Rabu, 15 April 2009

Beksan Guntur Segara

Salah satu jenis tari yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I di Kraton Yogyakarta. Penari dalam Beksan Guntur Segara berjumlah empat orang pria. Perlengkapan yang digunakan berupa senjata, antara lain : gada, bindi dan tameng.

Busana yang dikenakan oleh penari beksan; ikat kepala berbentuk tepen, kelat bahu candrakirana, celana cindhe, kain batik poleng, sonder cindhe, buntal keris gayaman, sabuk, bara cindhe, kamus timang dan kawung cindhe.
Cerita dari Beksan Guntur Segara bersumber pada cerita panji atau wayang gedog. Dikisahkan bahwa seseorang pangeran putra raja Jenggala dari Ibu Wandansari bernama Raden Jayasena mencari ayahnya, raja Jenggala.Raja Jenggala belum mau mengakui Jayasentana sebagai anaknya sebelum dapat mengalahkan Raden Guntur Segara, anak Raden Brajanata. Perang pun terjadi. Dalam perang tanding itu tiada yang kalah maupun yang menang. Akhirnya Jayasena diakui sebagai putra Raja Jenggala.

Beksan Sekar Medura

Tari putera yang para penarinya membawa botol minuman, ditarikan oleh 8 penari putera. Disebut juga Beksan Gendul. Penyebutan Beksan Gendul ini didasarkan pada perlengkapan yang digunakan yaitu berupa Gendul atau botol serta gelas kecil atau sloki. Beksan Sekar Medura merupakan salah satu bagian dari Beksan Lawung. Ciri khas Beksan Gendul atau Beksan Sekar Medura terletak pada perlengkapan yang digunakan berupa botol (gendul) dan gelas kecil (sloki). Perlengkapan tersebut menunjukkan bahwa para prajurit setelah perang dan menang lalu bersenang-senang dan saling menghibur dengan minum-minuman keras.

Penari dalam Beksan Sekar Medura berjumlah delapan orang pria, terdiri empat penari alus dan empat penari gagah. Penari yang paling depan dalam Beksan Sekar Medura disebut Batak atau pemimpin dua orang yaitu satu orang penari alusan dan satu orang gagahan.

Pemberian nama Beksan Sekar Medura diambil dari nama-nama prajurit Sultan Hamengku Buwana I dan Makasar, Bugis yang berasal dari Madura. Prajurit-prajurit inilah yang telah membantu Sultan Hamengku Buwana I selama 9 tahun ( 1746-1755) melawan Belanda.

Busana yang digunakan untuk penari alusan terdiri dari : tepen disertai hiasan sisir dan bunga di belakang, rambut di kepang berbentuk kadhal menek, kelat bahu kulit pradya, kalung sungsung tiga, kamus timang, keris branggah dan onten, kain parang rusak (supit urang), celana panji-panji cindhe warna merah, lonthong cindhe warna merah, bara, sondher cindhe warna merah. Adapun busana untuk penari gagah terdiri dari : tepen dengan hiasan sisir dan bunga di belakang rambut berbentuk kadhal menek sumping grompolan,kelat bahu kulit, kalung tanggalan, kaweng, kamus timang lontong, atau stagen cindhe warna merah,bara, celana panji-panji cindhe warna merah, buntal, keris, bancehan topengan, oncen.

Bahasa yang dipergunakan dalam pocapan atau dialog pada Beksan Sekar Medura menggunakan bahasa campuran yaitu Bahasa Melayu, Madura, Bagelen, dan Bahasa Bagongan. Gending yang dipakai sebagai iringan Beksan Sekar Medura adalah cengbarong laras slendro pathet sanga kendhangan candra rara ciblon. Beksan ini diawali dan diakhiri dengan lagon. Beksan Sekar Medura untuk alusan menggunakan ragam gerak tari putra alus dan gagahan menggunakan gerak tari putra gagah.

