahiran ada beberapa tahapan:

a. Memotong ari – ari (placenta) secara tradisional pakai welat yaitu pisau yang dibuat dari bambu wulung (warna hitam) dengan segala kelengkapannya. Ari – ari dimasukkan dalam periuk yang diserta segala ubo rampe (kelengkapannya) hal ini dipahami sebagai saudara muda bagi bayi tersebut. Dalam Masyarakat Jawa sebelum bayi lahir dulu “kawah” (berwujud cairan secara biologis untuk memperlancar proses kelahiran) dipahami sebagai saudara tua dari bayi tersebut.

Setelah bayi dibersihkan / dimandikan kemudian di adzankan dan di iqomati:

b. Memberi nama dengan upacara brokohan

c. Sepasaran (lima hari) karena adat Jawa mengenal ada lima pasaran: pon, wage, kliwon, legi, pahing

d. Puputan (lepasnya ari – ari dari pusar bayi)

e. Selapanan (35 hari) dalam Adat Jawa ada 7 hari dan 5 pasaran kalau disatukan antara hari dan pasaran akan ketemu hari dan pasaran tersebut setiap 35 hari sekali

Misal: hari ini adalah Senin Pon makan 35 hari lagi merupakan hari Senin Pon

Selama masa kelahiran (35 hari) sanak keluarga dan tetangga setiap sore / malam tirakatan dengan kidungan atau mocopat pujian dengan membaca mantra – mantra agar anak & ibu selamat lahir dan batin


3. Masa Kanak – Kanak

Pada masa kanak – kanak ada beberapa tahapannya:

a Tedak sinten (turun tanah) adalaha upacara tradisi anak akan dilatih turun ke tanah kira – kira umur 7 bulan

b Ulang tahun (tingalan) dilaksanakan setelah anak umur 1 tahun sesuai hari, pasaran, dan tanggal

c Nyapih, upacara tradisi nyapih (anak tidak disusui oleh ibunya) anak umur 15 – 16 bulan (laki – laki) dan 18 – 19 bulan (wanita). Hal ini tidak sesuai anjuran dokter saat ini sebab ibu masih menghasilkan asi sehingga harus di habiskan bayi.


4. Masa Remaja dan Dewasa

a. Untuk anak laki – laki dikhitan pada umur sekitar 15 tahun

b. Tarapan (upacara tradisi bagi anak perempuan yang menstruasi pertama

c. Pangur, bagi laki – laki yang telah di khitan dan wanita yang telah menstruasi pertama dianggap telah dewasa, maka diadakan upacara tradisi pangur (meratakan gigi). Hal ini sekarang di anggap bisa merusak email gigi sehingga banyak yang tidak melaksanakan


5. Masa Pernikahan

Yang kami sajikan adalah Upacara Perkawinan Adat Jawa Gaya Yogyakarta

a. Dom Sumuruping Banyu

Dalam pemikiran Masyarakat Jawa mempunyai hajat mantu (menyelenggarakan perkawinan) berarti menambah anggaota keluarga baru dan calon orang yang menjadi pendamping hidup (bagi laki –laki) maupun orang yang menjadi pendamping hidup (bagi wanita) betul – betul sangat diperhatikan dari bobot (kedudukan), bibit (keturunan) dan bebet (silsilah) sebagai calon menantu diselidiki identitasnya dan sikap perilaku. Untuk keperluan tersebut memakai seorang yang berfungsi sabagi penyelidik atau Dom Sumuruping Banyu. Dan sekarang hal ini jarang dilakukan sebab kedua keluarga lebih leluasa untuk selalu mengenal.

b. Nontoni

Apabila sudah saling mengetahui latar belakang masing – masing keluarga. Keluarga laki – laki berkunjung ke kleuarga wanita agar sang laki – laki tahu wajah sang gadis, maka orangtua perempuan menyuruh si wanita untuk menyajikan hidangan sehingga bila cocok dilangsungkan perkawinan.

