c

Monday, 23 April 2012

‘Togog Mantu’, Kemenangan Berpihak kepada Kebenaran

23/04/2012 02:00:01 TOGOG membatalkan sepihak besan-an dengan Semar. Rencana pernikahan Kecublak, anak Togog, dengan Glenter, anak Semar, terganggu dengan keinginan Lesmana, Prabu Duryudana, anak Raja Astina. Togog tergiur dengan bujukan Durna yang membawa amplop berisi uang, sehingga berniat membatalkan pernikahan anaknya dengan Glenter. Setelah melewati berbagai konflik, ternyata Glenter (diperankan Supatmi SPd) dan Kecublak (Ratih SSn) tak bisa dipisahkan. Akhirnya Togog (Yuningsih) membatalkan pinangan Lesmana (Nunung Ristiawati) dengan mengembalikan uang kepada Togog. Pernikahan pun berlangsung antara Glenter yang ternyata Abimanyu dan Kecublak yang sebenarnya Siti Sendari hingga membuat murka Duryudana (KRAj Tmg Niken Sadjarwo SH MH). Kisah yang ditampilkan pada Pergelaran Wayang Wong Putri dengan lakon carangan Togog Mantu dengan sutradara Ki Pardiman di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu (21/4) malam, itu mengingatkan, kemenangan selalu berpihak kepada yang benar. Pimpinan pergelaran, Yati Pesek yang malam itu berperan sebagai Petruk mengatakan, cerita wayang orang memang diwarnai tuntunan-tuntunan yang bisa menjadi teladan bagi penonton atau bahkan para pemainnya. Misalnya, watak Kurawa itu kebanyakan serakah, suka bikin ulah yang tidak baik, suka menyengsarakan orang lain. “Berbeda dengan Pandawa yang serba manut, diapak-apakke meneng. Wong sing salah bakal seleh,” kata Yati Pesek, usai pentas yang melibatkan Komunitas Pecinta Seni Wayang Orang Tresna Budaya Yogyakarta serta Padepokan Yati Pesek dan didukung Dinas Kebudayaan DIY ini. Terlepas dari kekurangan karena tidak semua pemain murni seniman, pergelaran untuk memperingati Hari Kartini ini menjadi sarana melestarikan wayang orang sekaligus sebagai hiburan. Banyak diwarnai humor, tanpa harus berpikir rumit. Para pendukung pun seperti ketagihan untuk bermain kembali. “Main wayang ini asyik kok, ya? Le dandan seka pucuk sikil tekan pucuk rambut. Dengan omongan ditata, tindakan ditata,” tambah Yati Pesek. Hj Tri Kirana Muslidatun, istri Walikota Yogya, Haryadi Suyuti, yang sudah tiga kali mendukung pentas wayang orang seperti ini menyatakan senang karena wayang orang termasuk kesenian lengkap. Ada unsur tari, bahasa, tata busana, seni rupa, musik dan tembang. “Saya ikut pentas wayang wong ini, rasanya jadi tuman. Sebab, selain dapat belajar seninya, juga bisa berinteraksi berbagi pengalaman dengan seniman dan pendukung beragam profesi,” tandas Tri Kirana yang berperan sebagai Nyai Petruk. Keinginan mementaskan lagi wayang orang cukup tinggi. Bahkan Yati Pesek sudah merencanakan dua pentas tahun ini, Agustus untuk laki-laki dan perempuan, serta Desember khusus perempuan. Para pendukung yang dari beragam profesi pun siap berkiprah lagi, tidak hanya ingin tampil di panggung, melainkan juga membantu pendanaan. (Ewp/Cil)-s
Ngayogyakarta, www.jogjatv.tv – Prasasat saben wewengkon ing Indonesia samangke nedheng mengeti Hari Kartini. Makaten ugi Paguyuban Ringgit Tiyang Tresno Budaya Ngayogyakarta, ingkang mengeti Hari Kartini, kanthi ngadani pagelaran ringgit tiyang, malem minggu (22/4) kala wingi, ing Taman Budaya Yogyakarta. Mapan ing Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, paguyuban ringgit tiyang ingkang dipun pandegani dening Yati Pesek, ngadani pagelaran ringgit tiyang sesirah "Togog Mantu". Ancasing pagelaran kangge mengeti Hari Kartini, sarta kangge nglestantunaken seni ringgit tiyang. Lampahan Togog Mantu, dipun paragani dening 32 paraga ingkang sedayanipun wanita, kanthi bintang tamu garwa Walikota Yogyakarta Tri Kirana Muslidatun sarta Ciblek, seniman saking Banyumas. Togog mantu nyariyosaken Togog, ingkang badhe ndhaupaken putrinipun Kecublak kaliyan Glenter putranipun Semar. Ananging Raja Astina, Prabu Duryudana dumadakan dhawuh supados Kecublak dipun dhaupaken kaliyan Lesmana. Pagelaran ringgit tiyang kasebat, pranyata ndamel keprananipun pamirsa. (Chandra Saputra)