Beksan Lawung Alit

Disebut juga Beksan lawung alus.Beksan Lawung Alus ( alit) ditarikan oleh 16 orang penari, terdiri dari 4 orang penari sebagai ploncon atau pengampil. 4 orang penari sebagai lawung jajar, dan 4 orang penari sebagai lawung lurah. Tata laku Beksan lawung alus sama dengan Beksan lawung ageng. Penyajiannya dimulai dari Beksan penari lawung jajar, setelah selesai dilanjutkan beksan penari lawung lurah. Penari ploncon atau pengampil bertugas menyiapkan dan membawa lawung yang akan dipakai menari maupun bertanding oleh para penari lawung jajar. Seperti halnya Beksan Lawung Ageng, Beksan Lawung Alit juga terdiri dua bagian yaitu lawung jajar dan lawung lurah.

Busana yang berkenalan penari dalam Beksan Lawung Alit, pada dasarnya sama dengan tata busana tari klasik Yogyakarta.

(1) Lawung Lurah mengenakan : iket tepen, kamus timang, kalung sungsung, kelat bahu, keris, celana panji-panji cindhe kain parang kesit, sabuk, bara, sampur cindhe.

(2) Lawung jajar mengenakan : iket tepen, celana panji-panji bermotif cindhe, kain kawung, sabuk, bara, kamus timang, sampur cindhe, kalung sunsung, kelat bahu, keris.

(3) Ploncon memakai : iket tepen, tanpa hiasan,celana, sampur, kain polos.

Bahasa yang dipergunakan dalam pengantar Beksan Lawung Alus adalah Bahasa Jawa. Gamelan yang dipakai untuk mengiring beksan ini adalah Kia Guntur Sari berlaras pelog. Gamelan ini memiliki 16 saron ( metalofon berukuran besar, sedang dan kecil). Untuk mengiringi Beksan Lawung dilengkapi dengan genderang. Gending pengiring Beksan Lawung Jajar menggunakan gending Arjuna Asmara. Kedua gending ini termasuk dalam gending-gending sabrangan dan berbentuk lanrang yaitu gongan terdiri tiga puluh dua pukulan balungan, empat kenong, dan tiga kempul, dengan adu lawung menggunakan gending gangsaran. Ragam gerak Beksanl lawung alus menggunakan ragam tari putra alus yaitu ragam tari impur.

Beksan Trunajaya

Disebut juga Beksan Lawung Ageng atau Beksan Lawung Gagah. Dinamakan Beksan Trunajaya karena pada zaman dahulu para penari diambilkan dari regu Trunajaya yang merupakan bagian dari pasukan ( prajurit) Nyutra. Pasukan ini merupakan gudang penari waktu itu hingga sebelum perang dunia masih tampak sangat erat hubungannya dengan seni tari. Nama-nama anggota pasukan diberi nama wayang semua dan mereka masih ditugaskan melayani para penari wayang wong dalam hal membenahi para penari, melayani properties seperti senjata, dampar dan lain-lain yang digunakan dalam pagelaran. ( lihat Beksan Lawung).

Beksan Trunajaya diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I. Beksan ini didasarkan menurut nama golongan abdi dalem Tarunajaya( Taruna berarti muda, dan jaya berarti menang), sesuai dengan sifat tarinya yang mempergunakan senjata lawung ( semacam tombak), yang mengesankan latihan perang-perangan. Tarian ini dilakukan oleh 42 orang pelaku ( menurut J. Groneman ) bertempat di Kepatihan Danurejan . Pada waktu sesudah upacara perkawinan Kraton apabila Sri Sultan menantu.

Beksan Trunajaya menurut B.P.H Surybrongto diciptakan karena adanya inspirasi dari perlombaan watangani. Watangan adalah perlombaan ketrampilan antar prajurit dengan mempergunakan watang atau lawung ( tongkat dengan panjang kurang lebih 3 m berujung tumpul). Sultan Hamengku Buwana I mengambil nama Beksan Trunajaya dengan maksud untuk menanamkan semangat dan jiwa dari Madura yang mempunyai cita-cita untuk melanjutkan perjuangan Sultan Agung dalam membela tanah airnya melawan Belanda ).