c. Lamaran

Apabila kedua belah pihak saling cocok (pada tahap Dom Sumuruping Banyu) sepakat untuk menjodohkan. Lamaran dilakukan dari keluarga laki – laki ke keluarga wanita dengan mengutus seseorang yang didampingi rombongan

d. Penyampaian Jawaban

Tahapan ini biasanya langsung pada waktu Lamaran, namun pada masa dahulu ada waktu tersendiri untuk itu

e. Peningset

Peningset adalah upacara penyerahan suatu benda dari orangtua calon pengantin laki – laki ke orang tua calon pengantin wanita, yang berarti sudah ada ikatan rembug (pembicaraan) kedua belah pihak saling mengikat janji. Benda – benda untuk peningset biasanya berupa satu stel pakaian wanita (kain panjang, bahan kebayak, kain penutup dada / strapless, ikat pinggang, selendang, sandal, dan lain sebagainya), perhiasan (cincin, gelag, kalung, subang), dan uang maka lazim disebut tukon.

f. Penentuan Hari Perkawinan

Kedua belah pihak bermusyawarah menentukan hari, tanggal, bulan, tahun perkawinan. Dasar pengambilan waktu tersebut diambil dari buku primbon agar perkawinannya berjalan lancar dan selamat dan pengantin nantinya diberi hidup yang sejahtera. Misalnya hari yang tidak dipakai hari dan pasaran meninggalnya orang tua dari keluarga tersebut.

g. Mendirikan Tarub

Tarub dari kata Taru berarti tetumbuhan atau Tarub berarti payon / atap. Mendirikan tarub yaitu membuat tempat yang diberi atap yang dibuat dari kajang (daun gebang) atau dari daun kelapa (bleketepe) untuk orang – orang yang njagong (menghadiri perhelatan).

Rumah yang ak an digunakan pernikahan dihiasi janur (daun kelapa yang masih muda) dihilangkan lidinya, sehingga seperti sulur (akar) beringin dimaksud hidup sempulur (lestari), meolak bala warna kuning sebagai warna keluhuran.

Tuwuhan dipasang kanan – kiri pintu masuk seperti sebatang tebu warna ungu, daun beringin, daun patra manggala, dan kelapa gading satu janjang (tandan) satu ikat padi Jawa. Makna tetuwuhan tersebut adalah lambang kemakmuran dan harapan pengantin nanti segera tuwuh atau punya keturunan.

Dalam rangka mendirikan tarub diadakan selamatan kenduri dan membuat sesaji buangan (ditaurh di mata iar dimana keluarga mengambil air, di pojok – pojok dusun, perempatan dan di dalam rumah (senthong, pintu masuk, dapur, dan lain sebagainya)

h. Srah – Srahan

Upacara penyerahan calon pengantin laki –laki ke keluarga pengantin wanita 2 atau 3 hari sebelum hari H perkawinan

i. Siraman

Satu hari sebelumnya pengantin laki –laki dan wanita dimandikan dengan menggunakan tata cara tradisi dengan segala segala peralatan dan perlengkapannya dimaksudkan menjadi suci, bersih, dan bercahaya.

j. Ngerik

Setelah dimandikan mempelai wanita di rias dengan dikerik (dihidangkan sedikit rambutnya) kemudian disanggul

k. Midodarani

Acara tradisi malam midodareni dilaksanakan pada malam hari calon pengantin wanita dirias hingga menjadi cantik dan acara ini dilaksanakan di rumah pengantin wanita. Malam ini menyambut kedatangan bidadari – bidadari dari khayangan yang ikut merias penatin wanita. Sesaji midodarani adalah nasi gurih dan lauk pauk.

l. Upacara Ijab / Nikah

Setelah upacara idodareni pagi harinya dilaksanakan perkawinan baik secara keagamaan maupun adat. Dalam ijab, bagi yang beragama islam dapat datang ke penghulu atau mendatangkan penghulu. Yang berhak menikahkan (ikrar nikah) wali / orang tua pengantin wanita, tetapi pada umunya minta tolong peghulu / naib, untuk nanting (meminta kesungguhan hati) pengantin wanita. Setelah mantap untuk dinikahkan dengan suaminya dilaksnakan “ijab Kabul” dan disertai doa – doa oleh naib.