Wayang Wong Tresno Budaya “togog Mantu”

Kamis 19 April 2012 Menjelang peringatan Hari Kartini tanggal 21 April mendatang, Program Langen Swara edisi Kamis 19 April 2012 menghadirkan dua narasumber seniman wanita, yakni Yati Pesek dan Dra. Daruni,M.Hum.
Sebagai wujud pelestarian seni budaya, Paguyuban Wayang Wong Tresna Budaya akan menggelar pertunjukan wayang wong dengan lakon Togog Mantu pada tanggal 21 April 2012 bertempat di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Pagelaran wayang wong tersebut digelar untuk memperingati Hari Kartini, oleh karenanya 32 pemain yang mendukung pertunjukan adalah wanita. Ada yang istimewa dalam pagelaran wayang wong tersebut, yakni akan diramaikan oleh bintang tamu istri walikota Yogyakarta, Tri Kirana Muslidatun serta Ciblek, salah satu seniman banyumasan.

Wayang Togog Mantu Dimainkan Para Perempuan

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pelawak perempuan Yati Pesek asal Yogyakarta, memprakarsai pentas wayang orang khusus perempuan pecinta kesenian wayang dari Yogyakarta dan Jakarta dengan lakon Togog Mantu, di Conser Hall Taman Budaya Yogyakarta. Sabtu (21/4/2012). Pentas ini di samping untuk memperingati Hari Kartini 21 April, juga berkeinginan kuat untuk melestarikan seni wayang orang yang kini mulai memudar . Menurut Yati Pesek, Perkembangan wayang wong sekarang sangat memprihatinkan, senimannya beralih ke jenis seni lain, ataupun berganti profesi selain seni.Begitu juga dengan kostum dan perlengkapan pentas lainnya pun menganggur. . "Hal itu terjadi karena pernah adanya gelar wayang orang. Pergelaran wayang wong yang di adakan dalam setahun Cuma 1-2 kali dengan penonton yang sedikit. Karena itu penjualan tiket tidak mampu menutup biaya produksi," katanya. Di tengah kondisi yang memprihatinkan tersebut, muncul kesadaran penuh akan kelestarian budaya wayang orang tersebut. Dengan dipelopori Yati Pesek dan para pemerhati wayang orang di Yogyakarta seperti Ir. Yuwono Sri Suwito, M,Hum, Dra. Sri Dadi Wiharti, Msi., Apt., grup wayang orang bernama Paguyuban Tresno Budaya Yogyakarta berkomitmen untuk melestarikan wayang orang. Selama ini grup wayang yang semuanya perempuan itu, melakukan pergelaran rutin wayang orang setiap tahun. Pada tahun 2009 menyelenggarakan pentas berjudul "Srikandi Mustokoweni" di Concert Hall TBY dan tahun 2010 menyelenggarakan Pergelaran Wayang Wong Lakon Petruk Dadi Ratu sebagai bagian dalam Festival Kesenian Yogyakarta 2010 di Societet TBY. Selanjutnya, 2 April 2011 dalam rangka memperingati hari Kartini mempergelarkan Lakon Burisrawa Stres, dan bulan juli 2011 dengan lakon Larasyati Edan. Dan Sabtu (21/4 ) mendatang lakon Togog Mantu. Togog Mantu adalah sebuah lakon carangan yang mengisahkan Togog akan menikahkan anaknya bernama Kecublak dengan Glenter anak Semar. Namun Raja Astina Prabu Duryudana tiba-tiba didatangi oleh anaknya Lesmana yang minta dikawinkan dengan Kecublak anak Togog. Prabu Duryudana, mengutus Adipati Karno dan Begawan Durna untuk menemui Togog. Semula Togog menolak, karena Kecublak akan dinikahkan dengan Glenter anak Semar. Namun tekanan Adipati Karno dan Begawan Durna begitu kuat, sehingga Togog bersedia membatalkan perkawinan dengan anak Semar dan menerima lamaran Lesmana. Melihat kenyataan itu Petruk yang menjadi utusan Semar marah dan terjadilah perselisihan yang seru antara Petruk dan Adipati Karno.