Semangat perjuangan yang mengesankan Sultan Hamengku Buwana I, sehingga salahsatu pasukannya dengan nama Trunajaya, dan sekaligus untuk menyebut Beksan ciptaannya dengan sebutan Beksan Trunajaya.
Pementasan Beksan Trunajaya biasanya di pendapa dan membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam. Beksan Trunajaya ( Lawung Ageng ) ditarikan oleh 16 orang penari dengan ragam gerak gagah yang dikelompokkan sebagai berikut :
(1) Empat penari jajar dengan gerak tari ragam bapang.
(2) Empat penari lurah dengan gerak tari ragam kalang kinantang.
(3) Empat penari ploncon ( pembawa lawung) dengan ragam gerak tari kalang kinantang.
(4) Dua penari botoh dengan ragam gerak kalang kinantang.
(5) Dua orang sebagai penari salaotho (pelayan/abdi/pembantu) memakai ragam gerak bebas atau tidak kaku, sebab gerakannya mengikuti gerakan penari botoh. Selama menari, botoh membawa tongkat pendek (teken) dan salaotho membawa ampilan yaitu kotak berisi uang taruhan.

Rias dan busana yang dipergunakan adalah rias dan tradisi Yogyakarta. Busana tersebut dapat dipakai untuk membedakan karakter dan tokoh-tokoh tarinya. Adapun busana yang dinekanan dalam Beksan Lawung ageng adalah sebagai berikut :
(1) Botoh mengenakan : songkok narendra memakai hiasan bludiran, sumping roni, kalung, sungsuh tiga, kelat bahu, celana cindhe, kain parang rusak barong, bara, sampur teken, dhuwung branggah, buntal, ditambah tongkat atau teken untuk memberi aba-aba kepada jajar atau lurah, ikat kepala songkok.
(2) Lurah mengenakan : tepen kodhok bineset pareanom, kalung tanggalan kelat bahu ngangrangan, kaweng cindhe, celana cindhe, kain parang gurdha, bara, kamus timang, dhuwung gayaman, sampur cindhe.
(3) Jajar memakai : tepen kodhok bineset warna biru tua, kawng, kalung tanggalan, kelat bahu, celana cindhe, kain kawung gurdha, bara, kamus timang, buntal, dhuwung gayaman, ditambah klinthing.
(4) Ploncon memakai : tepen kodhok, bineset warna coklat, celana panji-panji bermotif cindhe, kain parang rusak alit atau klithik dengan cara pakai supit urang, kaweng polos, bara, buntal, kalung tanggalan sondher.
(5) Salaotho memakai celana panjang polos warna putih dan baju dengan panjang polos, kain bermotif bangpangan, membawa sapu tangan disampirkan di pundak peti atau kotak kecil berisi uang.
Karakter yang menjiwai Beksan lawung ageng untuk jajar gerakannya ekspresif, dinamis dan penuh semangat, sedangkan karakter gerak untuk lurah tenang, yakin dan pasti. Botoh sebagai pimpinan harus dapat bersikap tegas dan berwibawa. Dalam Beksan Lawung ageng digunakan bahasa campuran Madura, Melayu, Bugis dan Makasar dan Jawa. Penggunaan bermacam-macam bahasa yang berkaitan dengan hubungan kekuasaan antara kerajaan Mataram dengan kerajaan-kerajaan bawahan atau taklukan.

Beksan lawung ageng terdiri dari dua bagian yaitu bagian lawung jajar dengan menggunakan gendhing gangsangan dhawuh(masuk) gedhing ronong tawang dengan menggunakan rog-rog asem dan untuk perangan menggunakan gendhing gangsangan. Untuk maju mundurnya para penari dari pendapa sebagai arena pentas diiringi dengan lagon untuk menambah greged pertunjukan. Sedang keprak digunakan untuk aba-aba atau sebagai penanda tertentu bagi penari.