Setelah proses selsai “ngabekten” yaitu pengantin pria mencium lutut mertua dan dilangsungkan kepada sesepuh yang lain (ngabekten ini biasanya dilaksanakan pada panggih)

m. Acara Merias Pengantin

Kedua mempelai setelah ijab kabul keudian dirias untuk menghadapi upacara panggih. Pada jaman sekarang biasanya saat ijab kabul pengantin telah dirias sehingga langsung ke acara panggih.

n. Panggihing Pengantin

Setelah selesai di rias dan dibusanani maka pegantin dipertemukan / panggih. Berikut ini urut – urutannya.

1). Pengantin laki – laki datang ke rumah pengantin wanita / mertua di dampingi 2 pengiring lelaki dan rombongan. Di depan sendiri berjalan 2 orang wanita masing – masing membawa 1 baki berisi sanggan lampah permintaan pengantin dan sanggan tebusan pengantin isinya sama, masing – masng terdiri:

§ Pisang raja 1 tangkep, sirih ayu lengkap gambir, injet, jambe, dan tembakau

§ Kembang telon (mlathi, kanthil, kenangan)

§ Kemenyan

§ Alat Tenun (kisi)

§ Lawe i ukel di tingkap pada pisang

§ Lisah sudul langit

§ Dan lain sebagainya

2). Sementara dirumah pengantin wanita menunggu menantu dan rombongan, kemudian rombongan menyerahkan 2 buah pisang sanggan tadi

3). Pengantin lelaki berdiri saling berhadapan dengan pengantin wanita di depan ruang pertemuan / pendapa

4). Upacara balang – balangan (sadakan), Kedua mempelai saling melempar gantal (sadahan kinang) wanita 3 x lelaki 4 x, hal ini merupakan inti upacara panggih

o. Upacara Membasuh Kaki

Pengantin wanita jomngkok dihadapan pengantin membasuh kedua kaki lelaki dengan bungan setaman tanda penyerahan diri pengantin wanita kepada suaminya.

P. Bergandeng Tangan

Setelah selesai membasuh kaki kedua mempelai berdiri sejajar, pengantin lelaki kanan dan pengantin wanita disebelah kiri lalu kanthen asta (bergandeng tangan) dengan masing – masing jari kelingking saling mengait hal ini disebut panigara yan artinya mengharap kebahagiaan yang sempurna

q. Upacara Memecah Telur

Penganthi pengantin wanita (perias) mengambil telur ayam yang ditaruh dalam air kembang setaman dalam pengaron (tempayan) mengetukkan pada dahi kedua mempelai, kemudian perias membanting telur ke tanah maksudnya pengantin sudah pecah status jejaka dan keperawanannya.

r. Upacara Mancik

Berdiri diatas pasangan rakitan lembu. Kedua pengantin disuruh berdiri diatas pasangan rakitan lembu sebagai lambang kebersamaan dalam tanggung jawab hidup berumah tangga

s. Upacara Duduk Bersanding

Tempo dulu dari upacara mancik pasangan tadi masuk ke pendopo duduk di depan senthong / pedaringan, kalau sekarang di gedung dengan hiasan dekorasi (rono) penggambaran dari senthong tengah dan senthong kanan – kiri serta duduk diatas kursi

  1. Upacara Dhahar Walimahan

Dhahar / makan nasi kalimah / walimahan (nasi kuning dan lauk ayam pindang dan lain sebagainya). Kedua mempelai saling menyuapi. Hal ini mengandung arti kedua mempelai saling mencintai dan menyayangi.

  1. Upacara Tampa Kaya

Upacara Tampa Kaya juga disebut Kacar – Kucur. Pengantin wanita menerima “guna kaya” atau penghasilan dari pengantin laki – laki. Berwujud kacang tanah, kedelai, beras, jagung, botor, gudhe, gabah, uang receh dari logam, dan kembang telon. Cara penerimaan pengantin lkai – laki duduk diatas dan pengantin wanita duduk di bawah bersila. Dengan mempergunaka sapu tangan tidak boleh tercecer. Juru rias dengan mengucapkan “Kyai Ambar Sejati badhe merengake kaya datheng Nyai Ambar Sejati” Kacang kawak, dhele kawak, jagung kawak – wong liya dadi sanak – wong adoh dadia cedhak – nastiti, ngati ati, werdi, dadi.