Sunday, 25 December 2011

SEJARAH KOTA YOGYAKARTA

SEJARAH KOTA YOGYAKARTA


Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, Grobogan.

Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755.

Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang disebut Beringin, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan, sedang disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya. Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton.

Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan.

Setahun kemudian Sultan Hamengku Buwono I berkenan memasuki Istana Baru sebagai peresmiannya. Dengan demikian berdirilah Kota Yogyakarta atau dengan nama utuhnya ialah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Pesanggrahan Ambarketawang ditinggalkan oleh Sultan Hamengku Buwono untuk berpindah menetap di Kraton yang baru. Peresmian mana terjadi Tanggal 7 Oktober 1756
Kota Yogyakarta dibangun pada tahun 1755, bersamaan dengan dibangunnya Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di Hutan Beringin, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi tersebut nampak strategi menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menerima piagam pengangkatan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi DIY dari Presiden RI, selanjutnya pada tanggal 5 September 1945 beliau mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa daerah Kesultanan dan daerah Pakualaman merupakan Daerah Istimewa yang menjadi bagian dari Republik Indonesia menurut pasal 18 UUD 1945. Dan pada tanggal 30 Oktober 1945, beliau mengeluarkan amanat kedua yang menyatakan bahwa pelaksanaan Pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta akan dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII bersama-sama Badan Pekerja Komite Nasional

Meskipun Kota Yogyakarta baik yang menjadi bagian dari Kesultanan maupun yang menjadi bagian dari Pakualaman telah dapat membentuk suatu DPR Kota dan Dewan Pemerintahan Kota yang dipimpin oleh kedua Bupati Kota Kasultanan dan Pakualaman, tetapi Kota Yogyakarta belum menjadi Kota Praja atau Kota Otonom, sebab kekuasaan otonomi yang meliputi berbagai bidang pemerintahan massih tetap berada di tangan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kota Yogyakarta yang meliputi daerah Kasultanan dan Pakualaman baru menjadi Kota Praja atau Kota Otonomi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1947, dalam pasal I menyatakan bahwa Kabupaten Kota Yogyakarta yang meliputi wilayah Kasultanan dan Pakualaman serta beberapa daerah dari Kabupaten Bantul yang sekarang menjadi Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo ditetapkan sebagai daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Daerah tersebut dinamakan Haminte Kota Yogyakaarta.
Untuk melaksanakan otonomi tersebut Walikota pertama yang dijabat oleh Ir.Moh Enoh mengalami kesulitan karena wilayah tersebut masih merupakan bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan statusnya belum dilepas. Hal itu semakin nyata dengan adanya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, di mana Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Tingkat I dan Kotapraja Yogyakarta sebagai Tingkat II yang menjadi bagian Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selanjutnya Walikota kedua dijabat oleh Mr.Soedarisman Poerwokusumo yang kedudukannya juga sebagai Badan Pemerintah Harian serta merangkap menjadi Pimpinan Legislatif yang pada waktu itu bernama DPR-GR dengan anggota 25 orang. DPRD Kota Yogyakarta baru dibentuk pada tanggal 5 Mei 1958 dengan anggota 20 orang sebagai hasil Pemilu 1955.
Dengan kembali ke UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 diganti dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, tugas Kepala Daerah dan DPRD dipisahkan dan dibentuk Wakil Kepala Daerah dan badan Pemerintah Harian serta sebutan Kota Praja diganti Kotamadya Yogyakarta.