Lawung

Beksan Lawung. Tarian perang-perangan atau ulah yuda. Beksan Lawung merupakan salah satu beksan ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwana I. Beksan ini diilhami oleh keadaan waktu dimana ada kegiatan prajurit-prajurit sebagai abdi dalem raja selalu mengadakan latihan watangan, berlatih ketangkasan berkuda dengan membawa watang atau lawung, yaitu sebuah tongkat panjang kurang lebih 3 m berujung tumpul, dan silang menyodok untuk menjatuhkan lawan.
Dialog yang digunakan merupakan campuran dari bahasa Madura, bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Beksan ini oleh Sri Sultan dijadikan Beksan ceremonial yang sangat terhormat, bahkan menjadi wakil pribadi dan Sri Sultan pada resepsi perkawinan agung pada hari pertama di Kepatihan dimana menurut istidadat Jawa. Sri Sultan tidak boleh menghadirinya. Beksan ini lengkapnya terdiri 40 orang penari dan dibagi dalam 3 beksan yaitu: Lawung Ageng untuk gagahan dengan 16 orang penari, beksan sekar medura dengan 8 penari gagah dan alus: ke 3 beksan ini apabila dipentaskan lengkap akan memakan waktu 5 jam dengan iringan gamelan khusus yaitu Kiai Guntur Sri dengan suaranya yang antep mengalun selama pagelaran ini berlangsung para penari disamping sisi kiri kanan gamelan dilarang istirahat
Tari pria bersenjatakan lawung (tombak) pada umumnya dibawakan oleh 16 orang penari putera,dan beksan putra ini termasuk dalam tari upacara. Dahulu biasa dipergelarkan untuk merayakan resepsi perkawinan putra-putri sultan di kepatihan . Beksan lawung dipakai sebagai wakil raja dalam upacara pernikahan tersebut. Karena suatu hal yang tabu serta menghilangkan kewibawaan raja apila raja sampai hadir di kepatihan yang tingkat derajatnya berada di bawah raja. Karena beksan lawung dianggap sebagai wakil raja, maka tidak boleh dipentaskan di sembarang tempat.

Dalam perjalanan dari Kraton ke kepatihan para penari beksan lawung mengendarai kuda denag dipayungi sonsong gilap kebesaran dikawal oleh prajurit wirabraja dan diringi gamelan Kia Guntur Sari yang sepanjang jalan dibunyikan dengan melagukan gending –gendhing sabrangan. Beksa lawung secara lengkap terdiri dari 3 bagian yaitu (1)Beksa lawung alit (2) Beksa lawung ageng atau beksan lawung gagah atau beksa trunajaya( lihat Beksa Trunajaya), dan (3) Beksa Sekar Medura.

Beksa lawung diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana I yang memerintah dari tahun 1755-1792. Beksa ini merupakan usaha dari Sultan untuk mengalihkan perhatian Belanda terhadap kegiatan prajurit Kraton Yogyakarta. Karena pada masa itu dalam suasana perang, sultan harus mengakui dan tunduk segala kekuasaan Belanda di Kasultanan Yogyakarta. Ia harus patuh pada segala perintah maupun peraturan yang telah ditentukan, termasuk olah keprajuritan. latihan keprajuritan dengan menggunakan senjata di larang oleh Belanda. Oleh karena itu sultan mengalihkan olah keprajuritan ke dalam bentuk beksan yaitu beksan lawung. Melalui beksa lawung ini sultan berusaha untuk membangkitkan sifat kepahlawanan prajurit Kraton pada masa perang tersebut.