Kalau sekarang kedua mempelai duduk satu kursi kemudia diberikan kepada ibu pengantin wanita.

Maksud Upacara Tampa Kaya berarti bahawa segala bentuk tanggung jawab rumah tangga orang Jawa di pundak laki – laki, maka wujud tanggung jawab tersebut memberikan penghasilannya kepada istrinya. Sebagai istri pandai managemen rumah tangganya (setiti nati – ati, tidak boros)

  1. Upacara Ujung

Pengantin wanita menyatakan baktinya kepada suami dengan “ngabekti” atau “ujung”, tetapi pada jaman sekarang jarang dilaksanakan. Pada jaman sekarang ngabekti dilaksanakan kepada kedua belah pihak orang tua pengantin, dimulai dari orang tua pengantin wanita da pada waktu sungkem tersebut keris yang dikenakan pengantin laki – laki harus dilepas terlebih dahulu.

  1. Upacara Pangkon

Tempo dulu Upacara Pangkon masih banyak dilakukan setelah Upacara Tampa Kaya. Tata caranya adalah: ayah pengantin wanita di depan ruang tengah (pedaringan) kemudian kedua mempelai di pangku (duduk diatas paha). Pengantin laki – laki duduk diseblah kanan dan pengantin wanita duduk disebelah kiri. Ibu pengantin wanita bertanya “berat yang mana pakne, anak laki – laki atau anak wanita / Abot pundi pakne, anak lanang napa anak wadon (ngoko)” Jawabannya: Pada abote / sama beratnya. Pada jaman sekarang jarang yang melakukannya.

  1. Acara Duduk Bersanding

Kedua mempelai duduk bersanding lagi sampai seluruh upacara perkawinan selesai. Pada waktu duduk bersanding yang kedua, kedua mempelai berganti pakaian dari pakaian basahan ke pakaian corak jangan menir

  1. Menerima Jabat Tangan

Setelah semua acaa selesai, kedua mempelai berdiri di depan kursi atau di depan pintu di dampingi orang tua masing – masing menerima jabat tangan

6. Masa Kematian

a. Surtanah

b. Nelung dina

c. Mitung dina

d. Matang puluh

e. Nyatus

f. Pendak pisan

g. Pendak pindho

h. Nyewu


Wong jawa iku seneng marang basa simbol

IR. H. YUWONO SRI SUWITO, MM

(BUDAYAWAN – KETUA FORUM PELESTARI WARISAN BUDAYA)

Tradisi lan tindakan wong Jawa iku tansah cecekelan marang lara perkara yaiku : Filsafat Hidup kang religius lan mistis sarta Etika Hidup kang njunjung lan nengenake marang babagan moral sarta drajating urip .Wong Jawa anggone nglakoni urip kang kebak makna sarta falsafah kasebut nggunaake basa simbol, perkara iki nduweni maksud yaiku sakliyane supaya gampang anggone ngeling-eling uga supaya cepet rumesep ana ing pikirane wong Jawa kang pancen sakawit para leluhure luwih seneng nggunakake basa simbol mau

Contone, wong Jawa ana ing tingkah lakune nggunakake basa simbol kang ana sambung rapete marang kaluhuraning budi, ing antarane pedoman-pedoman laku utama ana ing Wasiat Cupu Maning Asta Gina kang dinukil dening Budiono Herusatata (1983), yaiku ngenani wolu cecekelan laku tumrape wong Jawa kang aran Asta Brata, kang lengkape :