Atas dasar Tap MPRS Nomor XXI/MPRS/1966 dikeluarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Berdasarkan Undang-undang tersebut, DIY merupakan Propinsi dan juga Daerah Tingkat I yang dipimpin oleh Kepala Daerah dengan sebutan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta dan Wakil Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengankatan bagi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah lainnya, khususnya bagi beliiau Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Sedangkan Kotamadya Yogyakarta merupakan daerah Tingkat II yang dipimpin oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dimana terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengangkatan bagi kepala Daerah Tingkat II seperti yang lain.

Seiring dengan bergulirnya era reformasi, tuntutan untuk menyelenggarakan pemerintahan di daerah secara otonom semakin mengemuka, maka keluarlah Undang-undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur kewenangan Daerah menyelenggarakan otonomi daerah secara luas,nyata dan bertanggung jawab. Sesuai UU ini maka sebutan untuk Kotamadya Dati II Yogyakarta diubah menjadi Kota Yogyakarta sedangkan untuk pemerintahannya disebut denan Pemerintahan Kota Yogyakarta dengan Walikota Yogyakarta sebagai Kepala Daerahnya.







VISI KOTA YOGYAKARTA
Terwujudnya Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan yang berkualitas, Pariwisata yang berbudaya, pertumbuhan dan pelayanan jasa yang prima, ramah lingkungan serta masyarakat madani yang dijiwai semangat Mangayu Hayuning Bawana
MISI KOTA YOGYAKARTA
1. Menjadikan dan mewujudkan lembaga pendidikan formal, non formal dan sumber daya manusia yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi serta kompetitif dalam rangka mengembangkan pendidikan yang berkualitas.
2. Menjadikan dan mewujudkan pariwisata , seni dan budaya sebagai unggulan daerah dalam rangka mengembangkan kota sebagai kota pariwisata yang berbudaya.
3. Menjadikan dan mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai motor penggerak pertumbuhan dan pelayanan jasa yang prima untuk wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan .
4. Menjadikan dan mewujudkan masyarakat yang menyadari arti pentingnya kelestarian lingkungan yang dijiwai semangat ikut memiliki/handarbeni.
5. Menjadikan dan mewujudkan masyarakat demokrasi yang dijiwai oleh sikap kebangsaan Indonesia yang berketuhanan, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berkerakyatan dan berkeadilan sosial dengan semangat persatuan dan kesatuan.

KONDISI GEOGRAFIS KOTA YOGYAKARTA


I BATAS WILAYAH
Kota Yogyakarta berkedudukan sebagai ibukota Propinsi DIY dan merupakan satu-satunya daerah tingkat II yang berstatus Kota di samping 4 daerah tingkat II lainnya yang berstatus Kabupaten
Kota Yogyakarta terletak ditengah-tengah Propinsi DIY, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut
Sebelah utara : Kabupaten Sleman
Sebelah timur : Kabupaten Bantul & Sleman
Sebelah selatan : Kabupaten Bantul
Sebelah barat : Kabupaten Bantul & Sleman
Wilayah Kota Yogyakarta terbentang antara 110° 24' 19" sampai 110° 28' 53" Bujur Timur dan 7° 49° 26° sampai 070° 15° 24° Lintang Selatan dengan ketinggian rata-rata 114 m diatas permukaan laut
II KEADAAN ALAM
Secara garis besar Kota Yogyakarta merupakan dataran rendah dimana dari barat ke timur relatif datar dan dari utara ke selatan memiliki kemiringan ± 1 derajat, serta terdapat 3 (tiga) sungai yang melintas Kota Yogyakarta, yaitu :
Sebelah timur adalah Sungai Gajah Wong
Bagian tengah adalah Sungai Code
Sebelah barat adalah Sungai Winongo
III LUAS WILAYAH
Kota Yogyakarta memiliki luas wilayah tersempit dibandingkan dengan daerah tingkat II lainnya, yaitu 32,5 Km² yang berarti 1,025% dari luas wilayah Propinsi DIY
Dengan luas 3.250 hektar tersebut terbagi menjadi 14 Kecamatan, 45 Kelurahan, 617 RW, dan 2.531 RT, serta dihuni oleh 489.000 jiwa (data per Desember 1999) dengan kepadatan rata-rata 15.000 jiwa/Km²
IV TIPE TANAH
Kondisi tanah Kota Yogyakarta cukup subur dan memungkinkan ditanami berbagai tanaman pertanian maupun perdagangan, disebabkan oleh letaknya yang berada didataran lereng gunung Merapi (fluvia vulcanic foot plain) yang garis besarnya mengandung tanah regosol atau tanah vulkanis muda
Sejalan dengan perkembangan Perkotaan dan Pemukiman yang pesat, lahan pertanian Kota setiap tahun mengalami penyusutan. Data tahun 1999 menunjukkan penyusutan 7,8% dari luas area Kota Yogyakarta (3.249,75) karena beralih fungsi, (lahan pekarangan)
V IKLIM
Tipe iklim "AM dan AW", curah hujan rata-rata 2.012 mm/thn dengan 119 hari hujan, suhu rata-rata 27,2°C dan kelembaban rata-rata 24,7%. Angin pada umumnya bertiup angin muson dan pada musim hujan bertiup angin barat daya dengan arah 220° bersifat basah dan mendatangkan hujan, pada musim kemarau bertiup angin muson tenggara yang agak kering dengan arah ± 90° - 140° dengan rata-rata kecepatan 5-16 knot/jam
VI DEMOGRAFI
Pertambahan penduduk Kota dari tahun ke tahun cukup tinggi, pada akhir tahun 1999 jumlah penduduk Kota 490.433 jiwa dan sampai pada akhir Juni 2000 tercatat penduduk Kota Yogyakarta sebanyak 493.903 jiwa dengan tingkat kepadatan rata-rata 15.197/km²
Angka harapan hidup penduduk Kota Yogyakarta menurut jenis kelamin, laki-laki usia 72,25 tahun dan perempuan usia 76,31 tahun