Beksa lawung menunjukkan semangat dan keberanian melalui gerakan-gerakan tari. Oleh karena itu tema dalam Kraton khususnya Beksa Lawung kebanyakan bertema kepahlawanan. Beksa berisi sindiran-sindiran halus sebagai ungkapan rasa tidak senang sultan terhadap pembesar-pembesar Belanda di Kraton Yogyakarta. Selain itu, Beksa Lawung diangkat sebagai tari ritual wakil sultan dalam upacara perkawinan putra dan putrinya, bukan semata-mata sebagai wakil yang wadang tetapi juga wakil kawruh urip yang harus dicerna oleh kedua mempelai lewat keseluruhan pagelaran. Hakekat pesan ini secara transparan diutarakan lewat lewat lagon diawal pertunjukan Beksa Lawung sebagi petuah sultan tentang perkawinan yang diakhiri dengan simbol kesuburan . Dalam Beksa lawung disimbolkan dengan tongkat atau lawung, dan perempuan dilambangkan dengan tanah. Tanah sebagai bumi sering disebut ’ ibu pertiwi ’, lambang keperempuan.

Dalam latihan Beksa lawung diberikan kepada prajurit-prajurit peleton/ pasukan Trunajaya sehingga Beksa Lawung atau Beksa Trunajaya itu berubah menjadi Beksa lawung ageng dikarenakan hadir Beksa lawung alit dan Beksa Sekar Madura sebagai bvagian dari beksa lawung secara keseluruhan. Sebagai akibat orang seringkali menyebut Beksa lawung diidentikkan dengan Beksa lawung ageng.

Pada tahun 1918 berdiri perkumpulan Kridha Beksa Wirama, sehingga Beksa lawung boleh dipergelarkan dan diajarkan kepada orang lain di luar Kraton atas izin Sultan Hamengku Buwana VII. Sejak itulah kesenian istana, khususnya Beksa Lawung, makin banyak diminati dan maju pesat. Perkembangan selanjutnya Beksa Lawung dipentaskan untuk para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga terjadi pemadatan waktu pentasnya.

Joyo Semedi

Joyo Semedi, Lakon, Lakon Wayang Wong yang dipergelarkan dan diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I. Lakon Jaya Semedi adalah sebuah lakon carangan wiracarita mahabarata yang menggambarkan hilangnya Arjuna (Janaka) yang mengakibatkan datangnya para pelamar yang menginginkan Wara Sumbadra, istri pertama Arjuna. Lakon Wayang Wong Jaya Semedi merupakan salah satu lakon terpanjang yang berlangsung selama empat hari pada pertunjukan wayang wong diistana Yogyakarta tahun 1923

Ganda Werdaya

Ganda Werdaya, lakon wayang wong, Bentuk pementasan wayang wong secara massal. Bentuk tariannya berupa cerita cerita kepahlawanan, kisahnya diambil berdasarkan Ephos Mahabarata. Tujuan lakon ini adalah untuk menanamkan jiwa dan sifat kepahlwanan dari satria-satria pandhawa yang gagah berani. Lakon Gondowerdoyo diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I

Lakon Gondowerdoyo atau Gandawardaya merupakan sebuah lakon carangan atau cerita cabang dari wiracarita mahabarata yang menggambarkan pertikaian antara dua saudara tiri, yaitu Gandawardaya dan Gandakusuma. Keduannya adalah putera Arjuna dari dua orang ibu yang berbeda. Ketika drama tari wayang wong dengan lakon Gandawardaya dipergelarkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I pada sekitar tahun 1847 untuk memperingati berdirinya, Kraton Yogyakarta, pertunjukan itu adalah sebuah ritual kenegaraan.

Kanjeng Raden Tumenggung Jayadipura

Kanjeng Raden Tumenggung Jayadipura, Seniman istana yang jenius, yang berhasil menciptakan tata busana wayang wong Istana Yogyakarta yang sangat megah. Tata busana wayang kulit, sehingga memudahkan penonton untuk membedakan peran yang satu dengan yang lainnya. Bukan hanya tokoh-tokoh kesatria saja yang dicipta tata busananya, tetapi juga tokoh-tokoh raksasa, binatang bahkan juga pentas ( Stage props) berupa goa pertapaan, laut, pemandangan alam, teknik-teknik kelengkapan pentas yang menajubkan. Segala macam binatang buas penghuni hutan dibuat dengan ukuran yang sangat besar. Burung Garuda yang kadang-kadang menjadi ciri kemegahan wayang wong gaya Yogyakarta ada lima yang diciptanya, yaitu Garuda Yaksa berwarna merah, garuda winantiya berwarna putih, Garuda wilmuka berwarna merah, garuda wildata berwarna hijau, dan Garuda Sura berwarna kuning. Kelengkapan-kelengkapan pentas yang lainnya ialah goa pertapaan, bukit, taman yang dibuat mirip dengan keadaan yang sesungguhnya, panah api, dan sebagainya.