  1. Wanita (jarwodosoke Wanudya kang pusputa), yaiku wanudya kang sulistyaning warni. Mujudake simbol kaendahan kang ora winates.Kaendahane ora mung ana ing rupa ananging uga ana ing jeroning ati, endah lair tumusing batin, sahengga dadi kaendahan kang sempurna. Keendahan wanita sempurna iku siombol/lambang gegayhaning manungsa. Saben manungsa kang duweni gaegayuhan luhur diibaratke kayadene wong lanang kang kepengen nduweni wanita kang sulistyaning warni minangka jatu kramane. Kanthu nduweni gegayuhan kang luhur mau ataeges saben manungsa kudu mbudidaya kanthi sinau, nyambutgawe, lan ikhtiar kanthi ora kenal sayah lan gampang nglokro kanggo nggayuh gegayuhan mau.
  2. Garwa (jarwadosoke Sigaraning nyawa), Saben bojo lanang iku minangka sigaraningnyawa bojo wadon lan bojo wadon mingka sigaraning nyawa bojo lanang. Suani isteri iku sajiwa rong raga utawa rong awak. Garwa mingka simbol menawa manungsa iku supaya isa nyawiji marang lingkungane, sedulure, lan masyarakate. Kabeh manungsa kudu dianggep kekancaning urip kang nunggal nasip, lan uga isa urip neng masyarakat kanthi rukun lan damai, saling asah, asih lan asuh. antarane siji lan sijine kayadene sapasang bojo(suami isteri), kanco sehidup semati. Iki kabeh ateges menawa manungsa iku kudu duweni budi pekerti kang luhur.
  3. Wisma utawa omah. Yaiku papan kanggo manggon/mapan sawijining keluarga. ana ing omah mau para penghunine pada golek perlindungan saka panase srengenge, telese udan sarta ademe hawa wengi. Sakliyane iku omah uga nduweni fungsi kanggo nyimpen bandha apa wae kang didarbeki dening keluarga. Minangka papan kanggo manggon, omah tansah diatur kanthi rapi dening kang manggon, mengkono uga saben wong perlu niru marang sifate omah, yaiku nisa nampa sapa wae kang mbutuhake marang perlindungane, isa kanggo nampung/nglumpukake lan ngatur kabeh masalah, sarta isa tumindak wicaksana lan ngatur carane nglaerake penemu manut kahanan, waktu lan papan.
  4. Turangga (jarwadosoke tetumpakane prang para punggawa) . Kuda tumpakan perang para prajurit iku nduweni sifat gagah, kuat, lan lincah sahengga isa mlayu banter, isa mlaku rindik-rindik, isa ngguling –ngguling lan uga isa mlayu kanthi nglanggar apa wae kang dadi pepalang kang ana ing ngarepe.Kabeh polahe kuda mau gumantung marang jokine kang kuasa ngendaleni kuda mau. Polahe kuda tumpakan para prajurit perang iku mingka lambang/simbol nafsu jasmani manungsa. supaya manungsa iku kudu tansah sadar menawa jasmani, pancadriya, lan nafsu manungsa iku tansah dikendalani dening jiwa lan budine manungsa dewe kang dilambangake/disimbolake joki.Jiwa lan budi kudu tansah nguasani , ngatur, lan ngekang marang gejolak nafsu jasmanine sahengga manungsa bakal urip kang tentrem. Ananging menawa manungsa ora isa ngendaleni, ngatur, lan ngekang nafsune sahengga uripe liar, mangka bakal ngalami bencana.
  5. Curiga (Jarwadosoke Curi lan raga). Watu curi utawa watu lincipiku isa mbebayani tumrape jasmani utawa awake manungsa amarga ngancam jiwa kang ana ing raga ananging uga isa kanggo nglindungi awak saka bebaya kang bakal teka. Dadi gumantung seka ngendi anggone ndeleng.Curiga uga sinebut keris. Keris iku diginakake minangka gegamane para raja lan satria ana ing olahkridaning perang utawa latihan ngadepi perang. Keris iku mingka simbol kepinteran, keuletan, lan ketangkasan. Manungsa anggone ngadepi tantangan urip perlu tansah nggunaake pikiran kang lantip, mental kang ulet, sarta sikap kang tangkas lan trengginas sahengga isa ngadepi kahanan kanthi pas lan ore gampang diapusi dening manungsa liyane
  6. Kukila utawa manuk perkutut. Wong Jawa umume nduweni hobby ngingu manuk perkutut, tujuane supaya bisa dimanfaatake swarane kang merdu. Swara manuk perkutut kang isa “kung” ateges swarane manuk mau bener-bener merdu.sahengga isa nambah kesenengan lan kemareman atine kang duwe. Swara manuk kang merdu iku minangka simbol swarane manungsa kang kepenak dirungokake, maksude manungsa anggone ngucap lan celathu supaya kanthi becik, isine tegas, mentes, lan perbawa, sahengga kang diajak wicara bisa marem lan ngestokake. Kasakbalene manungsa supaya nyingkiri ucapan kang ndadeake lara ana ing atie liyan kang bisa njalari dadi pasulayan
  7. Waranggana utawa sinebut ronggeng. Ronggeng yaiku wanita kang koget ana ing sawijining arena utawa panggung kang jembar kang dikelilingi dening penonton. Sawijining penonton kang ketiban sampur kudu melu joget manut iramane ronggeng, supaya ronggeng tansah konsentrasi marang deweke, menawa ora mengkono , si ronggeng mau bisa kagoda dening penari priya papat cacahe kang ngiringi ana ing sakiwa tengene. Olah tari ronggeng iku minangka simbol menawa manungsa iku nalika nduweni gegayuhan kang luhur tansah ana godane. Wondene goda kang ana ing uripe manungsa iku ana patang werna, dilambangake/disimbolake penari priya cacahe papat, yaiku kapisan nafsu amarah, nafsu kang metu saka kuping utawa prangungu,kapindho nafsu aluamah, nafsu kang metu saka tutk utawa kenikmatan rasa utawa srakah, kateluy sufiah, nafsu kang metu saka mata utawa pandeleng, kapat mutmainah, nafsu kang metu saka irung utawa penciuman. Menawa budi manungsa isa ngekang patang nafsu mau , mangka gegayuhan kang luhur bakal gampang kasile sebab manungsa isa kadohake saka nafsu seneng-seneng lan nglokro.
  8. Pradangga (jarwadosoke praptaning kendang lan ngangsa). Seperangkat gamelan kang kaperang saka : kendhang, gambang, gender, penerus utawa saron lengkap, rebab, suling, kenong, kempul, lan gong. Saben-saben alat menawa dithuthuk bakal ngetokake swara kang beda-beda, sahengga menawa dithuthuk bareng tanpa aturan, tanpa laras bakal ngetokake swara hingar-bingar, ora karu-karuan, lan ora isa dinikmati.Ananging menawa dithuthuk nganggo aturan kang gumathok, kang laras bakal ngetokake swara kang mat utawa isa dinikmati. Gamelan mingka lambang/simbol masyarakat kang kaperang saka mayuta-yuta manungsa kanthi watak lan kekarepan dhewe-dhewe. Menawa saben wong bakal nuruti kekarepane dhewe tanpa manut aturan kang mlaku, mangka donya bakal kacau.Ana ing kahanan damai mangka saben wong dhuweni piguna dhewe-dhewe ana ing masyarakat.a ana sawijining w3ong kang ora dhuweni piguna, saben wong isa nyumbangake kepinterane dhewe-dhewe kanthi selaras lan harmonis, sarta manfaati tumrap warga liyane. yaiku kahanan urip kang tata tentrem karta raharja..