LAMBANG KOTA YOGYAKARTA

Dasar Hukum
Ketetapan DPRD Nomor 2 Tahun 1952 tentang Penetapan Lambang Kota Praja Yogyakarta
Makna Lambang
1. a. Perbandingan ukuran 18 : 25 , untuk memperingati tahun permulaan perjuangan Pangeran Diponegoro di Yogyakarta (tahun 1825)
b. Warna Hitam : Simbol Keabadian
Warna Kuning dan Keemasan : Simbol Keluhuran
Warna Putih : Simbol Kesucian
Warna Merah : Simbol Keberanian
Warna Hijau : Simbol Kemakmuran
2. Mangayu Hayuning Bawono : Cita-cita untuk menyempurnakan masyarakat
3. a. Bintang Emas : Cita-cita kesejahteraan yang dapat dicapai dengan usaha dibidang kemakmuran
b. Padi dan kapas: Jalan yang ditempuh dalam usaha kemakmuran pangan dan sandang
4. Perisai : Lambang Pertahanan
5. Tugu : Ciri khas Kota Yogyakarta
6. a. Dua sayap : Lambang kekuatan yang harus seimbang
b. Gunungan : Lambang kebudayaan
- Beringin Kurung : Lambang Kerakyatan
- Banteng : Lambang semangat keberanian
- Keris : Lambang perjuangan
7. Terdapat dua sengkala
a. Gunaning Keris Anggatra Kota Praja : Tahun 1953 merupakan tahun permulaan pemakaian Lambang Kota Yogyakarta
b. Warna Hasta Samadyaning Kotapraja : Tahun 1884

FLORA DAN FAUNA IDENTITAS KOTA YOGYAKARTA


Dalam rangka menumbuhkan menjadi kebanggaan dan maskot daerah telah ditetapkan pohon Kelapa Gading (Cocos Nuciferal vv.Gading) dan Burung Tekukur (Streptoplia Chinensis Tigrina) sebagai flora dan fauna identitas Kota Yogyakarta

Keberadaan pohon Kelapa Gading begitu melekat pada kehidupan masyarakat Yogyakarta, karena dikenal sebagai tanaman raja serta mempunyai nilai filosofis dan budaya yang sangat tinggi, sebagai kelengkapan pada upacara tradisional/religius, mempunyai makna simbolis dan berguna sebagai obat tradisional.

Burung tekukur dengan suara merdu dan sosok tubuh yang indah mampu memberikan suasana kedamaian bagi yang mendengar, menjadi kesayangan para pangeran dilingkungan kraton. Dengan mendengar suara burung tekukur diharapkan orang akan terikat kepada Kota Yogyakarta