Sudharso Pringgobroto

Sudharso Pringgobroto. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 21 Juni 1921, putera seorang Asisten Wedhana di Tempel Sleman. Orang tuannya bernama R. Pringgopiyogo, yang menjabat asisten wedana sejak tahun 1972 dan dikenal sebagai seorang Penayub (tukang Nayub) yang baik, pemegang peran utama dalam pementasan yang berbentuk drama tari.

Sebagai seorang yang berdarah seni Sudharso mulai belajar menari pada tahun 1937 pada organisasi tari Jawa Kridha Beksa Wirama di bawah asuhan GBH Tedjokusumo. Disamping itu, juga belajar menari dan menabuh gamelan di Dalem Purwonegaran di bawah asuhan K.R.T. Purwonegara. Selain itu, ia belajar tari pada guru-guru antara lain : BPH. Suryodiningrat, K.R.T Soeryomurtjito dan Bapak Suyadi Hadisuwanto.

Sudharso duduk sebagai Formatur Dewan Ahli dalam perencanaan berdirinya organisasi Irama Tjitra dan sebagai pengajar ketika organisasi telah berdiri. Disamping itu, juga mengajar tari diperguruan Taman Siswa dan karya-karya tari yang telah diciptakan antara lain : Tari Sari Mawur ( putri), tari serimpi, tari sayungan, dan beksan Enjeran. Karya yang berbentuk bedayan antara lain: Bedaya Dewa Ruci ( 1951), Bedaya Revolusi dan Bedaya berdirinya Taman Siswa. Sedangkan yang berbentuk drama tari antara lain : Cerita Panji Djayalengkara (1952). Sendratari Gandakusuma, sendratari Guru gantangan, Sendra tari Gading Pawukir dan sebagainya. Kesemuanya itu diciptkan semasa berdirinya organisasi tari Irama Tjitra.

Raden Wedono Larassumbogo

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya bernama R. Hardjo. Mempelajari gamelan ( Karawitan) Sejak usia 11 tahun di bawah asuhan K.R.T Purboningrat, dan kemudian dimagangkan dalam Kraton Yogyakarta.

Pada tahun 1904 oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VII, RW. Larassumbogo diangkat menjadi Abdi Dalem Jajar Wiyogo . Tahun 1910 diangkat menjadi Bekel Enem. Tahun 1918 naik pangkat menjadi Bekel Sepuh oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VII pada tahun 1923 R.B Larassumbaga diangkat menjadi lurah dengan nama gelar Raden Lurah Larassumbogo dan akhirnya oleh Sri Sultan Hamengku Buwana IX diangkat menjadi wedono dengan nama dan gelar Raden Wedono Larassumbogo hingga meninggal dunia pada tanggal 10 Oktober 1958.

Ketika tahun 1917 di Yogyakarta berdiri perkumpulan ” Dwi Sawara”, R.W. Larassumbogo menjadi pemimpinnya. Selain Itu, ia pernah berkecimpung dalam perkumpulan karawitan seperti Doyo Pradonggo, Mudhoraras, Hadibudoyo, dan lain-lain. Keistimewaan R.W Larassumbogo selain menguasai setiap instrumen Jawa juga mahir memainkan gambang, bonang dan gender. Gendhing gendhing ciptaanya kurang lebih 35 macam diantaranya gending Ngeksi Gondo, Windu Haji, Teguh Jiwo, atau Tek Dhug. Disamping RW. Larassumbogo pernah membuat buku gendhing dan dikeluarkan oleh percetakan Kolf Jakarta.