.Nanging, ana ing owah gingsiring jaman, masyarakat Jawa saiki rumangsa ngalami kangelan nggunakkake basa simbol kasebut amarga :

1. wus angel mahami basane, amarga akeh kang nggunakake basa krama inggil, malah uga basa Jawa Kuna,

2. Basa simbol kasebut ora diwulangake ana ing papan pasinaon kang formal, nanging mung digunakke ana ing lingkungan keluarga lan masyarakat.

Kamangka, istilah kasebut mujudake simbol, sahengga kanthi ungkapan kang ringkes nanging isa nduweni makna kang luas banget menawa dideleng saka sisi pemahaman aplikasi ana ing urip saben dinane. Nanging, pancen saperangan gede basa simbol kasebut diarahke marang kaum priya, amarga saliyane masyarakate isih paternalistik, uga kaum priya iku dianggep minangka penanggung jawab keluarga.

Kanthi perkembangan jaman, lan kemajuan ngelmu lan teknologi makna lan fungsi istilah-istilah kasebut ngalami owah gingsir. Kang dadi sebab yaiku : makna lan basa lambang kasebut ora mlebu ana ing ngelmu pendidikan, sahengga mung kanggo cecekelan urip tumrape wong Jawa. Sabanjure, uga kanthi anane pemahaman wong Jawa ngenani ngelmu agama, makna kang ana ing simbol-simbol iku mung dadi makna budaya tumrape wong Jawa (Agam)